Selingkuh

“Kita mau kemana lagi nih?”

“Terserah, Kemana aja lah, bosen aku di rumah.”

“Terserah itu maknanya luas lho, dengan jawab seperti itu, kamu ngasih kebebasan ke aku, untuk bawa kamu kemana aja aku mau, aku bawa kamu ke Mars baru tahu rasa kamu, haahhaha.”

“Iya sih kamu bisa bawa kemana aja kamu mau, tapi pertanyaannya, emang sampai sejauh mana kamu bisa? Ke Mars kan udah gak mungkin.”

“Iya sih… Muter-muter kota aja kali ya?”

“Boleeh.. Eh kita makin sering ketemu ya? Pacarmu pakabar tuh?”

“Hemmm iya sih, pacarku? Kenapa tiba-tiba nanyain pacarku?”

“Gak apa-apa sih? Gak boleh ya?”

“Ya boleh aja sih.. cuma… hemmm.. bisa gak, kalau bahas yang lain aja? Sapi terbang, misalnya?”

“Haha…”

“Pacarku ya ada aja sih, di rumahnya, gatau lagi ngapain”

Lagi mikirin kamu, kali.”

“…….”

“Kok diem?”

“Gapapa sih, cuma.. apa ya? Bisa gak, gak bahas dia pas kita lagi bareng? Aku lagi pengen nikmatin waktu bareng kamu aja. Aku tahu sih, posisi kita tuh udah bukan temen biasa, setelah kamu tahu perasaanku.”

“Aku gak nyangka, kok bisa sih?”

“Ya bisa dong, namanya perasaan mah, kadang gak bisa dikendalikan.”

“Tapi reaksi dan perilaku dari perasaanmu itu bisa dikendalikan. Kadang aku heran, kenapa orang yang udah punya pasangan, tetep bisa suka atau sayang sama yang lain? Boleh tanya gak?”

“Apa?”

“Apa sih yang aku liat dari aku?”

“Salah satunya, kamu beda gitu.”

“Ya bedanya tuh dimana? Jujur deh? Apa sih yang kamu mau dari aku? Tubuhku? Atau apa? Jujur deh.”

“Gak gitu, gak sampai ke sana juga, cuma apa ya? Aku lebih nyaman aja gitu sama kamu.”

“Kalau akhirnya, kamu bisa bareng aku sepenuhnya, terus kamu ketemu cewek yang bisa bikin nyaman lebih dari aku, kamu bakal lakuin hal yang sama ke aku?”

“Ini aku bisa turun aja gak ya? Aku merasa ditonjok gini sama kamu.”

“Kalau kamu turun, siapa dong yang nyetir? Aku kan gak bisa nyetir.”

“Ya kamu dorong aja mobilnya, terserah mau kemana.”

“Di posisi ini tuh rasanya serba salah, aku suka sama kamu, kamu bisa bikin aku nyaman, kayak sekarang, aku nyaman jalan sama kamu. Tapi… Di sini lain, aku juga salah, aku nyakitin perasaan pacarmu pasti.”

“Terus mau kamu gimana?”

“Kalau kamu?”

“Ya kalau aku sih, maunya jalan aja dulu, kita liat keadaan ke depan kayak gimana.”

“………”

“Kasih aku waktu yah…”

“Iya….”

Tengah Malam

1 Juli 2021, jam 1 lebih 23 menit, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta.

Ntah apa yang membuat saya masih terjaga semalam ini, grup percakapan pekerjaan akhirnya berhenti berdentang, tapi rasa kantuk belum juga datang, akhirnya saya membaca apa yang apa yang pernah saya tuliskan.

Membaca tulisan lama, rasanya seperti menyelami diri saya sendiri, rasanya saya yang sekarang, begitu berbeda dengan yang dulu. Saya yang dulu rasanya punya keseruannya sendiri, walaupun mungkin untuk orang lain tidak seru sama sekali, dan ternyata saya menulis dari hal-hal kecil sampai pikiran gila saya, dari keriaan masa kecil sampai kegalauan tentang cinta.

Saya yang dulu, rasanya memang bukan saya yang sekarang, ntahlah kemana dia, sudah hilang dan tenggelam mungkin. Waktu cepat sekali berlalu yah, akan jadi seperti apa saya yang sekarang?

Day 5: My Parents

Saya berasal dari keluarga guru. Sebetulnya cuma itu saya yang guru, tapi belakang ayah saya juga ikutan menjadi guru.

Ibu sudah menjadi guru sejak lama, dulu beliau kuliah di IKIP Bandung, jurusan bahasa indonesia, program D1 kalau tidak salah, setelah diangkat sebagai PNS dan ditempatkan di sekolah yang… sangat jauh.. Ibu ditempatkan di sekolah yang berada di kaki gunung, sekolahnya di kelilingi kebun teh. Jarak dari rumah ke sekolah ibu, kurang lebih 13 kilometer, untuk ukuran sebuah tempat pedesaan yang kehidupannya hanya sampai sore, jarak itu sangat jauh, tapi ntah bagaimana ibu bisa bertahan bertahun-tahun mengajar di sana. Ibu mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya di tempat yang sama. Itu artinya ibu harus bulak balik ke Bandung untuk melanjutkan studinya, dan tetap mengajar di tempat yang jauh, tapi berhasil lulus dengan hasil yang memuaskan. Asal tahu aja yah, IPK ibu jauh lebih bagus dari pada IPKku waktu kuliah dulu, padahal aku cuma mahasiswa tanpa pekerjaan.

Lain ibu, lain ayah. Ayah memulai karir jadi mantri sapi, semacam perawat tapi untuk hewan, khususnya sapi. Dulu kami memang tinggal di daerah yang banyak peternakan sapi, dimana ternak sapi adalah salah satu mata pencaharian penduduk di sana. Saya tidak pernah ingat bagaimana ayah bekerja sebagai mantri sapi, yang saya ingat ayah saya bekerja di sebuah koperasi untuk para peternak di daerah Bandung Selatan. Di sana pertama kalinya saya mengenal komputer, mengenal apa itu CPU, monitor, dan juga disket. Saya cukup sering main ke kantor ayah untuk bermain dengan komputer, karena dekat dengan sekolah waktu masih SD. Setelah bekerja di koperasi itu, ayah pindah pekerjaan, beliau mengelola pabrik tekstil di daerah Bandung, sebuah lompatan karir yang aneh, bukan? Saya sendiri tidak berani melompat sejauh itu untuk pekerjaan. Setelah pabrik yang dikelolanya tutup, sekarang ayah menjadi seorang guru, sama kayak ibu..

Keluarga saya bukan keluarga yang luar biasa, tapi mereka berdua adalah orang di balik seorang Dikdik yang sekarang. Mungkin tanpa mereka aku tidak akan pernah menjadi apa-apa.

Day 2 : Thing That Makes You Happy

Sesuatu yang membuat bahagia? Hemm.. Ini pertanyaan simple banget sebenernya, di era materialistik seperti sekarang ini, dimana kamu dihargai dari apa yang ada di tubuhmu, atau di kantongmu, barang yang bisa bikin bahagia itu, cuma satu sih.. Uang.. Hahaha

Ok serius! Bukan lah, aku gak sematrealistik itu sih, bahagia harus diukur dengan banyaknya uang yang dimiliki. Ada beberapa hal yang bisa membuat bahagia tanpa harus mengeluarkan uang sedikitpun, misalnya bisa bergerak bebas, bisa bernapas, atau bisa pipis dimana aja dengan lancar. Hal-hal kayak gitu kan gak perlu duit ya untuk dilakukan, dan beneran bikin bahagia sih, coba aja gak bisa napas 1 menit, atau gak bisa bergerak dalam 1 hari, itu rasanya kebahagiaan hilang seketika.

Bahagia itu bisa jadi sumber ketidakbahagiaan, ketika kita mengejar rasa bahagia, dengan hal yang bersifat materil, kita hanya akan dapat kebahagiaan yang sesaat, setelah itu kita akan mengejar sesuatu yang kita pikir akan membuat bahagia, terus seperti itu, dan rasanya tidak akan ada habisnya. Kata orang kebahagian itu harusnya datang dari diri kita sendiri. Bahagia mungkin sesuatu yang lebih “dalam”, sesuatu yang hanya bisa muncul ketika diri kita merasa cukup, apapun yang kita punya sekarang, itu bisa membuat kita bahagia, yang penting tuh merasa cukup. Ya, mungkin kebahagaian itu akan kita dapatkan kalau kita merasa cukup…

Mendung

Aku berjalan ke taman yang sudah lama tidak ku kunjungi, rasanya masih sama seperti dulu, hanya sedikit perubahan karena waktu. Bangku-bangku taman yang biasa aku pakai untuk duduk, sekarang sudah tidak seperti dulu, tampak rapuh, dan sedikit kotor. Aku duduk di satu bangku di dekat pohon dan lampu jalan, belum menyala karena belum terlalu sore, tapi langit sudah gelap, ada kumpulan awan gelap yang menyembunyikan matahari. Mendung..

“Aku benci mendung.” Kataku.

“Kenapa?”

“Mendung selalu membawa ingatan kesendirian untukku. Dulu, aku sering menghadapi mendung sendirian. ”

“Iya kah?”

“Hu’um.”

“Ada gak sih ingatan masa kecil kamu yang gak sedih?”

“Haha… Kenapa emang?”

“Abisnya kamu tuh kalau cerita, hampir sebagian besar sedih.”

“Haha.. Ada lah.”

“Apa misalnya?”

“Misalnya… Sekelas sama kamu dulu.”

“Kenapa emang kalau sekelas sama aku? Kamu nyapa juga gak pernah.”

“Hahaha.. Iya yah, aku hampir tidak pernah menyapamu, aku terlalu malu untuk itu.”

“Bahkan hanya untuk melempar senyum ketika melihatku?”

“Ehehe.. Iya, ngeliatin kamu aja, malunya setengah mati. Kok kamu tahu aku suka ngeliatin kamu?”

“Tahu dong, pandangan cewek tuh lebar lagi, jadi kalau ada yang ngeliatin, sebenernya kita tahu. Makanya kalau kita nyari barang yang hilang, cewek tuh lebih unggul.”

“Termasuk kalau nyari-nyari kesalahan orang?”

“Ih… Ya gak lah, aku tuh gak pernah nyari-nyari kesalahan orang yah, tapi kamunya aja susah dibilangin.”

“Hahah… Ya maaf. Dulu aku sering lho ngebayangin ngobrol lama kayak gini, saling bercanda, cerita-cerita. Kadang aku iri sama geng pintarnya kamu itu.”

“Apa sih… Geng pintar.”

“Iya kan? Yang ngumpul sama kamu tuh kan anak-anak pinter semua.”

“Itu sih kamu aja yang gak mau gabung, sombong…”

“Bukan sombong, tapi malu.. Pertama emang malu, kedua, aku ngerasa gak sepinter kalian aja gtu.”

“Dih, malesin.. Terus akhirnya kamu berani deketin aku, gimana ceritanya?”

“Eh? Aku kan gak deketin kamu, tapi kamu yang deketin aku, Hahaha…”

“Iiihhhhh apaan sih?”

“Hahaha.. Hemmmm.”

“Hemm apa?”

Gelegar petir membuyarkan lamunanku, hujan belum begitu deras, tetapi kilat sudah menyambar kesana kemari, beberapa orang mulai mencari tempat berlindung, termasuk aku.

“Aku benci mendung.” kataku lirih, tidak ada yang menanggapi. “Aku benci mendung!” Masih tak ada yang menanggapi, “Aku… Benci… Mendung…” masih saja sunyi.

Batas 2018

Hidup akan jalan terus, tidak peduli apa yang terjadi.

Hidup akan selalu menjadi ketidakpastian yang pasti, tidak peduli seberapa sering rengekan dilapalkan.

Kita tahu waktu tidak akan berjalan mundur, maka tidak ada alasan untuk menolak kesialan yang terus datang.

Rasanya hidup memang bukan untuk tenang, tapi untuk berjuang.

Tidak peduli hidup tidak ada peningkatan, tapi pasti delapan akan berubah menjadi sembilan.

Tak peduli, siap atau tidak…

Pertama Kali

Lama banget sih?”

“Hehe, iya maaf, yuk naik, jalan kita.”

Sedikit lama aku sampai ke rumah dia, karena sempat tertidur, beruntung, jalanan hari ini tidak terlalu padat, dengan motor aku belah jalanan Kota Bandung, dan sampai ke rumahnya dengan sedikit terlambat, 45 menit tepat dari waktu yang dijanjikan.

Ini pertama kalinya aku mengajak dia jalan, setelah bertahun-tahun kita kenal. Ya, dia teman masa kecilku. Kami bertemu saat menempuh sekolah dasar.

“Kita jadi nonton kan?”

jadi dong.. Kamu tuh lama banget, emang macet banget ya?”

“Hehe, iya macet, tadi ada si Komo lewat heheh.”

Tentu saja dia tahu itu tidak benar, kami tumbuh saat Si Komo masih dikenal sebagai penyebab kemacetan. Jalanan Kota Bandung selalu padat ketika akhir minggu, tapi si komo lewat adalah hal yang tidak akan pernah terjadi.

Panas banget yah? Kamu sih lama.. Ketiduran ya, pasti?”

“Hehe.. Iya.. Maaf.. Aku juga gak sadar sih ketiduran, kaget aku waktu liat jam, udah jam segitu aja.”

Pantes,,,, mandi gak kamu?”

“Ya mandi laahhh…. Emang gak kelihatan ya?”

Nggak.. Haha”

“Ihhhh”

####

“Ternyata filmnya masih lama, kita makan dulu aja yuk.”

Yuk, makan dimana?”

“Kamu, mau makan apa?“

Hemm… Terserah sih…”

“Makan beling mau?”

Hahaha.. Ya gak lah… Ya udah, kalau gitu kita ke foodcourt sana aja ya?“

###########

“Gila, panas banget ya?“

Iya, eh kamu mau pesen apa? Ini menunya.”

“Hemmm… Tulisin hehe.. Aku mau nasi soto aja, sama teh botol.”

Kenapa? Tulisannya jelek ya? Hahah..”

“Hahah.. Iya, tulisanku tuh gak berubah dari dulu, gak kayak kamu, tulisannya bagus, makanya jadi sekretasi abadi kan..”

Iya, tapi malah jadi capek lho kalau jadi sekretaris gitu, soalnya nulisnya jadi dua kali, ya di papan tulis, ya di buku..”

“Kasian… Kalau dipikir-pikir, ngapain juga yah kita susah-susah nulis gitu, kan ada di buku paket, bisa dibaca di sana, capek,, iya,, tulisan jelek, tetep, dibaca gak bisa.”

Hehhe.. Itu mah kamu aja, tulisanku bagus kok. Jadi selama sembilan tahun kita gak ketemu, kamu kemana aja?”

“Ada aja sih di Bandung, tapi gak di daerah kita dulu, setelah kita lulus itu, aku lanjut di sekolah gunung, satu cawu di sana, pindah ke kota, sampai kuliah, jadi ya tetep di Bandung sih. Kamu masih suka ketemu sama temen-temen kita dulu?“

Beberapa masih sih, inget Lusi?“

“Yang kecil itu?“

Iya, tapi sekarang dia tinggi lho, melebihi tingginya aku. Kami kadang masih ketemuan sih, terus yang lainnya.. Beberapa kali ketemu Agi, waktu berangkat ke Bandung.. Terus siapa lagi ya? Hehe ya pokoknya gitu lah.. Kamu gak pernah ketemu siapapun?“

“Gak kayaknya, kemaren aja palingan sama Agi, itu pun gak lama… Eh tapi sempet gak sengaja ketemu si Arip, aku lupa gitu wajahnya, makanya pas nyapa.. Aku rada bingung gitu, soalnya kan waktu sekolah kurus, pendek gitu, rambutnya lurus, kemaren ketemu, rambutnya keriting, ganti rambut apa dia? Hahha kalian masih satu sekolahan kan?”

Iya, jadi kayak pindah kelas, ya walaupun gak semua sih, termasuk kamu..”

“Arip tuh temen berantemku lho, kita sering banget berantem, heran aku.. Dia seneng gitu bikin aku emosi.”

Terus, kamu menang?“

“Ya gak lah… Hampir gak pernah aku menang dari dia, haha.. Tapi gitu-gitu dia tuh jadi temen share mimpi tahu gak.. Aku pernah yah, punya ide bikin mobil, terus tahu gak apa yang dia lakukan?

Apa?“

“Tiba-tiba dia ngasih uang gitu, receh, bilangnya.. Untuk bikin mobil hahha..”

Iya? Hahah seserius itu?“

“Iya.. Haha.. Kadang kalau diinget-inget lucu.”

Aku kok gatau ya?“

“Kita kan beda geng, kamu kan di geng anak-anak pinter, aku ada di geng kasta bawah.. Hehe.”

Kenapa atuh gak gabung?“

“Kenapa ya? Asa cangung aja sih.. Banyak ceweknya juga geng kamu mah, aku kan anaknya pemalu.”

Malu-maluin kali kamu mah.”

“ihhh kalau malu-maluin kenapa diajakin nonton atuh?”

Heheh.. Eh hari ini kan, ada pasar seni, abis nonton kita ke sana yuk.”

“Hayuk.”

Kamu tahu kan pasar seni apa?“

“Gak.”

Hahaha dasar gak gaul, udah yuk, filmnya udah mau mulai.”

“Heheh yuk.. Aku yang bayar yah.”

Ih.. Makasih yah hehe”

############

Filmnya biasa aja ya? Tahu gitu, kita nonton yang satunya.”

“Hahaha.. Iya, kenapa atuh?“

Hehhe.. Gak apa-apa.. Eh jadi kita ke pasar seni?“

“Jadi lah.”

Asik.”

#################

“Aku baru tahu ada acara kayak gini. Hehe”

Kemana aja? Makanya jangan kerja terus, gaul sekali-sekali.”

“Ya gimana ya? Abis lulus tuh kayak kehilangan target gitu, maksudnya ketika kita.. Ehh aku.. Kamu kan belum lulus yah hahha.. Ketika aku kuliah targetnya itu jelas, lulus.. Nah sekarang, kayak gak punya target gitu, ya paling kerja.”

Kamu tuh, kalau kerja kayak gak kenal waktu gitu. Kalau aku kebangun tengah malam, pasti masih ada kamu online,”

“Ya, namanya juga freelance, kerjaannya dikerjain sendirian, kadang harus bergadangan gitu, ngerjainnya. Kamu sendiri, gimana skripsinya, udah sampai mana?“

Sampai mana ya? Gak tahu.. Hehe.”

“Lah, skripsi sendiri gak tahu.. Gimana sih? Kayak gak niat tahu gak?“

Abisnya gimana ya? Ada masalah gitu aku, makanya suka males ngerjainnya.”

“Masalah apa?“

Ada lah.. Susah kalau diceritain.”

“Hemm… Kamu sadar gak sih? Kita tuh dulu hampir gak pernah berinteraksi, bahkan ketika kamu duduk di bangku belakangku, kita gak pernah gitu saling sapa.”

Iya yah.. Kenapa atuh kamu gak pernah nyapa aku? Sombong.”

“Hehe malu soalnya… Kan udah aku bilangin, aku tuh pemalu, bukannya gak mau nyapa kamu, cuma bingung aja gitu.. Setelah nyapa mau ngapain.”

Iya, dari dulu kamu tuh pendiem, baru sekarang aja, aku tahu ternyata kamu bisa diajak ngobrol. Ternyata pada udahan ya? Harusnya kita datang siang-siang, panggungnya pasti masig rame.. Acara ini itu, acara empat tahunan lho.”

“Iya?“

Kamu gak tahu?“

“Gak tahu… Hahhaha.”

Beneran gak gaul ya kamu? Acara segede ini, kamu gak tahu.”

“Hehehe.”

Gak kerasa ya kita udah muter-muter, seharian.”

“Heheh.. Seneng gak kamu?“

Seneng… Makasih ya.. Heheh.”

Samar-samar suara seniman jalanan masih terdengar ketika, aku mengambil motorku dari tempat parkir, bersiap mengantarkan dia pulang. Menyisir jalanan kota Bandung yang masih rindang dengan pepohonan. Setelah sekian lama, perasaan itu muncul lagi.. Perasaan masa kecil, yang tertanam jauh, hampir tidak pernah tersentuh.