Marahin CS!

Sungguh judul yang tidak mengikuti kaidah kebahasaan.. Tapi sudahlah.

Jadi begini, beberapa hari sebelumnya, saya memesan barang lewat salah satu toko online yang bernama jededotaidi. Salah satu hal yang membuat tertarik untuk berbelanja di sana adalah harga promo yang lumyan gila, plus gratis ongkos kirim. Singkat cerita setelah selesai berbelanja dan mengkonfirmasi pembayaran, dan menunggu beberapa hari, ternyata pemesanan saya dibatalkan.. Iya, pesanan saya yang sudah dibayar itu, DIBATALKAN! Kan gila yah.. Maunya apa coba jededotaidi ini?

Sebagai pelanggan yang kecewa, tindakan paling logis adalah mengadu ke bagian layanan pelanggan, yang lebih dikenal dengan istilah customer service atau CS. Dengan “nada” memarahi, gak nada juga sih, saya kan chat online. Ya sudahlah, lanjut.. Setelah marah-marah, solusi yang ditawarkan, adalah mengembalian uang kembali, ya iyalah yah.. Pesanannya sudah dibatalkan, solusinya ya.. Uang kembali..

Belakangan saya cari tahu kenapa pesanan saya dibatalkan begitu saja, kemungkinannya promo diskonnya sudah selesai, tapi di sistem mereka diskon itu masih tertera, mungkin admin sistemnya agak lambat update sistem, atau bagian bisnis yang lupa memberitahu kalau promonya sudah berakhir, kalau sudah begini, bagian CS tidak tahu menahu soal itu, tiba-tiba disuruh membatalkan pesanan, dan tiba-tiba dimarahi, kasian yah? Iyah.

Sebagai orang yang bekerja di salah satu start up e-commerce (kesannya gak keren gitu, kalau pake istilah “toko online” hahhaa.. Fak lah), saya tahu pasti bagaimana para CS ini bekerja, kadang kesalahannya memang bukan dari mereka, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, bisa jadi di bagian bisnis, produk, atau malah bagian developer. Tapi semua kesalahan itu – yang biasanya bikin kita marah- dilampiaskan ke satu bagian, yaitu bagian layanan pelanggan, alias customer service, alias CS. Hal ini terjadi di hampir semua perusahaan, dan yang lebih memprihatinkan lagi kalau CS itu merupakan tenaga kerja luar perusahaan.

Kadang, kita sebagai pelanggan tidak pernah mau peduli, atau sedikitnya menahan sedikit emosi ketika berbicara dengan CS, yang sebetulnya bukan salah mereka juga. Mereka cuma orang yang kebetulan ada di posisi paling depan, untuk menerima semua emosi kita. Mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang diberi kebahagiaan dalam hidupnya, setelah menjadi pelampiasan emosi…. Ada amin?

Advertisements

Kaliurang

Rasanya sudah lama sekali tidak menulis hal-hal kecil yang terjadi di keseharian, mungkin karena saya lebih banyak menulis mengenai perasaan. Terdengar melankolis..

Ntah, tapi saya memang senang sekali menuliskan tentang perasaan, yang kadang memang terlalu pribadi. Tapi apalagi cara yang baik untuk mengurangi perasaan yang tidak menyenangkan, ketika tidak ada orang yang bisa diajak bercerita? Tapi sudahlah,,,

Jadi bagaimana akhirnya pekannya? Akhir pekan saya ada di sini


Di bawah kaki Gunung Merapi, eh gak di bawah banget sih, mungkin di jempolnya.. atau mungkin ujung kuku? Hemm.. Saya tidak tahu jarak tepatnya sih, tapi Merapi begitu terlihat jelas dari sini. Suasana sepi terasa sekali, rasanya sudah lama gak ngerasain suasana kayak gitu. Menikmati suasana tanpa adanya ingatan, atau kenangan sekali-sekali memang perlu, agar yang dinikmati bener-bener suasananya, udaranya, jalan-jalan yang lurus dan sepi, atau mungkin penduduk asli sana yang kebetulan melintas dan sesekali menyapa..

Baiklah tulisannya akhirnya diterbitkan saja, walaupun ini udah mau weekend lagi,,,

Tulisan ini kayak wawancara pemenang lomba puisi, BASI! MADINGNYA UDAH MAU TERBIT!

 

Ini Yogyakarta

Tidak terasa, ternyata sudah tiga bulan saya di sini, di Yogyakarta. Ada hal-hal yang saya baru tahu, setelah tinggal di sini. Ternyata Kota Yogyakarta, adalah kota selemparan batu. Kotanya ternyata kecil sekali, jalan sebentar saja, itu sudah masuk ke Kabupatennya, biasanya langsung masuk Kabupaten Sleman. Jadi jangan aneh kalau lagi jalan-jalan ke Yogya, tapi banyak sekali tugu kecil bertuliskan Sleman, itu artinya kamu sudah tidak berada di Kota Yogya. Selain itu, teori relativitas untuk jarak adalah hal yang nyata di Kota ini. Sebagai perbandingan, di Bandung, saya menempuh jarak kurang lebih 20 KM dari rumah ke tempat kerja, nah di Kota gudeg ini, jarak 10 KM saja, sudah dibilang jauh, dan memang terasa jauh sih, mungkin karena suasana tempat yang begitu mencolok, katakan suatu daerah berjarak 10 KM dari KM 0 Kota Jogja, mungkin daerah itu sudah menjadi suasana kota kecil, dimana kehidupan berjalan lebih lambat dibanding, kecepatan pembangunan kota, apabila jarak itu ditambah 5 KM lagi, suasa berubah menjadi suasana pedesaan, dimana seorang ayah adalah petani atau pedagang di pasar, dan ibu adalah ibu rumah tangga, yang tiap pagi rajin menyapu halaman. Makanya jarak 15 KM, perbedaaan cukup mencolok, jadi terasa jauh.

Kota Yogya adalah kota yang nyaman, tenang, cenderung sepi. Jalanannya gak sepenuh di Bandung, apalagi Jakarta. Suasana romantis masih menyelimuti kota ini, makanya kalau jalan ke sini, bawa cinta yang banyak, tanam di sini, biarkan cinta itu hidup. Urusan kisah cinta berlanjut atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting kamu pernah jatuh cinta di sini. Suatu saat kamu datang lagi kemari, kenanglah kenangan itu, buat puisi paling indah untuk mantanmu, tapi jangan bikin vlog sambil nangis, yang akhirnya ciuman juga sama mantan… jangan pokoknya jangan kayak gtu..

Jalanan Kota Yogya itu isinya orang-orang yang sepertinya masih bingung, kapan harus ngerem, kapan ngotot, terutama pengendara sepeda motornya. Saya curiga sebelum bener-bener nabrak, mereka gakan berhenti. Pengendara di sini tuh unik, Saya sering nemu pengendara yang kalau belok, bukannya pake lampu sein, malah pake lampu hazard yang notabene lampu tanda bahaya, kan belegug ya? atau pengendara motor yang gak peduli ada penyebrang jalan, pokoknya “hajar” saja, dengan pandangan lurus ke depan, tanpa berusaha untuk rem sama sekali. Tapi pengedara dengan kelakuan seperti itu, ketika melihat lampu kuning, mereka mengurangi kecepatan, dan berhenti di belakang garis lho, bukannya nambah kecepatan, dan terobos lampu merah. Jadi sebenernya mereka bukan orang-orang rebel yang suka melanggar aturan, hanya saja “komunikasi jalan” mereka kurang bagus, jadi terkesan brutan.

Selama di Yogya ini, ada perbedaan yang cukup mencolok, yaitu biaya hidup, terutama biaya makan, makanan di sini murah-murah kalau dibandingkan Kota Bandung. Rata-rata di bawah lima belas ribu rupiah, dengan porsi jumbo, yang membuat kamu kenyang seharian, jadi tidak perlu sering-sering makan, eh tapi itu gimana perut kamu sih. Tapi yang pasti untuk orang-orang yang beranggapan porsi makanan adalah segalanya, silakan datang ke sini, dijamin puas.

Setelah tiga bulan, saya bertemu banyak yang berbeda di sini, hal yang mungkin tidak akan dijumpai di Kota lain, hal yang membuat saya nyaman di sini, banyak hal yang sudah lama saya tidak rasakan, akhirnya saya merasakan hal itu lagi di sini… Saya tidak pernah tahu, ke depan seperti apa.. tapi yang pasti, saya sedang menikmati ini, menikmati keanehan orang-orangnya, dan suasana tenang yang selalu menyelimuti kota ini,,,

Dan malam ini, Aku rindu Bandung,,,

Empat Maret Dua Nol Satu Tujuh

Semua orang pasti punya hari spesial, minimal satu hari dalam setahun.

Ya.. Empat Maret ini nambah umur satu, rasanya memang berbeda, tidak lagi seperti terasa seperti anak kecil yang seneng banget kalau dikatain makin dewasa.. Ahh dewasa.. 

Ultah ngapain nih? Gak ngapain-ngapain sih.. Cuma dengerin orang ngobrol pake bahasa jawa.. Anjisss urang teu ngarti!

Sarapan

Pagi hari, Dia duduk di meja kecil untuk menikmati sarapannya, dua lembar roti tawar yang dioles selai, dan segelas susu hangat, cukup untuk mengusir rasa dingin suasana pagi itu.
Mulutnya sibuk menguyah makanan, sesekali meneguk susu, tapi pikirannya melanyang jauh ke suatu tempat dimana senja ntah sedang apa.. Senja.. di pikirannya hanya ada Senja.. Senja.. dan Senja.. ntah mau sampai kapan.

Mentari Pagi

Setelah ratusan sore tanpa senja, Dia masih berjalan di setapak yang sama, dengan ingatan yang sama, memori yang sama, semua hampir sama, kecuali pada suatu hari Dia bertemu yang lain. “Mentari Pagi” katanya ketika Dia menanyakan nama seseorang yang lain itu. Mentari Pagi.. Akhirnya ada yang mampu mengalihkan perhatiannya dari Senja yang sudah pergi ntah kemana. Senyumnya mengembang lagi, Dia yang pemurung lambat laun berubah, ada setitik cahaya di matanya, mata yang telah lama kehilangan sinarnya itu, akhirnya terang lagi..

Semakin lama, dia semakin dekat dengan Mentari Pagi, obrolan-obrolan kecil yang biasa terjadi bersama senja akhirnya terjadi lagi, hangat seperti biasa… dan senyumnya, tatap matanya…. sangat mirip dengan Senja.. begitu pikirnya,, pantas ada sesuatu yang tidak asing dalam dirinya, dalam diri Mentari Pagi,,, ada sebagian Senja di dalam Mentari Pagi,,,

Suatu hari yang lain Dia berjalan sendiri di setapak yang sama, tanpa Mentari Pagi.. “Dia bukan Senja..” Dia berkata dalam hati.

Berjalannya Waktu

Semua akan berubah seiring waktu yang berjalan, meninggalkan ribuan senja di belakang, dan menjemput pagi yang akan selalu datang.

Sebenernya rencana pagi ini, lanjut kerja, karena kerjaanku keteteran, tapi tadi iseng main ke blognya Mbak drama yang gak lagi drama┬ádan…. Dia berubah, haha.. Mungkin ini blog yang paling lama saya baca, kalau gak salah dari 2011. Sedikit tentang blog ini, ini blog isinya tentang drama hidup yang gak pernah abis, tapi sekarang isinya udah mulai menjadi dewasa, lebih bijak, mungkin lebih tepatnya penuh hikmah hahahhaha.. saya gak percaya nulis itu untuk sebuah blog yang isinya drama-drama yang terkadang receh hahaha,, Ya ampun,, tapi emang keren sih :mrgreen:

Yah semua akan berubah seiring waktu yang berjalan, Saya pun berubah, minimal pindah tepatlah, Saya belum sempat bercerita kalau sekarang saya sudah pindah ke Yogyakarta, yang sebelumnya di Bandung. Sudah sebulan saya pindah kota, dan kenapa saya akhirnya pindah kota, sebetulnya ada cerita-cerita ntah… rasanya terlalu malas untuk saya ceritakan.. bisa dibilang konflik internal perusahaan.. jadi sudahlah..

Tahun pun berubah, tahun ini, pasti berbeda dengan tahun sebelumnya, ada ketakutan “kecil”, yang membayangin, seiring tahun berjalan. Ketika semua hal berubah, dan ada sisi dalam diri kamu, yang tidak pernah berubah, rasa takut itu pasti muncul, ketakutan yang wajar saya pikir.

Bagian yang paling sulit dari nulis adalah bagian penutup, saya pernah ditegur sama mbak-mbak drama itu, kalau cerita kok ngegantung mulu, gak enak bacanya.. tapi mungkin memang ada cerita yang tidak ingin saya akhiri.. hhaha #apasih

Jadi…… Kamu masih kangen aku gak? #WhatThe…