Empat Maret Dua Nol Satu Tujuh

Semua orang pasti punya hari spesial, minimal satu hari dalam setahun.

Ya.. Empat Maret ini nambah umur satu, rasanya memang berbeda, tidak lagi seperti terasa seperti anak kecil yang seneng banget kalau dikatain makin dewasa.. Ahh dewasa.. 

Ultah ngapain nih? Gak ngapain-ngapain sih.. Cuma dengerin orang ngobrol pake bahasa jawa.. Anjisss urang teu ngarti!

#30DaysMusicChallenge #Day29

Day 29 : A song that you remember from your childhood

Senang, riang, hari yang kunantikan, kusambut hari yang cerah..

Sherina ~ Kembali Ke Sekolah kalau denger lagu ini, saya selalu inget ketika diantar ke sekolah, karena lagu ini yang biasa diputar di mobil, lagu jaman SD sih.

SD saya dulu ada di belakang pasar, di depannya sekolah itu ada tempat pembuangan sampah, kalau pagi-pagi aroma “harum” dari tumpukan sampah biasanya sampai ke kelas yang berada di ujung bangunan, dekat dengan tempat sampah itu. Sekolahnya memang tidak terlalu kumuh, walaupun beberapa bangunan kelas, kondisinya tidak bagus, halamannya masih berubah tanah, penuh dengan gambar-gambar untuk permainan sondah, kalian tahun sondah? Itu lho permainan yang mengharuskan kita lempar benda, ke kotak, lalu kita harus melompat-lompat dengan satu kaki. Biasanya yang main anak perempuan, tapi kadang anak laki-laki juga ikutan main.

Terakhir kali saya datang ke SD itu, sekitar 7 tahun lalu, setelah 9 tahun lulus dari SD, waktu itu keadaannya memang berubah, halaman tanah berganti dengan paving blok, tidak ada lagi gambar untuk permainan sondah, dan tempat yang biasa dipakai untuk lompat jauh, sudah hilang.

Keadaan bangunan SD itu memang berubah, tapi cerita-cerita waktu SD tetap ada, dan akan selalu ada.. masih hangat seperti pertama kali masuk, duduk di bangku dengan orang yang sama sekali tidak dikenal.. dan satu pertanyaan untuk pertama kalinya… Eh Eta namina saha?

 

 

Cerita Dadu Part 2

Melewati Utara dan Selatan

Lagi iseng liat-liat isi dari google drive, disana ada catatan itenary untuk jalan keliling sebagian pulau jawa pake mobil, jalurnya Bandung – Yogyakarta – Solo – Semarang – Bandung. Tapi rencananya gagal karena.. Lupa karena apa. Rencana itu baru terlaksana September kemaren (2015). Rasanya itu perjalan paling jauh bawa mobil sendiri, melewati 2 jalur yang karakteristiknya beda banget, jalur selatan dan jalur utara. Jalur selatan adalah jalur yang relatif sepi, sebagian jalur itu melewati hutan yang minim penerangan. Sedangkan jalur utara lebih ngota karena memang jalur utama distribusi barang, jadi lebih rame, malah sampai macet, karena perbaikan jalan yang tidak pernah selesai.

IDEABOX

Ideabox adalah sebuah program akselerasi start-up. Mendapat kesempatan untuk sampai masuk ke bootcamp ideabox, adalah sebuah keberuntungan. Walaupun tidak sampai ke tahap selanjutnya, tapi disana cukup mendapat banyak ilmu yang didapat dari sana, selain itu dapat koneksi baru, dan banyak orang yang mau membantu untuk mengeksekusi sebuah ide menjadi lahan pekerjaan.

Pindah

Sebuah keputusan yang dibuat dengan mengorbankan beberapa hal, untuk beberapa hal. Memutuskan untuk “memberi makan” sebuah ego, dengan mengorbankan semua kenyaman yang didapat selama dua tahun ini, bisa jadi menjadi sebuah kesalahan bodoh. Tapi setelah terus dipikirkan, mungkin ada baiknya mencoba, dan berjuang untuk diri sendiri. Hal-hal besar selalu ada di luar kotak nyaman, dengan semua kesempatan yang bisa didapat, menjadikan semua resiko atas sebuah pilihan  menjadi  layak untuk dicoba.

Penerbangan Pertama

Seharusnya tulisan ini dibuat, sekitar 2 tahun yang lalu. Ya karena pertama kalinya naik pesawat adalah 2 tahun yang lalu, tapi karena.. gatau kenapa, tulisannya gak muncul di kepala, yang mengakibatkan tidak terbitnya tulisan ini. Apa atuh! Ini juga tiba-tiba pengen nulis karena nemu foto-foto lama. Hehe.

Saya jarang sebenernya naik moda transportasi yang namanya pesawat, selain karena mahal, mungkin juga karena.. mahal aja pokoknya :D. Saya baru pakai pesawat 4 kali. Penerbangan pertama saya itu ke Bali, waktu itu dapat tiket promo dari maskapai citylink, lumayan, setengah harga dari harga normal. Dalam bayangan saya, terbang dengan pesawat itu rasanya akan halus, mulus, tenang, dan nyaman apalagi di dalam pesawat ada pramugari-pramugrari yang unyu-unyu kinyis-kinyis yang siap membantu jika ada apa-apa di pesawat, maka perjalanan akan seperti di surga. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, jika cuaca benar-benar cerah sebenernya perjalan akan terasa mulus, tapi jika berawan seperti ketika saya berangkat ke Bali, perjalanan menjadi menakutnya :lol:. Untuk seorang yang baru pertama kali naik pesawat saya tidak tahu jika di atas itu, ada yang namanya tubulensi. Turbulensi ada aliran udara yang tidak beraturan, itu menyebabkan pesawat bergetar, semakin tidak beraturan aliran udara, makin kencanglah getarannya, belum lagi suara-suara dari getaran sayap pesawat, yang terdengar seperti benda retak. Sebagai orang yang suka menonton film, semua hal yang saya jelaskan tadi, membuat saya berkhayal tentang apa yang terjadi di Film-film, dan itu membuat saya parno berat, rasanya saya ingin memakai parasut sepanjang perjalanan, dan ketika getaran besar terjadi, Saya langsung lompat dengan parasut, biar selamat, ceritanya. :mrgreen:.

Tapi sejak kejadian itu, saya mulai menggali tentang apa yang terjadi di pesawat, tentang turbulensi, tentang bagian-bagian pesawat, dan banyak lagi. Ini usaha saya untuk “menetralisir” ketakutan terbang, walaupun begitu, waktu saya naik pesawat untuk ke 2 kalinya, tetap saja, ketika pesawat mulai bergetar, bayangan tentang kejadian seperti Film-film itu muncul lagi, dan saya masih berharap memakai parasut sepanjang perjalanan.

 

Bulan Ini Lima Tahun Yang Lalu

Kemarin tiba-tiba ingat, kalau 5 tahun lalu tepat di bulan ini, saya menghadapi peristiwa yang sakral bagi seorang mahasiswa. Bulan ini tahun 2010 yang lalu saya melaksanakan sidang skripsi. Karena lupa tepatnya tanggal berapa akhirnya saya ngubek-ngubek email yang sudah tidak terpakai, dan akhirnya menemukan jadwalnya, 24 Juli 2010 itulah tanggal sidang saya.

Saya ingat saya sidang sore hari dijadwalkan jam 2 sore, baru mulai jam 4 padahal saya sudah datang dari jam 8, itu juga karena ketentuannya seperti itu. Tidak ada yang spesial dalam sidang dulu, saya bahkan memakai slide yang sama dengan slide untuk seminar hanya ditambahkan sedikit, sempat disindir oleh dosen penguji “Kamu mau sidang apa seminar?”, itu karena saya lupa mengganti judul header slide persentasi. Sidang berjalan biasa saja, hampir tak ada tanya jawab, yang ada saya hanya menjelaskan fungsi-fungsi yang dibuat, mungkin karena dosen sudah terlalu capek atau ingin cepat pulang jadi tidak ada tanya jawab tentang apa yang saya buat, bahkan ada satu bagian dalam sidang yaitu tes kemampuan coding yang tidak dilakukan oleh dosen penguji. Akhirnya sidang saya seperti persentasi ke klien dengan beberapa catatan yang harus diperbaiki. Satu setengah jam lamanya saya persentasi di luar sudah mulai gelap, ketika keluar ruangan, keadaan kampus sudah sepi, gelap hanya 1 ruangan yang masih terang, ruangan seketriat jurusan, saya keluar sendirian, tak ada foto-foto, tak ada ucapan selamat, hanya saya sendirian, tapi ada rasa puas dengan apa yang sudah dilakukan.

Cerita ini selalu saya ingat, sebagai mahasiswa dengan kemampuan rata-rata, kadang saya berpikir saya mungkin akan sulit untuk lulus. Sebuah momen yang membuat saya seperti ini, bekerja di bidang ini, tidak terasa sudah 5 tahun saya bekerja di bidang yang saya jalani. Waktu skripsi pola hidup saya seperti ini. Jam stgh 7 saya sudah berangkat ke kampus, untuk liat apa dosbing saya bisa ditemui atau tidak, dosbing saya emang unik, dia bisa ditemui tiap hari, jadi kalau mau bimbingan tiap hari ya silahkan walaupun pada akhirnya dimarah-marahi karena selalu tidak memenuhi “harapan” bliyo, semakin mendekati waktu seminar atau sidang saya (dipaksa) bimbingan tiap hari, agar lembar persetujuannya ditanda-tangani. Setelah selesai urusan di kampus, saya sampai rumah sekitar magrib, lalu jam 7 atau jam 8 malam melanjutkan skripsi, sampai jam 10, biasanya jam 10 saya sudah mengantuk, saya tidur sebentar sampai 12, saya tidur depan komputer, agar tidak kebablasan, dari jam 12 saya kerja sampai jam 3, setelah itu tidur sampai 5 lalu siap-siap berangkat ke kampus paginya, itu saya lakukan selama 3 bulan, bahkan di hari liburpun saya pakai untuk mengerjakan skripsi. Mengerjakan skripsi bukan hal yang mudah, untuk saya yang mempunyai kemampuan biasa-biasa saja itu seperti menaiki gunung everest, ada kalanya saya harus mencoba sampai ratusan kali dan gagal, sampai akhirnya berhasil untuk selesai.

Skripsi untuk saya sudah menjadi pelajaran hidup, ada satu hal yang selalu saya ingat dari skripsi, tidak peduli berapa kali gagal, puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali, kita hanya perlu SATU… SATU kali percobaan dan berhasil untuk menyelesaikan pekerjaan dan lebih baik ratusan kali gagal karena mencoba daripada satu gagal karena diam.

Selamat Berpuasa :mrgreen: