Tengah Malam

1 Juli 2021, jam 1 lebih 23 menit, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta.

Ntah apa yang membuat saya masih terjaga semalam ini, grup percakapan pekerjaan akhirnya berhenti berdentang, tapi rasa kantuk belum juga datang, akhirnya saya membaca apa yang apa yang pernah saya tuliskan.

Membaca tulisan lama, rasanya seperti menyelami diri saya sendiri, rasanya saya yang sekarang, begitu berbeda dengan yang dulu. Saya yang dulu rasanya punya keseruannya sendiri, walaupun mungkin untuk orang lain tidak seru sama sekali, dan ternyata saya menulis dari hal-hal kecil sampai pikiran gila saya, dari keriaan masa kecil sampai kegalauan tentang cinta.

Saya yang dulu, rasanya memang bukan saya yang sekarang, ntahlah kemana dia, sudah hilang dan tenggelam mungkin. Waktu cepat sekali berlalu yah, akan jadi seperti apa saya yang sekarang?

Hai…

Hai… Kamu apa kabar deh? Aku pikir kamu sudah baik-baik saja, kenapa? Memang tidak mudah ya kehilangan tempat yang begitu menyenangkan, padahal tempat itu tidak terlalu lama dirasakan.

Yah, apa boleh buat, rindukan saja. Rasakan perasaan itu datang, lalu lepaskan, dan semua akan baik-baik saja.

Dia yang manis serupa senyuman, sudah hilang dari genggaman. Biarkan dia jadi kenangan, yang hidup dalam ingatan.

Review Honda Brio E MT 2014

Sebenernya di sini gak bakalan review-review amat sih, jadi kalau anda mencari referensi tentang honda brio yang serius, silakan cari yang tulisan lain.

Ok.. Jadi ceritanya satu bulan yang lalu, saya menukar honda jazz I-DSI, ke Honda Brio E tahun keluaran 2014. Dari berbagai sumber, saya mendapatkan data teknis, mobil yang mempunyai mesin Honda i-VTEC 1,2 L 4 selinder, mempunyari daya maksimal sebesar 90 tenaga kuda di putaran mesin 6200 RPM, dan torsi 114 Nm di putaran mesin 4900 RPM, mempunyai feature DBW, EPS, dual airbag SRS, dan ABS. BTW data teknis ini belum tentu tepat sih, jadi ya udah lah yah.

Sebagai orang yang terbiasa dengan Honda Jazz, pertama kali masuk ke kabin Honda Brio ini adalah kecil, dan berisik, kekedapan kabin mobil ini, agak kurang sih, jadi suara ban dan suara-suara lain di luar mobil masuk ke dalam, bahkan suara ACpun terdengar di dalam kabin, tapi hal ini bisa dimaklumi, ini mobil kelasnya LCGC, yang mana punya stigma mobil murah, jadi beberapa aspek kenyamanannya kurang, karena tujuan dibuat mobil ini adalah murah, irit, dan ramah lingkungan.

Mobil ini dilengkapi dengan feature drive by wire (DBW), yang artinya, setiap anda menginjak gas, bukaan gas tidak langsung ke mesin, tapi memberi intruksi ke ECU untuk meningkatkan putaran mesin, jadi anda tidak bisa ngegeber-geber mesin dengan cara menarik kabel gas di mesin. Feature ini membuat akselerasi mobil menjadi lebih halus, dan cocok banget untuk pengemudi yang kakinya kasar, dan terbiasa membuat penumpang mabok perjalanan. Akan tetapi untuk transmisi manual, agak sulit untuk mengatur tenaga, karena selalu terjadi delay ketika gas diinjak, apalagi ketika berangkat untuk pertama kali, yang biasa terjadi, putaran mesin belum naik, tapi pedal kopling sudah lepas sepenuhnya, jadi mobil terasa seperti hilang tenaga dan mau mogok, bahkan bisa mati sama sekali. DBW ini sepertinya lebih cocok untuk transmisi automatis, karena akan membuat mobil melaju dengan halus.

Dari review lain, mobil ini mempunyai kaki-kaki yang cukup keras, dibanding mobil sekelasnya. Tapi hal ini membuat mobil tidak limbung ketika menikung dengan kecepatan yang cukup tinggi, jadi sebetulnya mobil ini cukup nyaman dan menyenangkan untuk dikendarai, bahkan jika dibandingkan Jazz 2004, rasa berkendaranya lebih menyenangkan, walaupun berisik.

Keluar Dari Rumah

Satu minggu ke belakang, saya pulang ke Bandung, lebih tepatnya menginap di rumah orang tua, saya bekerja dari sana selama seminggu. Kenapa saya bilang “menginap”? Karena rasanya memang tidak seperti dulu, padahal saya tinggal di rumah itu sudah sekitar 15 atau 16 tahun, ya sebelum-sebelumnya ada di rumah lain. Keadaannya menjadi asing, walaupun bentukannya masih sama, tapi ketika berada di sana, rasanya berbeda, rasanya bukan lagi rumah, hanya tempat singgah.

Lalu, dimana rumah saya sekarang? Jawabannya, ya di rumah yang saya bayar untuk saya tinggali sekarang. Sudah 5 tahun saya meninggalkan rumah itu, sejak menikah saya memutuskan untuk keluar dari sana, mencari dan membiayai tempat tinggal sendiri, selain karena rumahnya tidak terlalu besar, saya ingin belajar mandiri.

Pada akhirnya, tempat itu bukan lagi rumah saya, tempat itu sudah menjadi tempat lain, walaupun saya akan selalu singgah ke sana. Lalu, dimana rumah saya sekarang? Rumah saya sekarang, ya di tempat yang saya biayai, yang saya beli atau yang saya sewa..

Berinvestasi Biar Cuan

Cuan adalah buzz word yang cukup populer belakang ini. Kata ini mengacu pada keuntungan yang didapatkan dari hasil berinvestasi, dalam hal ini biasanya dalam bentuk saham. Maka, kata berinvestasi sekarang ini sangat lekat dengan besarnya keuntungan yang akan didapatkan.

Tapi saya tidak akan membahas tentang apa itu saham, apa itu investasi, atau bagaimana cara agar cuan besar, biarlah akun-akun jago saham yang bahas soal itu. Saya lebih ingin membahas soal investasi dari pandangan pribadi, lebih tepatnya dari apa yang sudah saya lakukan selama ini.

Dari pertama kali saya kenal istilah investasi, yang tertanam dalam benak saya adalah menunda kenyamanan hari ini, untuk menyamanan di masa depan, dan juga menjaga nilai riil uang yang disimpan agar daya belinya tetap sama di masa depan, dengan kata lain menjaga nilai uang dari pengaruh inflasi.

Apa langkah pertama untuk berinvestasi? Instrument apa yang paling cocok untuk berinvestasi? Untuk orang-orang di masa lalu, berinvestasi dengan membeli tanah, bangunan, atau perhiasan, tapi jaman sekarang instrument investasi bergeser ke surat-surat berharga, reksadana, atau mungkin saham. Tapi saya pikir banyak orang yang lupa, kalau investasi paling pertama itu adalah diri sendiri. Maksudnya adalah bagaimana cara kita untuk membentuk perilaku agar dapat mencapai tujuan investasi. Kembali ke definisi investasi yang saya pelajari, langkah pertama untuk berinvestasi yaa… belajar menurunkan gaya hidup. Langkah ini bisa dipelajari oleh semua orang, menahan diri untuk tidak banyak “jajan”. Sebetulnya ini langkah yang paling sulit, apalagi dengan banyaknya iklan-iklan makanan, tempat nongkrong, atau fashion yang hits-edgy-viral-apalah-apalah itu, tapi dengan kita menahan diri untuk tidak terlalu sering mengeluarkan uang, itu artinya akan ada cukup uang yang tersisa untuk berinvestasi.

Ok, saya sudah bisa menurunkan gaya hidup, lalu apa lagi? Setelah terbiasa dengan gaya hidup yang “biasa-biasa saja”, harusnya akan lebih mudah, tapi sebelum membeli instrument investasi, ada baiknya kita mempunyai tabungan dalam bentuk uang tunai. Iya.. ada yang bilang cash is the king karena hidup tergantung dengan uang tunai yang kita punya, apalagi hidup kadang tidak bersahabat sehingga kita perlu mengeluarkan uang lebih. Sebetulnya beberapa instrument investasi untuk “liquid” dan dapat ditarik kapan saja kita mau, hanya saja, investasi selalu punya tujuan yang harus dicapai, jika investasi bisa ditarik semau kita, rasanya itu bukan investasi, itu namanya tabungan biasa.

Setelah bisa menekan gaya hidup, dan memiliki tabungan, apakah artinya itu saya siap berinvestasi? Ya tentu saja, tapi sebelum membeli instrument investasi, kenali dulu profile risiko anda. Profile risiko ini biasanya dibagi 3, yaitu konvensional, moderat, dan agresif. Tingkatan ini dibedakan oleh risiko yang mau ditanggung oleh pemegang investasi, ingat.. investasi selalu mempunyai risiko berupa kehilangan uang yang diinvestasikan. Saya pribadi mempunyai profile risiko agresif, beberapa portofolio saya adalah instrument yang berisiko tinggi, dan sedikit tips bagi orang-orang yang memiliki profile risiko agresif, selalu gunakan “uang sampah” untuk berinvestasi, artinya uang yang jika hilang seluruhnya, hidupmu tidak terpengaruh sama sekali…. Ya paling sakit hati untuk beberapa hari, tapi hidupmu masih nyaman laahh..

Setelah menentukan profile risiko, silakan cari manajer investasi yang menjual instrument yang cocok dengan profile risiko masing-masing. Soal jenis instrument apa saja yang saya punya, mungkin saya ceritakan selanjutnya, itu juga kalau mood.. haaha

Tidak Ada Solusi Tabung Gas Rusak Di Sini

Untuk siapa saja yang googling tentang, bagaimana cara memperbaiki tabung gas LPG yang bocor ataupun rusak, lebih dihentikan. Karena tidak ada solusinya. Lebih baik tabung itu ditukarkan saja.

Postingan tentang LPG yang rusak adalah postingan tersukses di blog ini, secara statistik, itu postingan selalu ada yang akses. Kayaknya, banyak orang yang butuh bantuan untuk memperbaiki tabung gas, tapi postingan itu tentang kegagalan saya memperbaiki tabung yang rusak. Lagian ya, tekanan dalam tabung itu, sangat tinggi jadi kalau tabungnya rusak, sebaiknya berhati-hati, karena bisa jadi ledakan.

Intinya yah.. sekali lagi bapak-bapak/ibu-ibu kalau tabung gas LPG anda rusak, langsung lapor ke pangkalan gas, berusaha untuk memperbaiki, apalagi sampai googling.. bahaya, pak.. bu…

Catatan Akhir tahun, Ketika Di Luar Tidak Hujan, Dan Segelas Kopi Telah Habis

Ini akhir tahun, sayang.. Bagaimana tahunmu? Menyenangkan? Kita terjebak di dunia yang suram tahun ini. Wabah belum berhenti, sayang.. Jangan kamu keluar dulu, tunggu sini, temani aku.

Sayang, kita yang pernah ada dan bahagia, ternyata memang tidak bisa bersama. Kita sudah berjalan terlalu jauh ke arah yang berbeda, kita ada di titik perasaan yang sudah begitu hambar, dan mulai terasa seperti ingatan biasa. Kita yang pernah bersama dan bahagia, akhirnya padam pula.

Sayang, aku tidak akan lagi berbicara tentang kita, semua harus berubah, kamu menghilang, dan aku akan pergi.

Sayang, dunia ini sedang suram, banyak orang sakit, masuk rumah sakit, dan sebagian dari sakit itu mati. Belum ada yang bisa menolong kita, orang-orang pemerintahan hanya peduli dengan angka. Kita hanya statistik, selama statistik masih terlihat bagus, kita akan dibiarkan begitu saja, mungkin sebentar lagi giliran kita, sayang.

Kita hanya orang-orang biasa yang berada di batas imajiner, tak bisa kemana-mana, hanya berputar-putar di situ-situ saja.

Sayang, silakan pergi, jangan lupa tinggalkan pesan, dan ketika kita punya kesempatan…

Rasanya kita tidak akan punya kesempatan.. Mari lupakan.

Day 30: What Do You Feel When You Write

Menulis untuk saya terkadang menjadi katarsis dari apa yang sedang saya rasakan. Ketika tidak ada orang yang dapat saya ajak bicara, saya menulis, itu membantu perasaan saya menjadi lebih baik.

Walau saya tidak pernah menulis dengan cara yang baik di sini, atau dimanapun, saya punya kesenangan sendiri ketika menulis. Sebetulnya saya tidak ingin terlalu peduli dengan tata bahasa, saya akan menulis semau saya, karena tulisan-tulisan di sini, adalah tulisan yang terkadang sangat personal, dengan begitu tidak banyak yang membaca ini.

Selain itu, menulis juga membantu saya untuk merefleksilan diri, bahkan membantu saya untuk merenung, tentang apa yang sudah saya alami. Kadang saya baru menyadari apa yang pernah saya lakukan atau alami, setelah saya membaca ulang tulisan di sini.

Menulis itu menyenangkan, dan akan selalu menyenangkan.