Pada Sebuah Percakapan

“Aku kangen sama kamu.”

“Masa? Kenapa?”

“Iya, aku kangen dengan banyak hal, dengan obrolan kita, dengan becandaan kita. Lucu aku pikir, rasanya tidak terlalu lama kita saling kenal, tapi kamu membuatku merasa begitu……..”

“Begitu???”

“Dekat… Ntahlah, yang pasti selama kita tidak bertemu, aku masih memikirkan tentangmu, makasih yah sudah mau bertemu.”

“Haha.. yaya.. Kamu sekarang masih di tempat kerja yang sama?”

“Masih, aku masih di tempat kerja yang sama, tempatnya cukup nyaman untuk dijadikan tempat berkegiatan sehari-hari.”

“Bagus dong, dengan sifatmu yang gampang bosan, tempat kerja itu cukup bagus untuk tidak membuatmu bosan.”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku? Aku masih seperti ini, kadang kerja, kadang tidak, kadang kerja di rumah, kadang harus pergi ke suatu tempat.”

“Asik dong, kali-kali ajak aku pergi ke suatu tempat, aku ingin merasakan pergi bersamamu lagi, menyenangkan. Aku suka ketika kita membahas suatu hal ketika aku sedang menyetir, atau ketika berdebat belokan mana yang harus aku ambil agar tiba lebih cepat.”

“Kamu kalau lagi kangen emang suka bahas yang dulu-dulu gitu ya?”

“Hahaha… kenapa? Ada yang salah?”

“Nggak sih, cuma lucu aja, kamu tuh banyak banget cerita sama aku, tentang masa kecil kamu, tentang kerjaan kamu, tentang orang-orang yang di jalanan, tapi kamu belum pernah cerita soal wanita.”

“Soal wanita? Wanita yang mana?”

“Wanita yang mana saja, wanita yang membuatmu berbunga-bunga, atau wanita yang kamu pikirkan terus menurus, atau…. ya yang bagaimana saja..”

“Ya ada sih, satu wanita, kita sempat berhubungan sekitar satu tahun, setelah itu kita putus, lalu dia memutuskan menikah dengan pria lain.”

“Lalu?”

“Lalu? Ya sudah… dia sudah menikah, dan tidak ada, kelanjutannya..”

“Dia kayak gimana sih?”

“Kayak gimana ya? Hemm… kayak kamu…”

Kayak aku gimana? Dia yang kayak aku… atau… aku yang kayak dia?”

“……………”

“Ohh… aku yang kayak dia… bilang aja gak apa-apa kok. Kadang aku gak ngerti deh, kenapa sih kamu segitunya ma aku? Aku gak pernah lho nganggep kamu lebih..”

“…………”

Walaupun begitu, aku cukup nyaman kok sama kamu, apa yah,,, kamu tuh sebenernya nempatin aku, di kotak nyamanku, dengan banyak hal yang kamu lakuin ke aku, aku selalu ngerasa aman, bareng kamu.. cuma ya itu, aku gak bisa lebih ke kamu

“Iya, aku tahu…”

“Aku pulang yah…”

“Jangan…. sebentar lagi.. please.. Aku gak tahu harus ngomong apa lagi, aku cuma ingin bersama kamu, sebentar lagi, hanya sebentar. Terlepas dari siapa mirip siapa, perasaanku ke kamu, itu nyata, dan…”

Stop! Aku gak mau bahas ini.

“Oke, kamu ada kerjaan dimana lagi?”

Kalau tidak salah, bulan depan aku ada kerjaan di Bali, lumayan, sambil jalan-jalan. Kamu sendiri, ada rencana main-main lagi gak sih? katanya, traveler, penikmat perjalanan.

“Hahaha…. Ntahlah, mungkin.. aku mau ke Bandung, aku mau ke Lembang, aku nyimpen kamu di situ, di antara pohon-pohon rindang tepi jalan, di antara lampu malam, dan jalan layang Pasupati.”

Kamu tuh, gak bisa ya lepas dari situ? Let me go.. udah deh.. kita tuh beda jalan, dan aku gak bisa bareng kamu. Terima itu.. kita harus hidup di jalan masing-masing..

“…………..”

“Udah ah.. aku pulang yah… kamu hati-hati, have a good life.. Seneng bisa ngobrol lagi.”

“Na….”

………………………….

Advertisements

Takan Ada Lagi

Hujan belum berhenti sejak sore tadi, masih mengguyur jalanan kota. Di antara mobil-mobil yang bergerak senti demi senti, aku coba bersabar, menghibur diri dengan deretan lagu yang diputar seseorang yang keberadaan mungkin tidak akan pernah aku tahu, wiper kaca mobilku masih sibuk membersihkan air yang turun dan mengganggu pandanganku.

“Nggak bisa, aku nggak bisa terus-terusan seperti ini.”

Ingatanku melayang pada suatu ketika. Suatu ketika dimana akhirnya aku harus menyerah, dan membiarkan dia pergi. Sejak saat itu, dia bukan siapa-siapa lagi untukku…. lebih tepatnya.. aku bukan siapa-siapanya lagi untuk dia… Bukan lagi tempat untuk dia bercerita, bukan lagi tempat untuk dia meminta perhatian, seraya bermanjaan, tidak akan ada lagi, sentuhan-sentuhan, dan tidak ada lagi kata-kata cinta, cumbu rayu, atau gombalan-gombalan rindu… Sekarang, aku hanya seseorang yang dia pernah kenal.

Hal yang paling menakutkan ketika ada dua hati yang memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing adalah ketika dua hati itu menjadi dua orang asing, yang tidak lagi saling merasa, bahkan tidak lagi saling mengenal,  dan rasanya semua hal yang pernah terjadi tidak menjadi apa-apa lagi. Hanya ingatan yang siap untuk dilupakan.

Pelan tapi pasti, seperti hati yang pada akhirnya akan saling mengakhiri, kemacetan mulai terurai, jalanan menjadi senggang, mobil-mobil mulai berjalan dengan kecepatan yang cukup untuk dikatakan kendaraan, dan lamunanku akhirnya harus selesai juga, aku pacu mobilku agar sampai ke rumah… rumah.. dimana aku bisa berdiam sendirian, dan melupakan semuanya.

 

Polos

Dia mengomel tanpa henti, sepertinya sedang kesal,,, kesal kepadaku. Ntah kenapa jika di dekatku dia senang sekali berbicara, mendebat, dan mengomel seperti ini. Awalnya aku tidak menyangka dia tahan untuk berbicara panjang dan lebar seperti ini, di kesehariannya dia wanita yang cukup pendiam, tidak banyak berbicara, lebih banyak mendengarkan jika sedang berkumpul dengan teman wanitanya, tapi dengan ku, dia berubah, dia cukup banyak bicara, banyak hal yang diceritakan, banyak hal yang didebat, dan banyak hal yang dia komentari tentangku, kadang dia menyebalkan…  Dan malam ini, dia mengomel panjang lebar karena aku salah berbicara. Ya.. Aku tidak bermaksud menyinggungnya, tapi kata “polos” yang aku sebutkan sesaat sebelumnya, membuat dia kesal.

Aku tidak bermaksud untuk membuat dia merasa tidak tahu apa-apa dengan menyebutnya polos. Mungkin aku salah memilih kata. Aku adalah orang yang kadang berbicara dengan sedikit kiasan, tidak langsung berbicara blak-blakan, ntah, mungkin karena aku takut menyinggung orang lain atau apa, yang pasti aku bukan orang yang straight to the point. Tapi dia terkadang tidak bisa mengerti itu, maksudnya, kadang tidak mengerti apa yang aku bicarakan, dan aku harus mengulangi apa yang aku maksud dengan jelas, sejelas-jelasnya. “Kadang aku ngerasa kamu tuh polos.” Kalimat itu yang membuat dia mendebatku, berbicara panjang lebar, memaksaku menjelaskan apa maksud kalimat yang aku katakan tadi, berkali-kali aku jelaskan, diselingi kata-kata maaf, agar dia berhenti, tapi dia tidak puas dengan penjelasanku.

Aku mencari tempat yang cukup aman untuk berhenti. Aku hentikan mobilku, matikan mesin, dan ku tatap dia, dia masih mengomel, sepertinya dia kesal sekali, dan aku mulai kehabisan kata-kata untuk menjelaskan maksudku, dia sulit sekali dipuaskan. Aku diam,,,, lalu aku kecup bibirnya,,, lembut,,, cukup lama ku menciumnya,,, agar kesalnya mereda ku berharap,,, ku lepas bibirnya,, dia diam,,, dia menatapku, aku tersenyum. lalu dia berkata, “kamu bilang aku polos karena suka tanya-tanya istilah pekerjaanmu ya?”

“Bukaaaann….” Kataku sambil sedikit berteriak, aku nyalakan mesin, lanjutkan perjalanan, lalu aku mematikan radio. Malam ini aku ingin mendengarnya mengomel, ntah sampai seperti apa dia kuat seperti itu. Aku ingin menikmati ocehannya, biarlah.. Kecupanku tidak membawa hasil apa-apa. Dia mendebat, mengoceh, dan mengomel sepanjang jalan dan aku hanya bisa mendengarkan, sambil sesekali menjawab ocehannya..  ahhhh, aku sayang dia..

Kosong

Hampir 15 menit ku tatap layar di laptopku, ntah rasanya kepalaku kosong, sulit untuk memahami apa arti kode yang ditulis di sana. if.. then.. else… aku benar-benar tidak bisa mengerti. Ntah apa yang terjadi, sepertinya otakku berhenti berpikir, memahami barisan kode rasanya menjadi sulit, padahal sudah hampir 3 tahun aku bekerja dengan kode-kode itu, tapi hari ini, rasanya kode itu menjadi lebih asing,,, lebih,,, sulit dipahami.

Ku sandarkan tubuhku pada sandaran kursi. Meja-meja yang ada di depanku, mulai ditinggalkan, jam kerja telah usai, satu per satu temanku meninggalkan kantor, sampai hanya ada aku, dan beberapa orang yang masih tertahan karena pekerjaan. Tapi aku masih dengan laptopku yang masih menyala dan gelas kopi sisa tadi pagi, yang tinggal ampas.

Ampas kopi…. ampas kopi… am…pas….ko…pi…..

Ku eja kata-kata itu, berkali-kali sampai aku ingat satu kalimat “Jika aku adalah kopimu, dan kopi selalu menyisakan ampas, lalu kamu menemukan ampas dalam diriku, mungkin kamu bisa melupakanku.” Kalimat itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Hemmmm bagaimana bisa aku melupakan dia? Apa yang harus ku lupakan dari dia? 

Tidak banyak cerita bersama dia, rasanya hanya biasa saja, teman kantor, seperti yang lain, yang berbeda hanya bagaimana aku melihat dia. Kami cukup dekat, setidaknya, aku lebih sering mengajaknya makan siang dibanding teman kantor yang lain, dan ya beberapa hal sering aku ceritakan kepada dia. Tapi bagaimanapun, dia hanya teman kantor biasa, tidak lebih.. Ah sudahlah.. Aku mulai membereskan meja kerjaku, pikiranku sudah tidak bisa lagi berpikir, beberapa ingatan tentang dia masih muncul di kepalaku seperti potongan iklan yang silih berganti. Aku menarik napas panjang, agar meras lebih tenang, memikirkan dia terkadang lebih…. menekan perasaanku… ahh… sudaah… mungkin aku hanya sedikit…. rindu….

Kopi Pagi: Setahun Yang Lalu

Ku aduk kopi pagi ini, pelan, dan lama, aku senang mengaduk dengan cara ini, berharap semua ampas terlarut dalam air bersama gula di dalamnya. Tak terasa sudah setahun dia meninggalkanku, pikiranku melayang mengingatnya, kadang aku heran, kenapa aku dipertemukan dengan dia, jika akhirnya dia harus pergi?

Aku ingat bagaimana pertemuan pertama kami, di sebuah kafe milik temanku, aku sedang menikmati kopi pagiku, dan beberapa potong kentang goreng yang aku pesan beberapa saat sebelum temanku tiba dan memperkenalkan aku dengan wanita itu, wanita yang selanjutnya akan menjadi kopi pagiku. Aku ingat senyumnya, aku ingat postur butuhnya yang semampai, dan aku ingat matanya yang kecoklatan dengan bulatan hitam di tengahnya, manis.

Tak lama kami mengobrol, dia pamit pulang, dan setelah itu hanya ada dia di pikiranku, berputar-putar, melayang-layang… Dia terus ada dipikiranku.. Tanpa lelah, sampai akhirnya keberanikan diri untuk menghubunginya, dan tentu saja mengajaknya keluar.. Maksudku, kencan… Ah tidak.. Itu bukan kencan, kami hanya mengobrol sembari menelusuri jalan kota.. Hanya itu…

Kami memang cukup dekat, tapi dia belum pernah benar-benar jadi milikku, dia memutuskan untuk pergi, mengambil jalan yang berbeda denganku. Yaa biarlah.. Aku cukup senang pernah dekat dengannya, candanya, tawanya.. Akan ku simpan sebagai sebuah cerita.. Ntah.. Setelah setahun ini, rasanya… Aku masih seperti ini.. Aku masih bisa merindukan Kopi Pagiku…

Perubahan

Halo, udah lama gak nulis, sengaja bahasanya dibikin gak baku (emang pernah nulis baku?), karena lagi pengen bahas sesuatu yang lagi jadi sedikit pikiran.

sebetulnya agak gimana gitu, kalau harus nulis lagi, tapi kadang, tempat ternyaman untuk cerita ya di sini..

Saya udah sering banget eh gak banget sih, tapi beberapa kali bahas soal perubahan, tapi biasanya bahas perubahan di sekitar, dan beberapa hari, gak sih, lebih lebih dari beberapa tahun ini, ngerasa sepertinya ada perubahan yang cukup banyak dalam diri, kadang ngerasa lebih “dark”, gelap gitu. Kadang ngerasa kayak bukan saya yang dulu, rasanya berbeda, mungkin saya bukan orang yang terlalu baik, tapi selama ini berusaha untuk menjadi baik, walaupun tidak selalu berhasil. Dalam prinsip menjadi baik itu, yang penting gak nyusahin orang, berusaha untuk gak bikin orang kesel, dan hal-hal lain, yaa walaupun gak selalu bisa sih, jadi orang baik tuh susah lho, kadang ada aja hal yang bikin jadi rumit, kayak kamu coba untuk bantu seseorang, tapi ketika kamu butuh bantuan, kamu hampir gak bisa dapat bantuan, itu kan rasanya… segawon! hahaha

Saya ngerasa dulu tuh kayaknya gak gini deh, cara berpikir tuh gak skeptis kayak beberapa tahun ini, dulu tuh rasanya masih bisa bercanda-bercanda, lucu-lucuan dengan lingkungan sekitar, berusaha untuk positif dulu terhadap sesuatu, malah pernah nulis kayak gini “Masalah tuh kayak main rubik, kamu perlu memutar cara berpikir agak menemukan solusinya”, dan itu rasanya gak berlaku untuk saat ini, kalau sekarang tuh rasanya lebih skeptis aja, lebih negatif rasanya.. apa-apa tuh, udah mikir jelek duluan, dan itu susah banget untuk diubah. Ya ampun…

Saya bukan orang yang terlalu religius lah, tapi ya setiap hari pasti berdoa, dan bertahun-tahun berdoa, rasanya kok gak perubahan, selintas kepikiran jangan-jangan tuhan terlalu sibuk sama doa-doa yang lain, apalagi keadaan sekarang kayaknya lagi banyak banget orang-orang lagi mabok agama, dan doa mereka lagi kenceng-kencengnya, jadi doa-doaku ketutup gitu sama doa mereka. :))

Banyak hal yang memang terjadi selama beberapa tahun ini, tapi yang kerasa banget bikin perubahan dalam hidupku tuh, kayaknya ditinggal nikah deh, gila,, sumpah.. itu traumatis, merubah banyak hal. Beberapa tahun lalu rasanya Tuhan baik banget, mempertemukan saya dengan wanita yang disukai dari waktu SD, sampai akhirnya kita bisa pacaran, dan itu masa-masa dimana dunia menjadi indah sekali hahaha. Tapi itu rasanya berubah ketika pada kenyatannya kita tidak bisa bersama, itu rasanya.. isshhh.. kok gitu sih? Coba bayangin kita ketemu waktu kecil, lalu berpisah, 9 tahun pisah, dan akhir ketemu lagi, jadi deket, dan pacaran.. tapi akhirnya harus pisah lagi. Ini semacam dipermainkan semesta, kayak…. semesta tuh lagi pengen becanda. Masalahnya pisahnya dulu dan sekarang tuh beda, lebih menyakitkan…

Ibaratnya kayak beli yang kamu suka makanan kalau dulu harganya tuh murah, jadi ketika makanan habis, dan harus bayar tuh, uangnya tuh masih cukup, tapi sekarang, ketika beli lagi makanan yang sama, dengan rasa yang sama, malah lebih enak, begitu bayar, harganya ternyata lebih mahal, dan duit kamu tuh langsung abis gitu sama tu makanan, dan sesaat kemudia, kamu ngerasa kaget, miskin, agak-agak nyesel, tapi malu mengakui. Setelah kejadian itu rasanya banyak hal yang berubah, kayak rasa bahagia tuh kesedot banyak banget, mirip orang yang gak punya duit sama sekali, karena makan kemahalan.

Setiap hari setelah kejadian itu, saya berusaha untuk kembali ke “bentuk” semula, tapi rasanya itu tidak akan terjadi. Hati yang dulunya bentuknya indah, lalu seseorang bawa palu godam gede, dan ngancurin dalam sekali pukul, kayak patung Garuda Wisnu Kencana yang tiba-tiba diancurin lalu berusaha dibentuk ulang, tapi jadinya, malah patung celengan semar yang dijual di pinggir jalan.

 

Asem lah…

Marahin CS!

Sungguh judul yang tidak mengikuti kaidah kebahasaan.. Tapi sudahlah.

Jadi begini, beberapa hari sebelumnya, saya memesan barang lewat salah satu toko online yang bernama jededotaidi. Salah satu hal yang membuat tertarik untuk berbelanja di sana adalah harga promo yang lumyan gila, plus gratis ongkos kirim. Singkat cerita setelah selesai berbelanja dan mengkonfirmasi pembayaran, dan menunggu beberapa hari, ternyata pemesanan saya dibatalkan.. Iya, pesanan saya yang sudah dibayar itu, DIBATALKAN! Kan gila yah.. Maunya apa coba jededotaidi ini?

Sebagai pelanggan yang kecewa, tindakan paling logis adalah mengadu ke bagian layanan pelanggan, yang lebih dikenal dengan istilah customer service atau CS. Dengan “nada” memarahi, gak nada juga sih, saya kan chat online. Ya sudahlah, lanjut.. Setelah marah-marah, solusi yang ditawarkan, adalah mengembalian uang kembali, ya iyalah yah.. Pesanannya sudah dibatalkan, solusinya ya.. Uang kembali..

Belakangan saya cari tahu kenapa pesanan saya dibatalkan begitu saja, kemungkinannya promo diskonnya sudah selesai, tapi di sistem mereka diskon itu masih tertera, mungkin admin sistemnya agak lambat update sistem, atau bagian bisnis yang lupa memberitahu kalau promonya sudah berakhir, kalau sudah begini, bagian CS tidak tahu menahu soal itu, tiba-tiba disuruh membatalkan pesanan, dan tiba-tiba dimarahi, kasian yah? Iyah.

Sebagai orang yang bekerja di salah satu start up e-commerce (kesannya gak keren gitu, kalau pake istilah “toko online” hahhaa.. Fak lah), saya tahu pasti bagaimana para CS ini bekerja, kadang kesalahannya memang bukan dari mereka, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, bisa jadi di bagian bisnis, produk, atau malah bagian developer. Tapi semua kesalahan itu – yang biasanya bikin kita marah- dilampiaskan ke satu bagian, yaitu bagian layanan pelanggan, alias customer service, alias CS. Hal ini terjadi di hampir semua perusahaan, dan yang lebih memprihatinkan lagi kalau CS itu merupakan tenaga kerja luar perusahaan.

Kadang, kita sebagai pelanggan tidak pernah mau peduli, atau sedikitnya menahan sedikit emosi ketika berbicara dengan CS, yang sebetulnya bukan salah mereka juga. Mereka cuma orang yang kebetulan ada di posisi paling depan, untuk menerima semua emosi kita. Mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang diberi kebahagiaan dalam hidupnya, setelah menjadi pelampiasan emosi…. Ada amin?