Cerita Dadu Part 2

Melewati Utara dan Selatan

Lagi iseng liat-liat isi dari google drive, disana ada catatan itenary untuk jalan keliling sebagian pulau jawa pake mobil, jalurnya Bandung – Yogyakarta – Solo – Semarang – Bandung. Tapi rencananya gagal karena.. Lupa karena apa. Rencana itu baru terlaksana September kemaren (2015). Rasanya itu perjalan paling jauh bawa mobil sendiri, melewati 2 jalur yang karakteristiknya beda banget, jalur selatan dan jalur utara. Jalur selatan adalah jalur yang relatif sepi, sebagian jalur itu melewati hutan yang minim penerangan. Sedangkan jalur utara lebih ngota karena memang jalur utama distribusi barang, jadi lebih rame, malah sampai macet, karena perbaikan jalan yang tidak pernah selesai.

IDEABOX

Ideabox adalah sebuah program akselerasi start-up. Mendapat kesempatan untuk sampai masuk ke bootcamp ideabox, adalah sebuah keberuntungan. Walaupun tidak sampai ke tahap selanjutnya, tapi disana cukup mendapat banyak ilmu yang didapat dari sana, selain itu dapat koneksi baru, dan banyak orang yang mau membantu untuk mengeksekusi sebuah ide menjadi lahan pekerjaan.

Pindah

Sebuah keputusan yang dibuat dengan mengorbankan beberapa hal, untuk beberapa hal. Memutuskan untuk “memberi makan” sebuah ego, dengan mengorbankan semua kenyaman yang didapat selama dua tahun ini, bisa jadi menjadi sebuah kesalahan bodoh. Tapi setelah terus dipikirkan, mungkin ada baiknya mencoba, dan berjuang untuk diri sendiri. Hal-hal besar selalu ada di luar kotak nyaman, dengan semua kesempatan yang bisa didapat, menjadikan semua resiko atas sebuah pilihan  menjadi  layak untuk dicoba.

Inside Out

Inside Out adalah film animasi garapan disney pixar di tahun 2015 ini. Bercerita tentang bagaimana sekumpulan emosi utama, seperti kesenangan (Joy), kesedihan (Sadness), marah (Anger), takut (fear), jijik (Disgust), bekerja dalam pikiran seseorang. Tidak hanya emosi, tapi juga ingatan-ingatan yang ternyata membentuk karakter dasar dari seseorang, digambarkan secara apik dalam film ini.

Dalam film ini kita diajak untuk mengenal hal-hal yang terjadi dalam pikiran kita, sepetinya bagaimana mimpi terbentuk, tentang alam bawah sadar, pikiran abstrak, imajinasi bahkan teman khayalan pun diceritakan dalam film ini. Rasanya film ini bukan hanya sebuah film, tapi juga ilmu psikologi. Lebih tepatnya ilmu psikologi yang dibalut film animasi. Bagus… sangat bagus malah, untuk pengetahuan dasar apa yang terjadi dalam pikiran seseorang.

Untuk saya pribadi, film ini seperti mengingatkan kita untuk hati-hati dengan emosi seseorang, karena itu akan membentuk karakter. Orang yang ceria, bisa berubah karena keadaan yang melibatkan emosi, dan emosi yang dialami oleh seseorang, akan menjadi suatu ingatan yang akan berujung kepada perubahan karakter. Dan kita tidak boleh hemmm apa ya istilahnya “ngejudge” – mungkin – seseorang karena karakternya, karena kita tidak tahu apa yang sudah dialaminya, sehingga dia menjadi seperti itu.

Saya tidak mempunyai kata-kata yang cukup untuk menggambarkan bagaimana film ini, tapi jika harus memilih satu kata untuk film ini, saya akan pilih “Awesome”.

 

Gambar diambil dari www.underthemaskonline.com

Penerbangan Pertama

Seharusnya tulisan ini dibuat, sekitar 2 tahun yang lalu. Ya karena pertama kalinya naik pesawat adalah 2 tahun yang lalu, tapi karena.. gatau kenapa, tulisannya gak muncul di kepala, yang mengakibatkan tidak terbitnya tulisan ini. Apa atuh! Ini juga tiba-tiba pengen nulis karena nemu foto-foto lama. Hehe.

Saya jarang sebenernya naik moda transportasi yang namanya pesawat, selain karena mahal, mungkin juga karena.. mahal aja pokoknya :D. Saya baru pakai pesawat 4 kali. Penerbangan pertama saya itu ke Bali, waktu itu dapat tiket promo dari maskapai citylink, lumayan, setengah harga dari harga normal. Dalam bayangan saya, terbang dengan pesawat itu rasanya akan halus, mulus, tenang, dan nyaman apalagi di dalam pesawat ada pramugari-pramugrari yang unyu-unyu kinyis-kinyis yang siap membantu jika ada apa-apa di pesawat, maka perjalanan akan seperti di surga. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, jika cuaca benar-benar cerah sebenernya perjalan akan terasa mulus, tapi jika berawan seperti ketika saya berangkat ke Bali, perjalanan menjadi menakutnya :lol:. Untuk seorang yang baru pertama kali naik pesawat saya tidak tahu jika di atas itu, ada yang namanya tubulensi. Turbulensi ada aliran udara yang tidak beraturan, itu menyebabkan pesawat bergetar, semakin tidak beraturan aliran udara, makin kencanglah getarannya, belum lagi suara-suara dari getaran sayap pesawat, yang terdengar seperti benda retak. Sebagai orang yang suka menonton film, semua hal yang saya jelaskan tadi, membuat saya berkhayal tentang apa yang terjadi di Film-film, dan itu membuat saya parno berat, rasanya saya ingin memakai parasut sepanjang perjalanan, dan ketika getaran besar terjadi, Saya langsung lompat dengan parasut, biar selamat, ceritanya. :mrgreen:.

Tapi sejak kejadian itu, saya mulai menggali tentang apa yang terjadi di pesawat, tentang turbulensi, tentang bagian-bagian pesawat, dan banyak lagi. Ini usaha saya untuk “menetralisir” ketakutan terbang, walaupun begitu, waktu saya naik pesawat untuk ke 2 kalinya, tetap saja, ketika pesawat mulai bergetar, bayangan tentang kejadian seperti Film-film itu muncul lagi, dan saya masih berharap memakai parasut sepanjang perjalanan.

 

Kita Adalah Orang-orang (Sok) Peduli

Pada bulan Desember tahun 2014, ada sebuah berita tragedi kecelakaan pesawat yang melibatkan perusahaan penerbangan besar. Korbannya ratusan waktu itu, sontak hampir semua orang menunjukan rasa simpatinya di media sosial dengan membuat hastah #prayforBlabla atau hastag-hastag bersimpati lainnya. Media online pun tidak kalah eksis, terus memberitakan setiap detil proses pencarian pesawat dan para korban atau wawancara dengan keluarga korban, bahkan mencari hal-hal unik dari kejadian tersebut, sepeti tanda-tanda dari keluarga dekat korban misalnya. Ramai sekali.

Pada bulan Oktober 2015, ada sebuah pesawat kecil, berpenumpang 7 orang, mengalami hal yang sama dengan pesawat dari perusahaan besar tadi di Palopo, sulawesi selatan. Tapi apa yang terjadi di masyarakat kita? Hampir tidak ada apa-apa, hanya sedikit berita yang terus menerus meng-update perkembangan pencarian, bahkan hampir tidak wawancara dengan keluarga korban. Di media sosial pun sama saja, sepi sekali dengan berita ini, hampir tidak ada hastag #prayForBlabla seperti kejadian sebelumnya. Sepi.

Kalau diingat-ingat pada sekitar bulan Mei 2015, ada seorang bocah perempuan, yang dibunuh, jasadnya dikubur tidak jauh dari rumahnya. Motif pembunuhannya harta warisan. Waktu itu ramai sekali. Sama seperti kejadian kecelakaan pesawat dari perusahaan besar. Hampir semua orang menunjukan simpatinya, hastag itu dan itu bermuculan, media-media online terus memberitakan perkembangannya, bahkan ada seorang artis sepertinya sangat peduli, sampai membuat video kecaman kepada sang pembunuh. Luar biasa.

Pada bulan yang sama dengan tragedi jatuhnya pesawat di Palopo, terjadi pembunuhan yang korbannya sama-sama gadis kecil, bahkan gadis kecil ini mengalami kekerasan seksual sebelum dibunuh, dan jasadnya dimasukan ke dalam kardus. Untuk motif dan pelakunya belum terungkap saat tulisan ini ditulis. Korbannya sama-sama gadis kecil, sama-sama dibunuh, dan sama-sama diperlakukan secara keji. Tapi sepertinya tidak terlalu menarik perhatian, di twitterpun tidak terlalu ramai, lalu artis yang membuat video kecaman itu juga tidak melakukan yang sama. Aneh.

Dari kejadian di atas, timbul pertanyaan. Apakah kita benar-benar peduli terhadap sesuatu? Atau kita hanya peduli kita terjadi dengan orang yang berada, atau melibatkan banyak orang? Atau jangan-jangan kita cuma latah, ikut-ikutan mengecam biar dibilang eksis, padahal sedikitpun kita tidak peduli? Rasanya juga kita benar-benar peduli, kita akan bereaksi sama atas semua kejadian, tidak setengah-setengah, kalau rame ikut rame, kalau sepi ya tidak peduli. kalau memang tidak peduli ya sudah, tidak perlu latah, lagian apa yang kita lakukan di media sosial itu, tidak akan terlalu berpengaruh, terhadap suatu kejadian. Atau ada yang berpendapat apa yang kita lakukan sangat berpengaruh? Itu malah lebih parah lagi, berati kita memang hanya sok eksis dan sok peduli, kita hanya peduli kepada berapa jumlah korban, dan siapa korbannya, bukan kepada kemanusiaan itu sendiri. Memalukan!