Pisah

Aku tidak pernah membayangkan akan punya cerita hidup ini… tidak pernah sama sekali… bahkan aku tidak pernah menyiapkan apapun tentang ini.

Waktu aku bercerita tentang mengambil keputusan besar dalam hidup, rasanya aku sudah siap dengan segalanya. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Aku sadar waktu aku mengambil keputusan itu, masih ada masalah yang belum selesai, alih-alih berusaha menyelesaikannya, aku memilih untuk menganggap itu tidak ada… sebuah tindakan yang bodoh. Berada dalam keadaan yang salah, ternyata hanya membuatku menjadi seperti orang jahat, aku benci menjadi seperti itu… aku tahu dirimu, dan aku tidak seperti itu… sampai akhirnya… mau gamau… harus mengambil keputusan untuk pisah.

Sebuah keputusan yang.. aslinya menyakitkan..

Tidak mudah untuk menjelaskan kepada orang-orang kenapa ini harus terjadi. Karena mungkin tidak akan ada yang bisa mengerti… beban ini… ketakutan ini… dan rasa bersalah ini… rasanya sulit untuk dimengerti untuk siapapun. Jika ada opsi untuk menghilang, rasanya aku ingin menghilang saja.

Kadang, aku termenung sendirian, memikirkan apa selanjutnya.. apa yang harus aku lakukan.. aahhh rasanya aku ingin diam saja… membiarkan waktu melewatiku, sampai ntah kapan.. seperti yang sudah-sudah..

Berkendara

Aku suka sekali berkendara, ntah mulai dari kapan kesenangan itu muncul. 4 Maret adalah ulang tahunku, dan di tahun ini, 2022, aku memulai umur yang baru dengan berkendara cukup jauh.

Dimulai dari Kab Sleman, tujuan pertamaku adalah pantai pangandaran, kenapa pangandaran.. aku juga tidak tahu pasti kenapa, yang aku tahu, aku ingin ke sana. Dari Jogja ke Pangandaran, aku mencoba melewati jalan yang tidak aku tahu sebelumnya, pangandaran via Cilacap. Aku baru tahu ada jalan tembusan itu, biasanya kalau ke Pangandaran dari Jogja sini aku ngambil jalur via Banjar, jawa barat, yang mana itu memakan waktu sekitar 12 jam, tapi jika dilakukan via Cilacap, ternyata hanya butuh waktu 5 jam, sungguh pengurangan waktu yang signifikan.

Dari Pangandaran, aku harus lanjut ke Jakarta, karena di Jakarta ada kerjaan sedikit yang hanya bisa aku lakukan di akhir minggu saja, dari Pangandaran, aku mengambil jalur via Ciamis, lalu Kawali, dan masuk gerbang tol Ciperna, Cirebon, dan lanjut tol sampai Jakarta, jalur ini juga, jalur yang baru untuk aku, walaupun jalannya berkelok, menanjak, dan menurun, tapi jalannya halus dan bagus, cukup mengasikkan untuk menikmati perjalanan, waktu yang ditempuh dengan melewati jalur ini sekitar 8 jam.

Yang terakhir perjalanan dari Jakarta ke Jogja via tol trans jawa, karena Jogja belum ada tol, jadi aku keluar di gerbang tol colomadu, kertasura. Dari Jakarta ke Jogja ditempuh dalam waktu sekita 9 jam, dengan biaya tol total, sekitar Rp.400.000 lebih.

Keseluruhan perjalanan menempuh jarak 1.300an KM. Jarak yang cukup jauh untuk memuaskan keinginan berkendara. Aku suka berkendara, karena ketika aku ada di belakang kemudi, semua masalah yang ada di dunia tuh hilang, yang ada cuma aku, mobil, dan jalanan.

Setelah Sekian Lama

“Wow…”

“Wow, apa?”

“Wow.. Akhirnya, kenihilan kita benar-benar terjadi. Rasanya apa yang aku bayangkan selama beberapa tahun kebelakang ini benar-benar terjadi.”

“Membayangkan apa?”

“Kenihilan kita, ketidakberadaaan kita, kita akhirnya benar-benar tidak ada, tidak eksis di dunia ini. Kadang aku mikir, jangan-jangan, semesta memberikan keadilan dengan cara memberikan ketidaksempurnaan kepada setiap orang.”

“Setelah sekian lama, kamu makin gak jelas tahu gak, sok filosofis.”

“Haha.. Setelah sekian lama, rasanya yang tidak berubah dari diriku adalah pertanyaan, kenapa kita pertemukan dengan orang yang membuat kita jatuh cinta, lalu dipisahkan dengan tragis?”

“Tapi kan, semua orang akan berpisah dengan orang yang dicintainya, hanya masalah waktu aja.”

“Iya, menurutku, ada tiga jenis perpisahan di dunia ini, yang pertama, perpisahan romantis, yaitu perpisahan karena takdir… kematian maksudnya. Jenis perpisahan yang memang begitu seharusnya, natural. Yang kedua, adalah perpisahan tragis-romantis, ini jenis perpisahan yang disepakati oleh dua orang yang pernah bersatu, perpisahan murni tanpa pengaruh lingkungan luar. Yang ketiga, adalah perpisahan tragis, perpisahan yang kadang tidak dimengerti oleh keduanya, perpisahan yang dipaksakan karena tekanan dari lingkungan luar.”

“Kamu masih mikirin perpisahan ini ya?”

“Kehilangan seseorang yang membuatku terlibat dengan perasaan yang begitu dalam, dan terobesesi dengannya, membuatku susah sekali untuk lupa. Sampai titik dimana aku berusaha untuk menerima kalau itu adalah bagian dari hidupku, dan yah.. kadang ingatan itu muncul, sampai sekarang.”

“Aku gak tahu sih, apa yang aku bilang ke kamu.”

“Kamu tahu gak sih? Di titik ini, aku pikir satu-satunya kabar yang akan terdengar setelah sekian lama, adalah kabar kematian salah satu dari kita, ntah siapa yang akan mendengar kabar siapa, itu masih menjadi misteri.”

“Kenapa begitu?”

“Beberapa bulan kemarin, aku mendengar kabar kematian teman-temanku dulu, setelah terakhir bertemu, berpisah, lalu kabar terakhir yang terdengar adalah kabar kematian. Jadi aku pikir, nasib kita juga akan sama. Kita tidak akan pernah lagi berkabar, kamu tidak akan lagi menyapaku, begitu juga dengan ku, sapaan-sapaan kita yang dulu terasa begitu hangat, rasanya tidak akan lagi kita rasakan, sampai satu saat nanti, salah satu dari kita mendengar kabar itu dari teman yang dari dulu kita kenal, ntah dari siapa, aku juga gak tahu.”

“Kayaknya kamu mulai gila.”

“Hehe.. Yah, aku berusaha untuk meninggalkan tempat itu, aku mulai berusaha untuk meninggalkanmu, menjauh, mencari tempat lain, dan itu rasanya sulit sekali, semakin aku jauh, rasanya kewarasanku makin berkurang, sampai rasanya aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan.”

“Kenapa tidak kamu saja yang menyapaku?”

“Karena aku tahu kamu, kayaknya, kamu tidak akan pernah lagi, membalas pesan-pesanku, lagian…. untuk apa juga? Kenapa aku harus tahu kabar kamu?”

“Yaa.. agar apa yang kamu pikirkan tentang kabar terakhir itu, tidak terjadi.”

“Hehe.. lagian yah, seadainya kamu membalas pesanku, perubahan kita tuh akan makin terasa, kita sudah terlalu jauh, sudah terlalu lama, rasanya kita bukan kita yang dulu lagi, dan jujur aku takut sih, ingatanku tentang kamu tuh, akan selalu manis, selalu tentang kita yang terasa sempurna, kalau aku benar-benar merasakan perubahan itu, rasanya akan lebih sedih, aku gatau bagaimana aku harus berhadapan dengan kamu yang sudah berbeda. Jadi.. ya sudahlah, biarkan saja seperti ini, dan biarkan apa yang aku pikirkan terjadi. Ditinggal kamu saja, rasanya sudah sulit sekali, banyak energi yang aku keluarkan untuk tetap bisa berdiri, dan kalau harus menghadapi kamu yang sudah berubah, rasanya aku terlalu lelah untuk itu. Aku gak sanggup.”

“Kabarku baik-baik saja…”

“Yah, aku tahu…”

Tahu Gak Sih?

Tahu gak sih? Kadang saya merasa cuaca Jogja itu unik, dia bisa hujan di siang hari, lalu cerah di sore harinya, menghadirkan senja yang indah. Seingat saya cuaca seperti ini agak jarang terjadi di Bandung. Ingatan pertama kali datang ke Jogja ini sekitar tahun 2002, lalu datang lagi 2011, lalu di tahun-tahun berikutnya aku cukup sering mengunjungi kota ini. Lalu sekarang, setelah menetap 5 tahun di kota ini, rasanya pandanganku tentang kota ini mulai berubah. Jika diperhatikan lebih dalam, kota ini butuh kritikan.

Ntah sampai kapan saya di sini. Tapi rasanya Jogja masih cukup nyaman untuk ditinggali.. terlepas dari hal-hal yang “aneh”, yang ada di kota ini.

Selingkuh

“Kita mau kemana lagi nih?”

“Terserah, Kemana aja lah, bosen aku di rumah.”

“Terserah itu maknanya luas lho, dengan jawab seperti itu, kamu ngasih kebebasan ke aku, untuk bawa kamu kemana aja aku mau, aku bawa kamu ke Mars baru tahu rasa kamu, haahhaha.”

“Iya sih kamu bisa bawa kemana aja kamu mau, tapi pertanyaannya, emang sampai sejauh mana kamu bisa? Ke Mars kan udah gak mungkin.”

“Iya sih… Muter-muter kota aja kali ya?”

“Boleeh.. Eh kita makin sering ketemu ya? Pacarmu pakabar tuh?”

“Hemmm iya sih, pacarku? Kenapa tiba-tiba nanyain pacarku?”

“Gak apa-apa sih? Gak boleh ya?”

“Ya boleh aja sih.. cuma… hemmm.. bisa gak, kalau bahas yang lain aja? Sapi terbang, misalnya?”

“Haha…”

“Pacarku ya ada aja sih, di rumahnya, gatau lagi ngapain”

Lagi mikirin kamu, kali.”

“…….”

“Kok diem?”

“Gapapa sih, cuma.. apa ya? Bisa gak, gak bahas dia pas kita lagi bareng? Aku lagi pengen nikmatin waktu bareng kamu aja. Aku tahu sih, posisi kita tuh udah bukan temen biasa, setelah kamu tahu perasaanku.”

“Aku gak nyangka, kok bisa sih?”

“Ya bisa dong, namanya perasaan mah, kadang gak bisa dikendalikan.”

“Tapi reaksi dan perilaku dari perasaanmu itu bisa dikendalikan. Kadang aku heran, kenapa orang yang udah punya pasangan, tetep bisa suka atau sayang sama yang lain? Boleh tanya gak?”

“Apa?”

“Apa sih yang aku liat dari aku?”

“Salah satunya, kamu beda gitu.”

“Ya bedanya tuh dimana? Jujur deh? Apa sih yang kamu mau dari aku? Tubuhku? Atau apa? Jujur deh.”

“Gak gitu, gak sampai ke sana juga, cuma apa ya? Aku lebih nyaman aja gitu sama kamu.”

“Kalau akhirnya, kamu bisa bareng aku sepenuhnya, terus kamu ketemu cewek yang bisa bikin nyaman lebih dari aku, kamu bakal lakuin hal yang sama ke aku?”

“Ini aku bisa turun aja gak ya? Aku merasa ditonjok gini sama kamu.”

“Kalau kamu turun, siapa dong yang nyetir? Aku kan gak bisa nyetir.”

“Ya kamu dorong aja mobilnya, terserah mau kemana.”

“Di posisi ini tuh rasanya serba salah, aku suka sama kamu, kamu bisa bikin aku nyaman, kayak sekarang, aku nyaman jalan sama kamu. Tapi… Di sini lain, aku juga salah, aku nyakitin perasaan pacarmu pasti.”

“Terus mau kamu gimana?”

“Kalau kamu?”

“Ya kalau aku sih, maunya jalan aja dulu, kita liat keadaan ke depan kayak gimana.”

“………”

“Kasih aku waktu yah…”

“Iya….”

Tengah Malam

1 Juli 2021, jam 1 lebih 23 menit, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta.

Ntah apa yang membuat saya masih terjaga semalam ini, grup percakapan pekerjaan akhirnya berhenti berdentang, tapi rasa kantuk belum juga datang, akhirnya saya membaca apa yang apa yang pernah saya tuliskan.

Membaca tulisan lama, rasanya seperti menyelami diri saya sendiri, rasanya saya yang sekarang, begitu berbeda dengan yang dulu. Saya yang dulu rasanya punya keseruannya sendiri, walaupun mungkin untuk orang lain tidak seru sama sekali, dan ternyata saya menulis dari hal-hal kecil sampai pikiran gila saya, dari keriaan masa kecil sampai kegalauan tentang cinta.

Saya yang dulu, rasanya memang bukan saya yang sekarang, ntahlah kemana dia, sudah hilang dan tenggelam mungkin. Waktu cepat sekali berlalu yah, akan jadi seperti apa saya yang sekarang?

Review Honda Brio E MT 2014

Sebenernya di sini gak bakalan review-review amat sih, jadi kalau anda mencari referensi tentang honda brio yang serius, silakan cari yang tulisan lain.

Ok.. Jadi ceritanya satu bulan yang lalu, saya menukar honda jazz I-DSI, ke Honda Brio E tahun keluaran 2014. Dari berbagai sumber, saya mendapatkan data teknis, mobil yang mempunyai mesin Honda i-VTEC 1,2 L 4 selinder, mempunyari daya maksimal sebesar 90 tenaga kuda di putaran mesin 6200 RPM, dan torsi 114 Nm di putaran mesin 4900 RPM, mempunyai feature DBW, EPS, dual airbag SRS, dan ABS. BTW data teknis ini belum tentu tepat sih, jadi ya udah lah yah.

Sebagai orang yang terbiasa dengan Honda Jazz, pertama kali masuk ke kabin Honda Brio ini adalah kecil, dan berisik, kekedapan kabin mobil ini, agak kurang sih, jadi suara ban dan suara-suara lain di luar mobil masuk ke dalam, bahkan suara ACpun terdengar di dalam kabin, tapi hal ini bisa dimaklumi, ini mobil kelasnya LCGC, yang mana punya stigma mobil murah, jadi beberapa aspek kenyamanannya kurang, karena tujuan dibuat mobil ini adalah murah, irit, dan ramah lingkungan.

Mobil ini dilengkapi dengan feature drive by wire (DBW), yang artinya, setiap anda menginjak gas, bukaan gas tidak langsung ke mesin, tapi memberi intruksi ke ECU untuk meningkatkan putaran mesin, jadi anda tidak bisa ngegeber-geber mesin dengan cara menarik kabel gas di mesin. Feature ini membuat akselerasi mobil menjadi lebih halus, dan cocok banget untuk pengemudi yang kakinya kasar, dan terbiasa membuat penumpang mabok perjalanan. Akan tetapi untuk transmisi manual, agak sulit untuk mengatur tenaga, karena selalu terjadi delay ketika gas diinjak, apalagi ketika berangkat untuk pertama kali, yang biasa terjadi, putaran mesin belum naik, tapi pedal kopling sudah lepas sepenuhnya, jadi mobil terasa seperti hilang tenaga dan mau mogok, bahkan bisa mati sama sekali. DBW ini sepertinya lebih cocok untuk transmisi automatis, karena akan membuat mobil melaju dengan halus.

Dari review lain, mobil ini mempunyai kaki-kaki yang cukup keras, dibanding mobil sekelasnya. Tapi hal ini membuat mobil tidak limbung ketika menikung dengan kecepatan yang cukup tinggi, jadi sebetulnya mobil ini cukup nyaman dan menyenangkan untuk dikendarai, bahkan jika dibandingkan Jazz 2004, rasa berkendaranya lebih menyenangkan, walaupun berisik.

Keluar Dari Rumah

Satu minggu ke belakang, saya pulang ke Bandung, lebih tepatnya menginap di rumah orang tua, saya bekerja dari sana selama seminggu. Kenapa saya bilang “menginap”? Karena rasanya memang tidak seperti dulu, padahal saya tinggal di rumah itu sudah sekitar 15 atau 16 tahun, ya sebelum-sebelumnya ada di rumah lain. Keadaannya menjadi asing, walaupun bentukannya masih sama, tapi ketika berada di sana, rasanya berbeda, rasanya bukan lagi rumah, hanya tempat singgah.

Lalu, dimana rumah saya sekarang? Jawabannya, ya di rumah yang saya bayar untuk saya tinggali sekarang. Sudah 5 tahun saya meninggalkan rumah itu, sejak menikah saya memutuskan untuk keluar dari sana, mencari dan membiayai tempat tinggal sendiri, selain karena rumahnya tidak terlalu besar, saya ingin belajar mandiri.

Pada akhirnya, tempat itu bukan lagi rumah saya, tempat itu sudah menjadi tempat lain, walaupun saya akan selalu singgah ke sana. Lalu, dimana rumah saya sekarang? Rumah saya sekarang, ya di tempat yang saya biayai, yang saya beli atau yang saya sewa..

Berinvestasi Biar Cuan

Cuan adalah buzz word yang cukup populer belakang ini. Kata ini mengacu pada keuntungan yang didapatkan dari hasil berinvestasi, dalam hal ini biasanya dalam bentuk saham. Maka, kata berinvestasi sekarang ini sangat lekat dengan besarnya keuntungan yang akan didapatkan.

Tapi saya tidak akan membahas tentang apa itu saham, apa itu investasi, atau bagaimana cara agar cuan besar, biarlah akun-akun jago saham yang bahas soal itu. Saya lebih ingin membahas soal investasi dari pandangan pribadi, lebih tepatnya dari apa yang sudah saya lakukan selama ini.

Dari pertama kali saya kenal istilah investasi, yang tertanam dalam benak saya adalah menunda kenyamanan hari ini, untuk menyamanan di masa depan, dan juga menjaga nilai riil uang yang disimpan agar daya belinya tetap sama di masa depan, dengan kata lain menjaga nilai uang dari pengaruh inflasi.

Apa langkah pertama untuk berinvestasi? Instrument apa yang paling cocok untuk berinvestasi? Untuk orang-orang di masa lalu, berinvestasi dengan membeli tanah, bangunan, atau perhiasan, tapi jaman sekarang instrument investasi bergeser ke surat-surat berharga, reksadana, atau mungkin saham. Tapi saya pikir banyak orang yang lupa, kalau investasi paling pertama itu adalah diri sendiri. Maksudnya adalah bagaimana cara kita untuk membentuk perilaku agar dapat mencapai tujuan investasi. Kembali ke definisi investasi yang saya pelajari, langkah pertama untuk berinvestasi yaa… belajar menurunkan gaya hidup. Langkah ini bisa dipelajari oleh semua orang, menahan diri untuk tidak banyak “jajan”. Sebetulnya ini langkah yang paling sulit, apalagi dengan banyaknya iklan-iklan makanan, tempat nongkrong, atau fashion yang hits-edgy-viral-apalah-apalah itu, tapi dengan kita menahan diri untuk tidak terlalu sering mengeluarkan uang, itu artinya akan ada cukup uang yang tersisa untuk berinvestasi.

Ok, saya sudah bisa menurunkan gaya hidup, lalu apa lagi? Setelah terbiasa dengan gaya hidup yang “biasa-biasa saja”, harusnya akan lebih mudah, tapi sebelum membeli instrument investasi, ada baiknya kita mempunyai tabungan dalam bentuk uang tunai. Iya.. ada yang bilang cash is the king karena hidup tergantung dengan uang tunai yang kita punya, apalagi hidup kadang tidak bersahabat sehingga kita perlu mengeluarkan uang lebih. Sebetulnya beberapa instrument investasi untuk “liquid” dan dapat ditarik kapan saja kita mau, hanya saja, investasi selalu punya tujuan yang harus dicapai, jika investasi bisa ditarik semau kita, rasanya itu bukan investasi, itu namanya tabungan biasa.

Setelah bisa menekan gaya hidup, dan memiliki tabungan, apakah artinya itu saya siap berinvestasi? Ya tentu saja, tapi sebelum membeli instrument investasi, kenali dulu profile risiko anda. Profile risiko ini biasanya dibagi 3, yaitu konvensional, moderat, dan agresif. Tingkatan ini dibedakan oleh risiko yang mau ditanggung oleh pemegang investasi, ingat.. investasi selalu mempunyai risiko berupa kehilangan uang yang diinvestasikan. Saya pribadi mempunyai profile risiko agresif, beberapa portofolio saya adalah instrument yang berisiko tinggi, dan sedikit tips bagi orang-orang yang memiliki profile risiko agresif, selalu gunakan “uang sampah” untuk berinvestasi, artinya uang yang jika hilang seluruhnya, hidupmu tidak terpengaruh sama sekali…. Ya paling sakit hati untuk beberapa hari, tapi hidupmu masih nyaman laahh..

Setelah menentukan profile risiko, silakan cari manajer investasi yang menjual instrument yang cocok dengan profile risiko masing-masing. Soal jenis instrument apa saja yang saya punya, mungkin saya ceritakan selanjutnya, itu juga kalau mood.. haaha