Catatan Pinggir

Sebelumnya mohon maaf lahir dan batin yah, untuk yang baca ini, dimanapun anda berada.

Akhir-akhir ini issue agama lagi ngehits banget di kalangan netizen, ntah kenapa orang suka sekali berdebat soal itu. Tapi sudahlah, saya tidak berminat untuk membahas soal agama, toh saya bukan orang yang religius, lebih masuk golongan ibadah jalan, ngelakuin dosa tetep. Kadang Saya heran, agama kok dibuat menjadi multitafsir? Kenapa tidak dibuat lebih “sederhana”, sepeti ideologi-ideologi yang dibuat orang manusia lain, seperti Demokrasi, Komunisme, atau mungkin Pancasila yang lagi ngehits di-saya-saya-in. Siapa di antara kita yang memperdebatkan bagaimana Demokrasi dijalankan? Rasanya tidak ada yang permasalahkan, Indonesia memilih presiden 5 tahun sekali, padahal di negeri asalnya, Amerika, pemilihan presiden hanya 4 tahun sekali, dan tidak ada yang menyebut kita “Kafir Demokrasi”? Atau adakah diantara kita yang berdebat, kenapa Pancasila, mengisyaratkan kita untuk membentuk badan permusyaratan yang apabila memutuskan suatu perkara harus dengan cara bermusyarah, Padahal dalam kenyataannya mereka tidak pernah bermusyawarah? Tapi mungkin itu yang membedakan mana buatan manusia, mana buatan dzat yang maha. Dan bukan tidak mungkin agama dibuat rumit dan multitafsir agar semua manusia berpikir bahwa, Dzat yang maha itu, memang nyata… hemmmmmm

Ah sudahlah, ini cuma catatan pinggir.. Corat-coret gak penting..

Data untuk kehidupan dan nasib pendidikan

Selasa tanggal 30 Agustus kemarin, saya berkesempatan ikut konferensi yang bertajuk “Data For Life 2016”. Sebetulnya agak “tersesat” ikut acara itu, karena ternyata itu lebih cocok diikuti orang bisnis, bukan orang teknis macam saya, karena inti acaranya memperkenalnya, bagaimana data yang terdigitalisasi, akan menjadi bagian penting dalam hidup, terutama dalam bisnis.. tapi sudahlah, saya ikuti saja.

Acara dibuka oleh penampilan Ndah N Rhesaaaaa… Yang ternyata keren sekali.. Mereka membawakan beberapa lagu.. Untungnya mereka gak bawain lagu “when you love someone” bisa tiba-tiba langit mendung.. Hahha


Sesi selanjutnya adalah pidato pembuka dari yang punya acara, saya lupa namanya, tapi yang pasti dia CEO dari mediatrac, sebuah perusahaan big data yang ada di Indonesia.

Key note speaker tampil setelah pidato pembuka, dia berbicara tentang perubahan yang terjadi di dunia kita. Menurut dia, kita ada dalam perubahan digital, semua aspek kehidupan tidak bisa lepas dari itu, terutama bisnis. Katanya model bisnis yang ada sekarang bukan lagi model bisnis produksi – distribus – konsumsi, atau yang dia sebut dengan pipe bussiness model berganti dengan platform bussiness model. Model bisnis seperti ini berfokus pada interaksi para pemakai untuk menambah “nilai”, dari bisnis tersebut, hal ini mendorong terciptanya ekosistem bisnis. Ambilah contoh facebook, whatsapp, instagram, line of bussiness mereka berbeda-beda tapi sebetulnya mereka ada dalam satu ekosistem, yang itu menyediakan platform untuk orang-orang berinteraksi atau berbagi satu sama lain. Kira-kira seperti itu lah apa yang disampaikan oleh key note speaker. Sesi selanjutnya lebih ke presentasi sampai dimana data bisa digunakan untuk merubah banyak hal, seperti di bidang pemerintahan atau kesehatan.

Yang menarik di acara itu ada panel diskusi tentang pendidikan yang berbasis digital, pembicara yang dihadirkan berasal dari binus, ruangguru.com, oneindonesia.id, dan haruka edu. Kelima orang ini mempunyai platform untuk pendidikan, tujuannya mendorong akses pendidikan menjadi lebih mudah. Ketika acara ini berlangsung, ada pertanyaan besar yang muncul untuk dunia pendidikan Indonesia, ketika dunia menjadi lebih “cepat”, jarak ruang dan waktu yang semakin tidak berbatas, persaingan menjadi lebih ketat, tidak hanya dalam skala nasional, tapi juga internasional, menurut salah satu pembicara panel, di tahun 2020, anak-anak yang hari ini berusia 15-19 tahun, akan memasuki usia produktif, tapi siapkah mereka untuk persaingan itu? 

Ini tanda tanya besar untuk bangsa ini, sampai sekarang kita belum siap untuk persaingan yang luas. Ketika ada isu pekerja dari negeri sebelah akan masuk ke Indonesia, bangsa ini terlihat seperti ketakutan dengan hal itu, padahal di masa depan, padahal apa yang disebut pasar global, sudah berlangsung hari ini.

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi ekosistem pendidikan, baik itu orang tua, lingkungan dan tentu saja sekolah. Sekolah dituntut untuk “menciptakan” orang-orang berkemampuan baik, dan daya berdaya saing tinggi, siapkah sistem pendidikan yang ada hari ini? Ketika kita tahu, bahwa setiap anak mempunyai bakatnya masing-masing, bisa kah pendidikan kita mendorong mereka menemukan bakatnya sendiri-sendiri? Ini pertanyaan besar untuk pendidikan Indonesia. 

Sistem pendidikan seharusnya menjadi “pelatuk” untuk anak Indonesia menemukan siapa dirinya, bukan hanya tempat dimana kita dijejali bermacam-macam pelajaran, yang bahkan ketika dewasa, kita bahkan memakainya. Ini tantangan besar yang harus dijawab, dan harus dimulai secepatnya. Pertanyaan besar.. Siapkah kita untuk ini?

Interaksi Sosial Media

Siapa yang tidak mempunyai akun media sosial jaman sekarang? Hampir semua orang yang berusia di bawah 50 tahun, punya akun sosial media, baik itu twitter, facebook, path, bahkan sekarang platform blog wordpress, sudah menerapkan konsep sosial media ini.

Saya aktif “bermain” sosial media sejak rame-rame aplikasi Friendster (Siapa yang punya juga, ngacung?? :D). Semakin lama, perkembangan sosial media ini memang sangat pesat, komunikasi menjadi hal yang mudah dilakukan, bahkan banyak teman lama yang akhirnya bertemu kembali karena sosial media ini… yaa bertemu kembali.. heu :D. Selain dampak positif yang dibawa oleh keberadaan sosial media, pasti ada sisi negatif, banyak memang, tapi saya ingin fokus ke satu hal.. yaitu interaksi yang terlalu sering, hemmm saya tidak bermaksud untuk menyalahkan interaksi, karena interaksi berkaitan dengan silaturahmi, yang sebetulnya tidak boleh berhenti, tapi ada dampak yang menurut saya kurang bagus. Karena interaksi yang terlalu sering, maka sekarang ini sulit sekali mendapat “pikiran” yang unik, karena seringnya interaksi ini, hampir membuat semua orang punyai pikiran yang sama, jadi apa yang dituliskan di sosial media itu hampir semua sama,,, membosankan.

Saya pernah belajar tentang pola interaksi ini, teorinya, semakin mudah akses antara dua kota, maka akan semakin banyak kemiripan yang ada diantara kota-kota itu, karena adanya interaksi. Teori ini tidak hanya berlaku dengan kota tersebut, tapi juga individu yang ada di dalamnya. Misalnya Bandung dan Jakarta, sebelum ada tol Cipularang, dan sesudahnya, terasa sekali berubahannya.. bahkan sekarang hampir semua yang ada di Jakarta, ada di Bandung.. cuma Pantai dan Ahok yang tidak ada.. hahah becanda :mrgreen:. Sosial media membuat jarak tidak lagi berarti, semua orang bisa berinteraksi dengan siapapun dimanapun, dan akan saling mempengaruhi, ini yang membuat sosial media menjadi membosankan.. Hampir tidak ada warna…

Tulisan ini sebenernya puncak kebosanan saya dengan TL twitter.. semua orang membahas hal yang sama, tidak seperti dulu.. kadang ada akun yang menulis hal-hal lucu, kadang hal romantis, kadang sedih, atau hal-hal random..  begitu berwarna, begitu ramah..

Sempat terpikir untuk hiatus saja dari sosial media.. Seperti om om sebelah 😆 eh tapi saya yakin dia hiatus bukan karena bosan dengan sosial media, tapi menghindari akun mantan yang udah punya pacar lagi.. *ketawa keras* *kabur*

 

Pencarian Pintar

Beberapa hari ini saya disibukan dengan kerjaan yang lebih “menguras” pikiran. Biasanya saya mengerjakan pengolahan data biasa, hemm semacam, pengumpulan data, lalu mengolahnya, dan jadi sebuah laporan informasi. Tapi kali ini saya mendapatkan pekerjaan yang berbeda. Saya sedang mengembangkan semacam sistem pencarian, yang dapat mempelajari ketertarikan pengguna, yang hasil akhirnya akan menampilkan hasil pencarian yang sesuai dengan ketertarikan dari pengguna… bingung?? Oke..

Misalnya begini, jika kamu mengetik nama sebuah kota, maka hasil pencariannya adalah tujuan wisata yang ada di kota itu, setiap tujuan wisata mempunyai kategori, misalnya wisata kota, pantai, gunung, belanja, dan lainnya, katakan lah pengguna itu memilih tujuan wisata berkategori pantai, lalu dia mencari kota yang lain, dan memilih wisata pantai lagi, maka sistem akan mengindentifikasi bahwa pengguna itu menyukai pantai, maka pada pencarian-pencarian selanjutnya, hasil yang ditampilkan pertama adalah tujuan wisata pantai, baru tujuan wisata lainnya, semakin sering pengguna itu memakai sistem ini, semakin “mengenal” dia, dan itu artinya setiap pengguna akan mendapatkan hasil yang berbeda, sesuai dengan ketertarikannya. Ini seperti pencarian pada google.. hanya saja lebih kecil.. tidak secanggih google memang, tapi setidaknya lebih pintar, dari pada sistem pencarian biasa.

Ini mulai seperti skripsi.. haha.. Waktu pertama kali saya mendapat penjelasan tentang pekerjaan ini, saya teringat kepada salah satu skripsi yang saya kerjakan.. ya salah satu.. karena dulu saya pernah mendapat orderan untuk mengerjakan skripsi mahasiswa lain.. hemmm sepertinya saya pernah bercerita soal ini, di cerita yang sebelum-sebelumnya.. heu.. Skripsinya tentang bagaimana sistem menentukan pegawai mana yang bisa dipromosikan jabatannya, dinilai dari beberapa kategori yang ada dalam si pegawai itu. Sistem yang sekarang saya kembangkan mirip-mirip seperti itu, jadi algoritma dasarnya saya ambil dari situ, tapi dengan sedikit penyesuaian.

Sistem yang saya kembangkan ini, sebenernya bisa dijadikan skripsi, yaaa siapa tahu ada mahasiwa IT tingkat akhir lagi galau nyari tema skripsi, lalu baca tulisan ini, boleh kita berdiskusi, pasti banyak pengembangannya, dengan berbagai macam metode.. Ini akan menjadi menarik..

Panutan

Beberapa tahun lalu saya sempat mengikuti sebuah seminar tentang minat dan kemampuan, kebetulan pembicaranya seorang psikolog. Dalam salah satu bagian, Beliau berbicara tentang panutan, atau idola. Menurut Beliau, idola ini turut membentuk karakter, motivasi, dan minat seseorang.

Beberapa hari/minggu lalu, ada seorang yang menjadi viral di media sosial, karena dia mengunggah video kesedihan karena diputuskan pacarnya. Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan itu, sampai tadi pagi.

Saya membaca artikel wawancara orang yang jadi viral ini. Dalam wawancara itu dia berbicara tentang banyak hal, salah satunya tentang video dan fotonya yang tidak bermoral, Dia bilang moral adalah urusan manusia dan tuhan. Betulkan jika saya salah, tetapi setau saya moral berhubungan dengan sikap dan perilaku. Mungkin orang ini pengen bilang, “tindakan gue itu urusan gue”. Iya sih apa yang mau dia lakuin ya terserah dia, dan dengan follower yang lebih dari 160ribu orang, mungkin saja dia sudah jadi idola bagi sebagian orang, andai hanya ada 10% dari followernya bener-bener menjadi idola, secara tidak langsung dia akan mempengaruhi 16ribu orang, itu bukan jumlah yang sedikit.

belum lagi dia berbicara tentang pendapatannya yang membuat para kelas pekerja yang pergi pagi pulang sore, sadar kalau mereka cuma jadi budak para kaum kapitalis, dan aktivis MLM yang selalu berbicara pasive income dan bonus kapal pesiarnya, memaki upline mereka karena tidak dua hal tersebut tidak pernah terwujud. Dengan besaran pendapatan seperti itu sudah pasti dia akan menjadi idola, bahkan mungkin menjadi mimpi sebagian penduduk Indonesia.

Kita hidup di Indonesia, yang notabene punya batasan-batasan tentang prilaku seseorang, ada norma sosial yang sudah lama kita anut, dan prilaku orang ini jauh menerobos batasan-batasan itu, hal-hal seperti ini yang ditakutkan malah menjadi contoh untuk yang lain, saya tidak bisa membayangkan jika perilaku sebebas itu masuk ke masyarakat kita, karena hal negatif sering kali lebih mudah untuk diterima, dan dicontoh. Kita tidak mungkin melakukan protes atas apa yang dia lakukan, yang bisa kita lakukan terus berusaha untuk menjadi dewasa, dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk. selama kita tahu batasan, rasanya kita tidak perlu takut dengan hal-hal negatif tersebut, bukan?

Tapi mari kita berusaha adil dalam pikiran, walaupun dengan prilaku yang… jauh di luar norma sosial masyarakat Indonesia, ada hal positif yang bisa kita ambil dari Dia, seperti dia berani memilih hidupnya sendiri, dia menemukan apa yang dia suka, dan menjadi… kalau anda termasuk menilai kesuksesan dari materi, bisa dibilang dia sangat sukses, apalagi dengan usianya yang masih belasan, tidak banyak yang bisa seperti itu. Untuk hal positif itu saya salut sama Awkarin ini.

Uang Masjid, Dikemanakan?

Lebaran sebentar lagi.. Berpuasa dengan gembira..

Masjid.. Kita kenal masjid adalah tempat beribadah bagi orang yang beragama Islam, pusat keagaaman, pusat pendidikan, bahkan mungkin pusat “pembersihan” harta untuk umat muslim.

Saya memang bukan orang yang rajin masuk masjid, tapi minimal satu minggu sekali pasti saya masuk masjid untuk sholat Jum’at. Ada satu hal yang selalu “menggelitik” Saya. Ada beberapa masjid yang saya datangi, ternyata mempunyai uang kas, yang cukup banyak, jumlahnya bisa mencapai puluhan, bahkan mendekati ratusan juta rupiah. Lalu Saya berpikir, itu uang sebanyak itu kira-kira untuk apa ya? Memang jika ada masjid yang mempunyai uang kas puluhan juta, pasti masjid yang mempunyai bangunan besar dan bagus. Bangunan yang bagus memang menjadi daya tarik sendiri untuk umat datang ke masjid tersebut, tapi apakah dana masjid hanya untuk itu? Hanya untuk membangun dan memperbaiki masjid? Saya tidak tahu apakah ada ketentuannya, atau bagaimana.. Hanya saja kalau dipikir uang sebanyak itu, kalau hanya diendapkan, apakah bermanfaat? Bukannya umat Islam diperintahkan untuk mengeluarkan sebagian hartanya selain untuk “membersihkan” harta, juga agar bermanfaat untuk yang lain?

Kadang ragu untuk menyumbang ke masjid yang uang kasnya banyak banget, kalau dipikir, itu uang pasti ada di Bank, bukan di bawah bantal ketua DKM, dan pasti dapat bunga yang lumayan.. FYI yah.. walaupun banknya syariah, tetap saja ada bunga tabungan, walaupun nama dan konsep perhitungannya berbeda.. Artinya uang yang diendapkan itu akan terus bertambah.. tapi bukan karena itu juga saya ragu untuk menyumbang, tapi apakah uang saya akan bermanfaat, jika diberikan ke masjid? Ada ironi ketika suatu masjid yang cukup “kaya”, menggelar pesantren kilat, dan tetap menarik biayanya dari peserta, apakah uang kas masjid tidak boleh digunakan untuk kegiatan tersebut? Atau yang lebih lucu, ketika laporan keuangan masjid dipampang di selembar kertas, ditulis keperluan aksesoris mencapai jutaan, lalu ada tulisan sumbangan untuk orang sakit, yang jumlahnya tidak lebih dari satu juta rupiah,…. Kalau dibilang, ini rasanya pelit.. Bagaimana umat mempunyai rasa dermawan yang tinggi jika pusat pendidikan agamanya saja, se-tidak-dermawan itu?

Mungkin saya salah dengan pemikiran ini, mungkin memang ada dalil, hadist, atau bahkan ayat yang menerangkan bahwa dana yang ada di masjid, tidak boleh digunakan oleh apapun, selain untuk keperluan (bangunan) masjid. tapi apakah tidak lebih bermanfaat jika dana yang terkumpul digunakan untuk beasiswa pendidikan misalnya, atau kegiatan sosial lainnya. Pasti akan lebih seru ketika uang yang ada digunakan untuk kegiatan sosial, lalu diberitakan.. lalu ada kalimat yang bilang “Terima kasih telah menyumbang, ayo menyumbang lebih banyak, agar senyum ini terus ada”.