Kenapa Hormati Yang (Tak) Puasa

Puasa adalah sebuah ibadah yang mengharuskan kita menahan segala hawa napsu, intinya sih kita harus bersabar. Di era 2.0 ini gak seru kalo gak ngomongin yang ada di media sosial, yang menarik dari sosial media untuk ramadhan ini adalah imbauan atau ajakan atau apalah dari menteri agama, yang intinya (lagi) yang tidak puasa juga dihormati dan warung makan tidak perlu tutup… kira-kira seperti itulah.

Tadi pagi saya baca artikel yang membahas tentang twit atau omongan atau sabda yang katanya dari penulis yang lagi ngehits dikalangan anak muda jaman sekarang, yang namanya itu mirip nama pelantun lagu “Dosa Termanis”. Kata si penulis di artikel yang saya baca itu, imbauan sang menteri itu akibat dari kebebasan yang kebelinger.. atau semacamnyalah yah..

Saya jadi berpikir, kenapa kita harus hormati yang tidak puasa? Dan kenapa juga kita harus dihormati ketika puasa? Sejak kapan aturan itu ada? Saya tidak tahu.

Mari kita berpikir lagi, jika kita dalam keadaan puasa, di hari yang sangat cerah, suhu udara tidak bersahabat, dan keringan bercucuran seperti di iklan-iklan minuman penyegar, lalu datanglah teman kita yang – menurut para panitia masuk sorga (baca:FPI) – kafir, dan tentunya dia tidak berpuasa, membawa makanan dan makan tepat di samping kita, apa yang kita rasakan? Tergoda? Sudah pasti, terganggu? Hemmmm bisa jadi, bahkan mungkin marah. Begini sodara, kita nih, yang muslim kan diwajibkan puasa di bulan Ramadhan ini, ajakannya pun jelas, seperti biasa, jika puasa, kita membaca niat puasa, di niat puasa kita menyatakan bahwa kita akan menjalankan puasa karena karena Allah, dan IKHLAS akan hal itu. Balik lagi ke teman kita yang gak puasa itu, ketika kita harus menahan lapar dan haus, dia enak-enakan makan, lalu kita merasa terganggu, atau mungkin disadari atau tidak, kita merasa ini tidak adil, makanya kita kesal dan akhirnya menyuruh dia, untuk menghormati kita, bukan begitu? Kalo begitu, dimana keikhlasan kita? Kita sudah membaca niat yang menyakatan kita ikhlas menjalan puasa, tapi kita menjalannya seperti terpaksa, apa benar kita ikhlas? Jangan-jangan mulut dengan hati kita tidak singkron, mulut bilang ikhlas tapi hati tidak ikhlas. Ini yang membuat kita merasa ingin dihormati, ingin orang lain juga ikut-ikutan puasa, atau minimal menjauh jika lagi makan, padahal kalo kita bener-bener ikhlas, harusnya kita bisa santai aja gitu, liat orang makan, kan kita berpuasa dengan ikhlas, dan memang orang yang tidak puasa mempunyai hak untuk makan, dan rasanya wajar kita menghormati hak orang lain, iya gak sih?

Yah sudahlah, yang penting orang puasa dan tidak puasa saling menghormati, gak perlu ribut, jadi damai… seperti alien kalo datang ke bumi, mereka datang dengan damai….

 

 

Apa hubunganya? 😐

Naik Naik Ke Puncak Gunung

Naik naik ke puncak gunung, tinggi.. tinggi sekali..

Pada tanggal 6 Juni 2015, akhirnya melakukan kegiatan yang nge-Hits-dan-kekinian, yaitu naik gunung.

Ditulis disini semata-semata untuk membagi infomasi untuk yang mau melakukan hal yang sama. Oia sebagai infomasi saya naik gunung papandayan ketinggiannya sekitar 2,6 KM, tidak terlalu tinggi, tapi lumayan untuk nyari keringat #haseeek :mrgreen:

Gunung Papandayan terletak di daerah Garut, lebih tepatnya Cikajang, jadi untuk pergi kesana dari manapun anda berada, silahkan temukan transportasi ke arah Cikajang, jika sulit menukan angkutan umum yang ke arah Cikajang, cari dulu angkutan ke arah Garut, nanti dari Garut bisa cari angkutan menuju Cikajang, dan jangan lupa minta diturunkan di gerbang menuju gunung papandayan. Untuk harga, silahkan tanya ke kenek atau supirnya, kemaren sih saya habis Rp. 50.000 untuk bisa sampai ke cikajang dari Terminal Cicaheum..

Gunung Papandayan adalah gunung berapi yang aktif, dalam perjalan menuju tempat camp, anda akan melewati kawah dengan bau belerang yang sangat tajam, jadi sangat disarankan untuk membawa masker, dan apabila anda termasuk kedalam golongan suka sesak napas, bawalah oksigen portable, oksigen dalam kaleng yang kecil dan ringan, jangan bawa oksigen dengan tabung yang besar dan berat, kecuali jika anda memaksa, dengan catatan resiko ditanggung sendiri.

Gunung Papandayan ini cocok banget sebenernya untuk pemula, karena suasana di sana seperti mall, rame, banyak orang, jadi tidak perlu takut tersesat, lalu hilang, tentu dengan perjalan yang sangat melelahkan, itu saja yang membedakan dengan Mall kebayakan. di perjalanan ke camp atau puncaknya anda akan bertemu dengan pedagang makanan dan minuman, kadang malah pedangan suvenir, jadi jika anda tidak ingin bawa beban yang terlalu berat, silahkan bawa uang yang banyak, atau minimal membawa teman yang dompetnya tebal – tebal dengan uang tentunya – sehingga anda bisa meminjam uang kepada teman anda itu, tentu dengan rasa malu yang sudah dibuang jauh, atau sudah dikurangi takarannya, dengan begitu anda tidak perlu repot membawa tas yang isinya penuh perbekalan yang akan menjadi beban selama perjalanan, jika anda memilih untuk meminjam uang teman, pinjamlah sesuai dengan kebutuhan, jangan berlebihan, karena bisa jadi teman anda akan berubah dari senang meminjamkan uang jadi senang melempar anda ke kawah papandayan,, jadi tahu diri ketika meminjam uang, itu penting. Oia jangan berpikir disana ada resto atau cafe yah, jika anda ingin makan makanan berat seperti nasi, silahkan bawa sendiri dari rumah, atau anda bisa menghilangkan rasa malu anda, lalu meminta makanan kepada pendaki lain,,, dan berharap untuk diberi.

Naik gunung memang berbeda dari kegiatan travelling lainnya, terkadang anda harus menahan ego, anda tidak bisa merengek karena kaki anda sakit, pundak anda pegal, karena semua orang merasakan hal yang sama, yang diperlukan hanyalah berjalan dan berusaha untuk mengatasi itu semua, tapi juga anda tidak bisa egois untuk meninggalkan teman kalian yang kelelahan. Sekali-sekali naik gunung memang diperlukan bukan hanya untuk melepas kepenatan, tapi juga untuk belajar untuk mengenal diri sendiri, sampai mana kemampuanmu untuk berusaha, untuk bertahan, untuk tetap tenang ketika masalah datang, sebagian orang bilang, naik gunung adalah proses belajar, termasuk belajar biologi dan fisika, bahkan mungkin kimia… 😀

Baiklah akhirnya tulisan ini harus ditutup, silahkan untuk mendaki gunung,,  gunung manapun, karena mungkin hidup kamu akan berubah, sebelum balik lagi kesemula. :mrgreen: