Tentang Kotak

Hidup akan selalu berakhir pada sebuah pilihan, dan melepaskan adalah sebuah pilihan.

Cukup lama aku menyimpan kotak cerita yang ku temukan di sebuah tempat, setelah sekian banyak hal yang aku ceritakan, rasanya aku tidak merasa benar untuk terus menyimpannya, mungkin akan lebih baik jika aku kembalikannya ke tempat semula.

Ku tutup kotak itu seperti pertama aku aku membukanya, ku perhatikan, rasanya kotak itu menjadi sedikit berbeda, sempat terpikir untuk membatalkan rencanyaku, tapi… Tidak.. aku harus mengembalikannya ke tempat semula. Tempat dimana kotak-kotak lain berada.

Kehilangan sebuah kotak ternyata tidak begitu menyenangkan, tapi sudahlah, kotak itu sudah kembali berkumpul dengan yang lain, biarkan dia di sana, mungkin sesekali aku akan mengunjunginya…. Mungkin.. halah..halah..halah..

Kotak Cerita

Suatu hari aku berjalan-jalan di suatu tempat yang dimana banyak kotak tertanam di tanah-tanahnya, seperti sengaja dikubur, lalu dibiarkan seperti itu. Banyak kotak di sana telah rusak, tapi sebagian masih utuh seperti belum lama dikubur. Tak hanya itu, ku perhatikan, setiap kotak mempunyai ukuran, dan warna yang berbeda, serta mempunyai nama. Ada kotak amal, kotak saran, kotak perhiasan, bahkan ada kotak yang bernama kotak palsu, sebuah kotak yang berbentuk segitiga… kotak yang berbentuk segitiga? Hemmm pantas namanya kotak palsu.

Ada satu kotak yang ku temukan dan cukup menarik perhatianku, ringan, berwarna warni, dengan kunci kombinasi berteka-teki. Ku angkat dan guncang-guncangkan kotak itu, rasanya seperti kotak kosong, atau mungkin isinya hanya suara yang berbentuk udara.. mungkin, karena kita tidak pernah tahu bagaimana bentuk suara sesungguhnya, kita hanya bisa tahu kita gelombangnya memasuki telinga dan menggetarkan gendang telinga, lalu kita merasa mendengar suara. Aku coba buka kotak itu, dengan segala teka-tekinya. Teka-tekinya ternyata mudah, hanya menggeserkan slot dengan benar, sesuai dengan pertanyaan, hanya dua pilihan, kanan-kiri, ya-tidak, privasi atau publik, mungkin kotak ini menyimpan sebuah rahasia, atau apa.. aku tidak tahu.

Setelah terbuka, ternyata isinya memang kosong, tidak ada cerita di sana, tidak ada komik, tidak ada buku cerita, tidak ada apapun, lalu bagaimana dia menamai dirinya sebagai Kotak Cerita? Aneh sekali. Akhirnya ku bawa kotak itu, aku mencoba untuk menerka-nerka bagaimana cara kerjanya. Aku coba berbicara tentang diriku, dan kotak itu bereaksi, dia berubah warna, aku terus berbicara, sampai akhirnya lelah sendiri, dan ku pikir, bagaimana jika ku tulis sebuah cerita dan ku masukan ke kotak itu, bukankah kotak adalah suatu tempat untuk menyimpan sesuatu? Lalu aku mulai menulis, aku tulis semua ceritaku, tentang aku, tentang keluargaku, tentang senja, atau tentang…. hemmm…. jus pisang rasa pisang, dan setiap ku masukan ceritaku, kotak itu selalu berubah warna, kadang merah, kadang biru, kadang menghitam… mungkin ceritaku terlalu gelap, sampai dia berubah menjadi hitam.

Kotak cerita itu sudah ku jejali banyak cerita, aku mulai ketagihan, dan mulai berpikir, sampai kapan dia mau menerima semua cerita ini, aku hampir yakin, bahwa kotak ini punya kapasitasnya sendiri, hanya saja, aku tidak tahu sampai berapa banyak dia mau menampung semua ini.

Ku tempatkan kotak itu di meja kerjaku, ku perhatikan setiap warna yang muncul di permukaannya, semakin cantik, semakin menarik, dan aku mulai menulis lagi…

Pandemi

Saya menulis ini bukan karena ingin hits, atau terkenal.. apa lagi untuk nyari penghasilan.. tidak sama sekali. Saya menulis ini agar menjadi catatan bahwa di tahun 2020 muncul sebuah virus yang luar biasa mempengaruhi kehidupan manusia, terutama kehidupan sosial dan ekonomi. Virus menular ini diberi nama sars-cov-2, corona, atau covid19.

Sifatnya beberapa kali lebih menular dari cacar, lebih mematikan, dan bisa berpindah dari manusia ke manusia, membuat penyakit ini menyebar dengan sangat cepat, sampai tulisan ini dibuat sudah hampir setengah juta orang terinfeksi, yaaa angka yang kecil sih di banding dengan jumlah penduduk dunia yang sudah mencapai 7 miliar orang, tapi di dunia modern angka itu termasuk angka yang masif. Berasal dari Wuhan, sebuah daerah di Tiongkok, lalu menyebar ke seluruh dunia.. benar-benar ke seluruh dunia, hampir tidak ada negara yang tidak tertular virus ini, mungkin hanya kutub utara dan kutub selatan yang tidak ada kasus infeksi corona, bukan karena di sana kebal, tapi yaaa.. karena gada orang aja yang ke sana, palingan juga para peneliti yang jarang pulang.

Kehidupan di bumi ini menjadi lebih lambat, karena perpindahan manusia dari tempat yang satu ke tempat yang lain menjadi berkurang, semua orang dihimbau untuk tetap diam di rumah, bahkan di beberapa negara seperti Tingkok.. tentu saja.. Itali, dan beberapa negara lain, tidak termasuk Indonesia, karena beberapa pertimbangan.. mungkin..

Berpergian dibatasi, konsumsi menurun, ekonomi melemah, korban meningkat, dan virus ini belum bisa ditaklukan. Begitu lah kira-kira keadaannya. Saya rasa keadaannya ini akan berlangsung lama, selama manusia masih belum punya kekebalan alami terhadap virus ini, mungkin dia tidak pernah menghilang dari bumi.. seperti cacar.. Dan.. yah ntah apa yang akan terjadi.. kita liat saja, bukan begitu, mike?

Cemas

Setiap hari, saya selalu membuka aplikasi timehop, itu adalah aplikasi yang membuat kita bisa membaca lagi twit, atau postingan baik dari Instagram maupun Facebook, dan setiap hari pula, saya mengingat apa yang sudah saya lakukan, sejauh apa saya sudah melangkah. Umur saya sekarang sudah ada di kepala 3, saya tidak menyangka bisa hidup selama ini, dan tentu saja banyak pencapaian yang sudah saya raih, setidaknya saya bisa hidup.

Setiap hari saya hidup, dan setiap hari itu juga saya selalu berpikir tentang mau kemana saja berjalan, saya bukan lagi saya yang di usia 20an, yang bertindak tanpa memikirkan beberapa hal, saya sadar, waktu produktif saya sudah tidak sebanyak dulu, asumsikan waktu produktif saya tinggal 30 tahun lagi, dan itu waktu yang rasanya tidak terlalu lama. Salah satu ketakutan terbesar saya adalah tidak menjadi apa-apa, dan rasa merasa sampai detik ini, saya belum ngapa-ngapain. Tapi oke lah, setidaknya detik ini, saya punya pekerjaan, saya punya penghasilan yang cukup, tapi selalu berpikir saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, bisa saja tiba-tiba saja, saya kehilangan pekerjaan ini. Pada dasarnya saya bukan orang yang pintar, kadang saya masih melakukan kesalahan, kadang saya merasa bodoh sekali.

Punya pikiran seperti itu, setiap hari membuat kepala saya rasanya ingin meledak, tapi itu yang akhirnya sama memutuskan lagi untuk belajar hal baru. Saat ini pekerjaan programmer, dan saya harus belajar hal yang berbeda dengan apa yang biasa saya lakukan sehari-hari.

Sudah hampir setahun ini saya belajar technical analisys perdagangan komoditas, baik itu komoditas logam mulia, saham, ataupun pertukaran uang. Intinya dengan teknik ini, saya bisa memprediksi, “kemana” harga akan bergerak, apakah akan bergerak naik atau turun. Selain itu, saya mencoba untuk belajar data analisis. Hal ini sebetulkan gak lepas dari programming, tapi hanya sedikit, tidak sebanyak yang jadi pekerjaan saya sekarang. Belajar untuk mencoba menganalisis dan mengolah data, menjadi informasi, ternyata lumayan menyenangkan juga.

Saya tidak tahu, mana hal yang akan membawa saya lebih jauh ke depan, dua hal yang saya coba pelajari, sebetulnya belum membuahkan hasil, bahkan saya tidak tahu, apakah akan berhasil apa tidak, yah.. yang penting saya mencoba, bahkan ketika saya gagal, saya tidak akan kecewa, karena saya tahu, saya sudah berusaha. Saya cemas, tapi saya berusaha..

Sephia

“Aku gak pernah lho jadi seperti ini.”

“Jadi seperti apa?”

“Ya seperti ini, jadi seseorang di antara dua orang.”

“…….”

“Kalau kamu, pernah?”

“Gak juga, aku kan pacaran baru 2 kali, 3 kali deng, sama kamu ini. “

“Gimana rasanya punya dua pacar? Dia sayang kamu juga kan? Kamunya sendiri, sayang gak sih sama dia?”

“Gimana ya? Rasanya…. jujur rasanya ada rasa bersalah sih, di satu sisi, aku pengen banget jadi pacar kamu, tapi di sisi lain, aku ada dalam satu hubungan.”

“Hoooo.. Kenapa gak balik aja ke hubungan yang itu?”

“Tidak semudah itu sih…”

“Masa? Kita putus ya…”

“Jangan…. aku tuh gakan kayak gini kalau gak sayang banget sama kamu, selama ini, rasanya gada cewek yang bikin aku ngerasa seeeee… ini…. “

“Se.. ini apa? Ini gmana maksudnya?”

“Sesayang ini, senyaman ini, ntah kenapa aku suka banget ngirim chat tengah malam kayak…. kemaren-kemaren, walaupun kamu gak balas, tapi seneng aja gtu.. kayak punya temen cerita, temen berbagi tentang banyak hal yang aku alami di hari itu.”

“Emang ke pacar kamu gak gtu?”

“Pacar aku kan kamu..”

“Pacar yang satunya…. “

“Heu… gak, dari pertama kita kenal, ampe pacaran, aku gak pernah cerita sebanyak aku cerita ke kamu.”

“Bohong….”

“Bener…. masa aku bohong..”

“Bisa aja kan?”

“Please… percaya deh sama aku..”

“Aku juga heran, kamu tuh suka banget cerita soal apa yang kamu ngerjain pas aku dah tidur. Awalnya aku mikir kamu tuh aneh banget, cerita gak jelas, panjang pula, tapi lama kelamaan, kok aku seneng ya kamu cerita kayak gtu, kadang malamnya aku jadi penasaran cerita apa lagi yang mau kamu kirimkan ke aku.”

“Jadi karena itu kamu mau ma aku?”

“Ntah lah, yang pasti aku juga seneng baca cerita kamu. Kok kamu bisa banyak cerita gtu sih? Kamu tuh kelihatan pendiem.”

“Ya emang kan? Kadang aku terlalu malas untuk berbicara, capek. Makanya aku lebih suka chat, karena sebenernya pikiranku tuh berisik banget, dan cuma akan keluar sama orang-orang yang bikin aku ngerasa nyaman.”

“Seandainya, posisiku dibalik, aku jadi pacarmu yang jauh di sana, lalu kamu ketemu sama dia… kira-kira kamu selingkuh juga gak?”

“Nggak sih kayaknya, kalau aku akan selingkuh sama dia, ketika aku lagi lagi bareng kamu, berati hubungan ini gakan terjadi. Aku kan dah bilang, aku gakan selingkuh kalau gak sayang banget banget kayak gini…”

“Kamu belum jawab semua pertanyaanku lho..”

“Ya, itu… Kamu tuh sayang gak sama pacar kamu?”

“Ya… lumyan sih.. “

“Bilang aja sih kalau sayang, aku ngerti kok, aku kan cuma selingkuhan.”

“Kok gtu?”

“Ya emang kan? Kenapa sih selingkuh?”

“Karena… aku sayang kamu..”

“Halah.. gombal…. aku tuh yakin.. selingkuh tuh bukan hanya karena sayang, tapi ada hal yang lain yang bikin orang itu selingkuh.. ya kan? Aku tanya deh, dia cukup perhatian kan sama kamu?”

“Iya sih…”

“Menurutku, dia cantik, pinter juga, perhatian, dia gak pernah macem-macem sama kamu kan?”

“Kayaknya..”

“Lalu apa yang bikin kamu selingkuh?”

“Kenapa sih nanya-nanya kayak gitu?”

“Karena aku selingkuhan kamu, dan aku gak puas dengan jawaban ‘aku sayang kamu’.”

“Boleh ‘call a friend’ gak?”

“Call pacarmu maksudnya?”

“Sejujurnya aku juga gak tahu kenapa aku sayang kamu, dan mungkin mencintai seseorang tidak butuh alasan jelas. Aku bener-bener gak tahu kenapa aku suka sama kamu, yaman sama kamu, pengen ada untuk kamu, dan pengen kamu ada untuk kamu. Pertanyaan itu terlalu sulit untuk aku jawab, kenapa aku selingkuh, kenapa aku menjadikan kamu pacar padahal aku lagi punya hubungan. Mungkin cinta emang rumit aja gitu, seperti kata kamu, cinta memang tak selinear x=y. “

Tentang Restu

“Kamu marah sama aku?”

Gatau….

“Dari tadi kamu diam aja, udah gak kangen lagi ya sama aku?”

Kangen lah…

“Terus?”

Ya udah, gak ada terus-terusan.

“Heuh! Ya udah lah, kita pulang aja.. males aku kalau kayak gini.”

Tuh kan, kok malah kamu yang marah?

“Ya abisnya, kamu diem gitu, kalau ada masalah yang bilang, jangan diem gitu, aku kan jadi bingung, mau kamu apa, aku tuh bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu.”

Kamu juga kalau marah sukanya diem.

“Oh jadi ngebalikin? Kenapa atuh kamu gak pernah bilang kalau aku kayak gitu? Bagian kayak gini, kamu ngebalik-balikin ke aku. Pulang aja deh.. “

Jangan… 

“Abisnya kamu gitu, mau ngapain kalau kamu juga diem gitu?”

Iya deh, maaf, abisnya….

“Abisnya apa?”

Abisnya aku tuh bingung, sama hubungan kita, sekarang kita gimana? Setelah…….

“Setelah aku dilamar cowok itu?”

Iyah…..

“Hemmm………..”

Kok malah nangis sih?

“Gak tahu….”

“Tuh kan?”

Abisnya aku gak tega kalau harus ngecewain ortuku, kemaren waktu acara, liat wajah mereka, kelihatan seneng banget, kalau aku harus bilang  yang sebenernya, rasanya aku gak tega….

Terus? Sekarang aku pacaran sama tunangan orang?

“Tau ah, udah sih, jangan bahas itu dulu.. aku tuh kangen sama kamu.”

Masa sih?

“Iya.. Kamu tuh yang gak kangen aku.”

Kangen kok, kadang aku heran, kenapa aku segininya ya sama kamu? Aslinya aku takut banget lho.

“Takut kenapa?”

Ya, takut aja. Kamu sadar gak sih, beberapa bulan dari sekarang, kita tuh udah gakan kayak gini?

“Iya sih………..”

Hemmm udah, jangan nangis gitu, gak enak dilihat orang.

“……………………………………………………………………………………………………………………”

Udah ah, aku masih di sini kok, aku masih bareng kamu.

“Aku sendiri bingung sih, di satu sisi, aku sayang sama kamu, tapi di sisi lain, aku juga gamau ngecewain keluarga aku.”

Iya.. aku mengerti, hemmm…. Jadi kamu kapan nikah?

“Masih tahun depan sih, soalnya masih ngitung gitu, ortuku juga masih bulak balik ketemu sama keluarga dia, nentuin tanggal.”

Kita kawin lari aja yuk, abis kawin, kita lari..

“Gamau ah, capek..”

Hahaha… Kamu mah bilangnya sayang, tapi diajakin kawin gamau.

“Ya abisnya, pake lari segala. Lagian kalau kita kawin lari, aku gak yakin siapa yang bakalan jadi wali, terus aku gak siap dengan omongan-omongan dari keluarga besarku.”

Ahh paling juga kita dikucilkan dari keluarga untuk beberapa tahun, gakan sampai 5 tahun lah…

“kata siapa?”

Kata aku, tadi….

“Ah kamu mah, gak segampang itu kali, banyak yang harus dipikirkan, dan kayak restu dari ortu, kayaknya aku gak berani kalau nikah tanpa restu dari orang tuaku.”

Seberapa penting sih restu orang tua dalam pernikahan?

“Menurutku penting sih, aku sih yakin pernikahan yang baik harus dimulai dengan baik juga, misalnya dengan restu orang tua itu.”

Jadi kamu lebih memilih menikah dengan cowok yang gak kamu suka, tapi dapat restu dari orang tua, dibanding menikah dengan cowok yang kamu sayang, tapi harus kawin lari dan gak pernah dapat restu?

“Sepertinya gitu sih….”

Hemmm… menurutmu, inti dari pernikahan apa sih?

“Untukku? Ntah lah, mungkin saat ini untuk ibadah aja.”

Kalau cuma untuk ibadah, rasanya masih banyak ibadah yang bisa dilakukan tanpa harus dikerjakan seumur hidup.

“Tapi pernikahan tanpa restu rasanya bukan sesuatu yang bagus.”

Walaupun dimulai dengan rasa sakit? Walaupun dilakukan tanpa ada rasa cinta?

“Iya..”

…………………………………………………………………………………………………………….

“Kadang aku takut kalau nikah tanpa restu pernikahanku gak baik-baik aja, banyak masalah gitu.”

Emangnya ada jaminan kalau nikah dengan restu orang tua, pernikahan jadi baik-baik aja?

“Ya itu gimana kitanya, bagus atau nggaknya komunikasi di antara kita berdua.”

Ya sama aja dong, tanpa restu kalau kita bisa berkomunikasi dengan baik, pernikahan akan baik-baik aja. Rasanya, pernikahan pasti akan banyak masalah sih, dan yang membedakan pernikahan itu akan berhasil ya perasaan kita, cara kita berkomunikasi, cara kita berdamai dengan ego masing-masing, dan hal-hal lain yang aku yakin gak punya restu.. Kadang aku gak ngerti, kenapa restu menjadi sangat penting? Ok.. restu ortu emang penting, tapi kalau cuma gara-gara gak dapat restu, lalu….

“Lalu? Lalu apa?”

Ntahlah…. Aku sayang sama kamu…..

“Aku juga.. Sayang sama kamu…..”

Nanti kamu mau undang aku?

“Ya gak lah, bisa pingsan aku liat kamu. Boleh gak aku minta kamu gak kemana-kemana?”

Aku gakan kemana-mana kok…  Gila ya aku… Pacaran sama tunangan orang.

“Iya.. dari dulu bukan gilanya?”

Hidih…. I’m your best friend, and i love you… Aku gamau liat kamu jatuh sendirian.”

“Gombal…..”

Pertama Kali

Lama banget sih?”

“Hehe, iya maaf, yuk naik, jalan kita.”

Sedikit lama aku sampai ke rumah dia, karena sempat tertidur, beruntung, jalanan hari ini tidak terlalu padat, dengan motor aku belah jalanan Kota Bandung, dan sampai ke rumahnya dengan sedikit terlambat, 45 menit tepat dari waktu yang dijanjikan.

Ini pertama kalinya aku mengajak dia jalan, setelah bertahun-tahun kita kenal. Ya, dia teman masa kecilku. Kami bertemu saat menempuh sekolah dasar.

“Kita jadi nonton kan?”

jadi dong.. Kamu tuh lama banget, emang macet banget ya?”

“Hehe, iya macet, tadi ada si Komo lewat heheh.”

Tentu saja dia tahu itu tidak benar, kami tumbuh saat Si Komo masih dikenal sebagai penyebab kemacetan. Jalanan Kota Bandung selalu padat ketika akhir minggu, tapi si komo lewat adalah hal yang tidak akan pernah terjadi.

Panas banget yah? Kamu sih lama.. Ketiduran ya, pasti?”

“Hehe.. Iya.. Maaf.. Aku juga gak sadar sih ketiduran, kaget aku waktu liat jam, udah jam segitu aja.”

Pantes,,,, mandi gak kamu?”

“Ya mandi laahhh…. Emang gak kelihatan ya?”

Nggak.. Haha”

“Ihhhh”

####

“Ternyata filmnya masih lama, kita makan dulu aja yuk.”

Yuk, makan dimana?”

“Kamu, mau makan apa?“

Hemm… Terserah sih…”

“Makan beling mau?”

Hahaha.. Ya gak lah… Ya udah, kalau gitu kita ke foodcourt sana aja ya?“

###########

“Gila, panas banget ya?“

Iya, eh kamu mau pesen apa? Ini menunya.”

“Hemmm… Tulisin hehe.. Aku mau nasi soto aja, sama teh botol.”

Kenapa? Tulisannya jelek ya? Hahah..”

“Hahah.. Iya, tulisanku tuh gak berubah dari dulu, gak kayak kamu, tulisannya bagus, makanya jadi sekretasi abadi kan..”

Iya, tapi malah jadi capek lho kalau jadi sekretaris gitu, soalnya nulisnya jadi dua kali, ya di papan tulis, ya di buku..”

“Kasian… Kalau dipikir-pikir, ngapain juga yah kita susah-susah nulis gitu, kan ada di buku paket, bisa dibaca di sana, capek,, iya,, tulisan jelek, tetep, dibaca gak bisa.”

Hehhe.. Itu mah kamu aja, tulisanku bagus kok. Jadi selama sembilan tahun kita gak ketemu, kamu kemana aja?”

“Ada aja sih di Bandung, tapi gak di daerah kita dulu, setelah kita lulus itu, aku lanjut di sekolah gunung, satu cawu di sana, pindah ke kota, sampai kuliah, jadi ya tetep di Bandung sih. Kamu masih suka ketemu sama temen-temen kita dulu?“

Beberapa masih sih, inget Lusi?“

“Yang kecil itu?“

Iya, tapi sekarang dia tinggi lho, melebihi tingginya aku. Kami kadang masih ketemuan sih, terus yang lainnya.. Beberapa kali ketemu Agi, waktu berangkat ke Bandung.. Terus siapa lagi ya? Hehe ya pokoknya gitu lah.. Kamu gak pernah ketemu siapapun?“

“Gak kayaknya, kemaren aja palingan sama Agi, itu pun gak lama… Eh tapi sempet gak sengaja ketemu si Arip, aku lupa gitu wajahnya, makanya pas nyapa.. Aku rada bingung gitu, soalnya kan waktu sekolah kurus, pendek gitu, rambutnya lurus, kemaren ketemu, rambutnya keriting, ganti rambut apa dia? Hahha kalian masih satu sekolahan kan?”

Iya, jadi kayak pindah kelas, ya walaupun gak semua sih, termasuk kamu..”

“Arip tuh temen berantemku lho, kita sering banget berantem, heran aku.. Dia seneng gitu bikin aku emosi.”

Terus, kamu menang?“

“Ya gak lah… Hampir gak pernah aku menang dari dia, haha.. Tapi gitu-gitu dia tuh jadi temen share mimpi tahu gak.. Aku pernah yah, punya ide bikin mobil, terus tahu gak apa yang dia lakukan?

Apa?“

“Tiba-tiba dia ngasih uang gitu, receh, bilangnya.. Untuk bikin mobil hahha..”

Iya? Hahah seserius itu?“

“Iya.. Haha.. Kadang kalau diinget-inget lucu.”

Aku kok gatau ya?“

“Kita kan beda geng, kamu kan di geng anak-anak pinter, aku ada di geng kasta bawah.. Hehe.”

Kenapa atuh gak gabung?“

“Kenapa ya? Asa cangung aja sih.. Banyak ceweknya juga geng kamu mah, aku kan anaknya pemalu.”

Malu-maluin kali kamu mah.”

“ihhh kalau malu-maluin kenapa diajakin nonton atuh?”

Heheh.. Eh hari ini kan, ada pasar seni, abis nonton kita ke sana yuk.”

“Hayuk.”

Kamu tahu kan pasar seni apa?“

“Gak.”

Hahaha dasar gak gaul, udah yuk, filmnya udah mau mulai.”

“Heheh yuk.. Aku yang bayar yah.”

Ih.. Makasih yah hehe”

############

Filmnya biasa aja ya? Tahu gitu, kita nonton yang satunya.”

“Hahaha.. Iya, kenapa atuh?“

Hehhe.. Gak apa-apa.. Eh jadi kita ke pasar seni?“

“Jadi lah.”

Asik.”

#################

“Aku baru tahu ada acara kayak gini. Hehe”

Kemana aja? Makanya jangan kerja terus, gaul sekali-sekali.”

“Ya gimana ya? Abis lulus tuh kayak kehilangan target gitu, maksudnya ketika kita.. Ehh aku.. Kamu kan belum lulus yah hahha.. Ketika aku kuliah targetnya itu jelas, lulus.. Nah sekarang, kayak gak punya target gitu, ya paling kerja.”

Kamu tuh, kalau kerja kayak gak kenal waktu gitu. Kalau aku kebangun tengah malam, pasti masih ada kamu online,”

“Ya, namanya juga freelance, kerjaannya dikerjain sendirian, kadang harus bergadangan gitu, ngerjainnya. Kamu sendiri, gimana skripsinya, udah sampai mana?“

Sampai mana ya? Gak tahu.. Hehe.”

“Lah, skripsi sendiri gak tahu.. Gimana sih? Kayak gak niat tahu gak?“

Abisnya gimana ya? Ada masalah gitu aku, makanya suka males ngerjainnya.”

“Masalah apa?“

Ada lah.. Susah kalau diceritain.”

“Hemm… Kamu sadar gak sih? Kita tuh dulu hampir gak pernah berinteraksi, bahkan ketika kamu duduk di bangku belakangku, kita gak pernah gitu saling sapa.”

Iya yah.. Kenapa atuh kamu gak pernah nyapa aku? Sombong.”

“Hehe malu soalnya… Kan udah aku bilangin, aku tuh pemalu, bukannya gak mau nyapa kamu, cuma bingung aja gitu.. Setelah nyapa mau ngapain.”

Iya, dari dulu kamu tuh pendiem, baru sekarang aja, aku tahu ternyata kamu bisa diajak ngobrol. Ternyata pada udahan ya? Harusnya kita datang siang-siang, panggungnya pasti masig rame.. Acara ini itu, acara empat tahunan lho.”

“Iya?“

Kamu gak tahu?“

“Gak tahu… Hahhaha.”

Beneran gak gaul ya kamu? Acara segede ini, kamu gak tahu.”

“Hehehe.”

Gak kerasa ya kita udah muter-muter, seharian.”

“Heheh.. Seneng gak kamu?“

Seneng… Makasih ya.. Heheh.”

Samar-samar suara seniman jalanan masih terdengar ketika, aku mengambil motorku dari tempat parkir, bersiap mengantarkan dia pulang. Menyisir jalanan kota Bandung yang masih rindang dengan pepohonan. Setelah sekian lama, perasaan itu muncul lagi.. Perasaan masa kecil, yang tertanam jauh, hampir tidak pernah tersentuh.

Pada Sebuah Percakapan

“Aku kangen sama kamu.”

“Masa? Kenapa?”

“Iya, aku kangen dengan banyak hal, dengan obrolan kita, dengan becandaan kita. Lucu aku pikir, rasanya tidak terlalu lama kita saling kenal, tapi kamu membuatku merasa begitu……..”

“Begitu???”

“Dekat… Ntahlah, yang pasti selama kita tidak bertemu, aku masih memikirkan tentangmu, makasih yah sudah mau bertemu.”

“Haha.. yaya.. Kamu sekarang masih di tempat kerja yang sama?”

“Masih, aku masih di tempat kerja yang sama, tempatnya cukup nyaman untuk dijadikan tempat berkegiatan sehari-hari.”

“Bagus dong, dengan sifatmu yang gampang bosan, tempat kerja itu cukup bagus untuk tidak membuatmu bosan.”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku? Aku masih seperti ini, kadang kerja, kadang tidak, kadang kerja di rumah, kadang harus pergi ke suatu tempat.”

“Asik dong, kali-kali ajak aku pergi ke suatu tempat, aku ingin merasakan pergi bersamamu lagi, menyenangkan. Aku suka ketika kita membahas suatu hal ketika aku sedang menyetir, atau ketika berdebat belokan mana yang harus aku ambil agar tiba lebih cepat.”

“Kamu kalau lagi kangen emang suka bahas yang dulu-dulu gitu ya?”

“Hahaha… kenapa? Ada yang salah?”

“Nggak sih, cuma lucu aja, kamu tuh banyak banget cerita sama aku, tentang masa kecil kamu, tentang kerjaan kamu, tentang orang-orang yang di jalanan, tapi kamu belum pernah cerita soal wanita.”

“Soal wanita? Wanita yang mana?”

“Wanita yang mana saja, wanita yang membuatmu berbunga-bunga, atau wanita yang kamu pikirkan terus menurus, atau…. ya yang bagaimana saja..”

“Ya ada sih, satu wanita, kita sempat berhubungan sekitar satu tahun, setelah itu kita putus, lalu dia memutuskan menikah dengan pria lain.”

“Lalu?”

“Lalu? Ya sudah… dia sudah menikah, dan tidak ada, kelanjutannya..”

“Dia kayak gimana sih?”

“Kayak gimana ya? Hemm… kayak kamu…”

Kayak aku gimana? Dia yang kayak aku… atau… aku yang kayak dia?”

“……………”

“Ohh… aku yang kayak dia… bilang aja gak apa-apa kok. Kadang aku gak ngerti deh, kenapa sih kamu segitunya ma aku? Aku gak pernah lho nganggep kamu lebih..”

“…………”

Walaupun begitu, aku cukup nyaman kok sama kamu, apa yah,,, kamu tuh sebenernya nempatin aku, di kotak nyamanku, dengan banyak hal yang kamu lakuin ke aku, aku selalu ngerasa aman, bareng kamu.. cuma ya itu, aku gak bisa lebih ke kamu

“Iya, aku tahu…”

“Aku pulang yah…”

“Jangan…. sebentar lagi.. please.. Aku gak tahu harus ngomong apa lagi, aku cuma ingin bersama kamu, sebentar lagi, hanya sebentar. Terlepas dari siapa mirip siapa, perasaanku ke kamu, itu nyata, dan…”

Stop! Aku gak mau bahas ini.

“Oke, kamu ada kerjaan dimana lagi?”

Kalau tidak salah, bulan depan aku ada kerjaan di Bali, lumayan, sambil jalan-jalan. Kamu sendiri, ada rencana main-main lagi gak sih? katanya, traveler, penikmat perjalanan.

“Hahaha…. Ntahlah, mungkin.. aku mau ke Bandung, aku mau ke Lembang, aku nyimpen kamu di situ, di antara pohon-pohon rindang tepi jalan, di antara lampu malam, dan jalan layang Pasupati.”

Kamu tuh, gak bisa ya lepas dari situ? Let me go.. udah deh.. kita tuh beda jalan, dan aku gak bisa bareng kamu. Terima itu.. kita harus hidup di jalan masing-masing..

“…………..”

“Udah ah.. aku pulang yah… kamu hati-hati, have a good life.. Seneng bisa ngobrol lagi.”

“Na….”

………………………….

Takan Ada Lagi

Hujan belum berhenti sejak sore tadi, masih mengguyur jalanan kota. Di antara mobil-mobil yang bergerak senti demi senti, aku coba bersabar, menghibur diri dengan deretan lagu yang diputar seseorang yang keberadaan mungkin tidak akan pernah aku tahu, wiper kaca mobilku masih sibuk membersihkan air yang turun dan mengganggu pandanganku.

“Nggak bisa, aku nggak bisa terus-terusan seperti ini.”

Ingatanku melayang pada suatu ketika. Suatu ketika dimana akhirnya aku harus menyerah, dan membiarkan dia pergi. Sejak saat itu, dia bukan siapa-siapa lagi untukku…. lebih tepatnya.. aku bukan siapa-siapanya lagi untuk dia… Bukan lagi tempat untuk dia bercerita, bukan lagi tempat untuk dia meminta perhatian, seraya bermanjaan, tidak akan ada lagi, sentuhan-sentuhan, dan tidak ada lagi kata-kata cinta, cumbu rayu, atau gombalan-gombalan rindu… Sekarang, aku hanya seseorang yang dia pernah kenal.

Hal yang paling menakutkan ketika ada dua hati yang memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing adalah ketika dua hati itu menjadi dua orang asing, yang tidak lagi saling merasa, bahkan tidak lagi saling mengenal,  dan rasanya semua hal yang pernah terjadi tidak menjadi apa-apa lagi. Hanya ingatan yang siap untuk dilupakan.

Pelan tapi pasti, seperti hati yang pada akhirnya akan saling mengakhiri, kemacetan mulai terurai, jalanan menjadi senggang, mobil-mobil mulai berjalan dengan kecepatan yang cukup untuk dikatakan kendaraan, dan lamunanku akhirnya harus selesai juga, aku pacu mobilku agar sampai ke rumah… rumah.. dimana aku bisa berdiam sendirian, dan melupakan semuanya.

 

Polos

Dia mengomel tanpa henti, sepertinya sedang kesal,,, kesal kepadaku. Ntah kenapa jika di dekatku dia senang sekali berbicara, mendebat, dan mengomel seperti ini. Awalnya aku tidak menyangka dia tahan untuk berbicara panjang dan lebar seperti ini, di kesehariannya dia wanita yang cukup pendiam, tidak banyak berbicara, lebih banyak mendengarkan jika sedang berkumpul dengan teman wanitanya, tapi dengan ku, dia berubah, dia cukup banyak bicara, banyak hal yang diceritakan, banyak hal yang didebat, dan banyak hal yang dia komentari tentangku, kadang dia menyebalkan…  Dan malam ini, dia mengomel panjang lebar karena aku salah berbicara. Ya.. Aku tidak bermaksud menyinggungnya, tapi kata “polos” yang aku sebutkan sesaat sebelumnya, membuat dia kesal.

Aku tidak bermaksud untuk membuat dia merasa tidak tahu apa-apa dengan menyebutnya polos. Mungkin aku salah memilih kata. Aku adalah orang yang kadang berbicara dengan sedikit kiasan, tidak langsung berbicara blak-blakan, ntah, mungkin karena aku takut menyinggung orang lain atau apa, yang pasti aku bukan orang yang straight to the point. Tapi dia terkadang tidak bisa mengerti itu, maksudnya, kadang tidak mengerti apa yang aku bicarakan, dan aku harus mengulangi apa yang aku maksud dengan jelas, sejelas-jelasnya. “Kadang aku ngerasa kamu tuh polos.” Kalimat itu yang membuat dia mendebatku, berbicara panjang lebar, memaksaku menjelaskan apa maksud kalimat yang aku katakan tadi, berkali-kali aku jelaskan, diselingi kata-kata maaf, agar dia berhenti, tapi dia tidak puas dengan penjelasanku.

Aku mencari tempat yang cukup aman untuk berhenti. Aku hentikan mobilku, matikan mesin, dan ku tatap dia, dia masih mengomel, sepertinya dia kesal sekali, dan aku mulai kehabisan kata-kata untuk menjelaskan maksudku, dia sulit sekali dipuaskan. Aku diam,,,, lalu aku kecup bibirnya,,, lembut,,, cukup lama ku menciumnya,,, agar kesalnya mereda ku berharap,,, ku lepas bibirnya,, dia diam,,, dia menatapku, aku tersenyum. lalu dia berkata, “kamu bilang aku polos karena suka tanya-tanya istilah pekerjaanmu ya?”

“Bukaaaann….” Kataku sambil sedikit berteriak, aku nyalakan mesin, lanjutkan perjalanan, lalu aku mematikan radio. Malam ini aku ingin mendengarnya mengomel, ntah sampai seperti apa dia kuat seperti itu. Aku ingin menikmati ocehannya, biarlah.. Kecupanku tidak membawa hasil apa-apa. Dia mendebat, mengoceh, dan mengomel sepanjang jalan dan aku hanya bisa mendengarkan, sambil sesekali menjawab ocehannya..  ahhhh, aku sayang dia..