Perubahan

Halo, udah lama gak nulis, sengaja bahasanya dibikin gak baku (emang pernah nulis baku?), karena lagi pengen bahas sesuatu yang lagi jadi sedikit pikiran.

sebetulnya agak gimana gitu, kalau harus nulis lagi, tapi kadang, tempat ternyaman untuk cerita ya di sini..

Saya udah sering banget eh gak banget sih, tapi beberapa kali bahas soal perubahan, tapi biasanya bahas perubahan di sekitar, dan beberapa hari, gak sih, lebih lebih dari beberapa tahun ini, ngerasa sepertinya ada perubahan yang cukup banyak dalam diri, kadang ngerasa lebih “dark”, gelap gitu. Kadang ngerasa kayak bukan saya yang dulu, rasanya berbeda, mungkin saya bukan orang yang terlalu baik, tapi selama ini berusaha untuk menjadi baik, walaupun tidak selalu berhasil. Dalam prinsip menjadi baik itu, yang penting gak nyusahin orang, berusaha untuk gak bikin orang kesel, dan hal-hal lain, yaa walaupun gak selalu bisa sih, jadi orang baik tuh susah lho, kadang ada aja hal yang bikin jadi rumit, kayak kamu coba untuk bantu seseorang, tapi ketika kamu butuh bantuan, kamu hampir gak bisa dapat bantuan, itu kan rasanya… segawon! hahaha

Saya ngerasa dulu tuh kayaknya gak gini deh, cara berpikir tuh gak skeptis kayak beberapa tahun ini, dulu tuh rasanya masih bisa bercanda-bercanda, lucu-lucuan dengan lingkungan sekitar, berusaha untuk positif dulu terhadap sesuatu, malah pernah nulis kayak gini “Masalah tuh kayak main rubik, kamu perlu memutar cara berpikir agak menemukan solusinya”, dan itu rasanya gak berlaku untuk saat ini, kalau sekarang tuh rasanya lebih skeptis aja, lebih negatif rasanya.. apa-apa tuh, udah mikir jelek duluan, dan itu susah banget untuk diubah. Ya ampun…

Saya bukan orang yang terlalu religius lah, tapi ya setiap hari pasti berdoa, dan bertahun-tahun berdoa, rasanya kok gak perubahan, selintas kepikiran jangan-jangan tuhan terlalu sibuk sama doa-doa yang lain, apalagi keadaan sekarang kayaknya lagi banyak banget orang-orang lagi mabok agama, dan doa mereka lagi kenceng-kencengnya, jadi doa-doaku ketutup gitu sama doa mereka. :))

Banyak hal yang memang terjadi selama beberapa tahun ini, tapi yang kerasa banget bikin perubahan dalam hidupku tuh, kayaknya ditinggal nikah deh, gila,, sumpah.. itu traumatis, merubah banyak hal. Beberapa tahun lalu rasanya Tuhan baik banget, mempertemukan saya dengan wanita yang disukai dari waktu SD, sampai akhirnya kita bisa pacaran, dan itu masa-masa dimana dunia menjadi indah sekali hahaha. Tapi itu rasanya berubah ketika pada kenyatannya kita tidak bisa bersama, itu rasanya.. isshhh.. kok gitu sih? Coba bayangin kita ketemu waktu kecil, lalu berpisah, 9 tahun pisah, dan akhir ketemu lagi, jadi deket, dan pacaran.. tapi akhirnya harus pisah lagi. Ini semacam dipermainkan semesta, kayak…. semesta tuh lagi pengen becanda. Masalahnya pisahnya dulu dan sekarang tuh beda, lebih menyakitkan…

Ibaratnya kayak beli yang kamu suka makanan kalau dulu harganya tuh murah, jadi ketika makanan habis, dan harus bayar tuh, uangnya tuh masih cukup, tapi sekarang, ketika beli lagi makanan yang sama, dengan rasa yang sama, malah lebih enak, begitu bayar, harganya ternyata lebih mahal, dan duit kamu tuh langsung abis gitu sama tu makanan, dan sesaat kemudia, kamu ngerasa kaget, miskin, agak-agak nyesel, tapi malu mengakui. Setelah kejadian itu rasanya banyak hal yang berubah, kayak rasa bahagia tuh kesedot banyak banget, mirip orang yang gak punya duit sama sekali, karena makan kemahalan.

Setiap hari setelah kejadian itu, saya berusaha untuk kembali ke “bentuk” semula, tapi rasanya itu tidak akan terjadi. Hati yang dulunya bentuknya indah, lalu seseorang bawa palu godam gede, dan ngancurin dalam sekali pukul, kayak patung Garuda Wisnu Kencana yang tiba-tiba diancurin lalu berusaha dibentuk ulang, tapi jadinya, malah patung celengan semar yang dijual di pinggir jalan.

 

Asem lah…

Advertisements

Pergerakan Jaman Now

Hampir satu tahun saya di Jogja, dan rasanya masih sama, Jogja yang akan selalu istimewa dengan semua ingatan dan bualan paling sialan yang pernah terjadi di sini. Bekerja di perusahaan yang masih berkembang, rasanya seperti menghadapi ABG yang mau menjadi dewasa, banyak hal yang bisa dibilang “drama”. Ada hal dalam diri saya yang drama, tapi saya tidak pernah berdrama untuk masalah pekerjaan, saya termasuk tipe orang yang bekerja ya bekerja saja, lakukan tugas, selesaikan pekerjaan, lalu terima gaji. Tapi di sini saya menemukan hal hal yang kadang membuat saya heran, semacam “Apaan sih?” moment. Yah hidup di start up memang akan seperti itu, maksudnya terkadang kita menerima pekerjaan yang masih belum matang secara bisnis, tapi memang di situ lah tantangannya, bagaimana untuk berusaha tetap berkomunikasi agar pekerjaan menjadi jelas, sebelum dilaksanakan. Komunikasi dan daya kritis menjadi hal yang penting di sini.

Beberapa hari yang lalu saya menemukan link buku novel gratis. Sesaat saya diingatkan bahwa saya ada di kota pergerakan politik Indonesia, mulai dari angkatan 65, sampai angkatan 98. 2 angkatan yang menjadi tonggak perubahan politik di Indonesia, dan semua diinisiasi, oleh mahasiswa. Novel ini menceritakan apa yang telah terjadi pada bangsa ini, beserta bias-bias dari berbagai peristiwa yang mewarnai gejolak politik di Indonesia.

Pergerakan mahasiwa seperti itu, sudah tidak terasa saat ini, kalau pun ada, paling hanya sekelompok orang yang jalan dan berteriak tanpa tahu esensi dari kegiatan tersebut. Saya pernah aktif di kegiatan kemahasiswaan, dan rasanya memang jauh dari aktifitas politik, ntah tidak peduli atau tidak tahu.

Sebagian dari angkatan jaman now, mungkin menganggap politik adalah urusan paling kotor yang ada di muka bumi ini, mainan para orang tua yang ingin berebut kekuasaan dengan cara-cara yang kadang tidak kami mengerti, terkadang licik, benar dan salah, tipuan dan fakta hampir tidak ada bedanya. Ada diantara kami yang ikut bermain di area itu, tapi sebagian dari kami, rasanya lebih memilih jalan kreatif untuk sebuah pergerakan. Pergerakan yang lebih bermanfaat untuk orang banyak, karena konsep saling berbagi yang ada di dalamnya, walaupun kadang harus berbenturan dengan bisnis yang sudah lama berkembang.

Dengan konsep economy sharing bermunculan lah sebuah badan usaha rintisan, yang biasa di sebut Start Up. Sebuah pergerakan yang mengusung tema demi kehidupan yang lebih baik, perusahaan-perusahaan seperti ini, beberapa perusahaan seperti ini, menjadi sangat besar manfaatnya untuk masyarakat, bahkan sampai merubah cara hidup orang banyak. Pergerakan jaman now tidak lagi banyak diwarnai demo dan turun ke jalan, tapi lebih ke “menghabiskan uang” untuk memberi manfaat.

 

Marahin CS!

Sungguh judul yang tidak mengikuti kaidah kebahasaan.. Tapi sudahlah.

Jadi begini, beberapa hari sebelumnya, saya memesan barang lewat salah satu toko online yang bernama jededotaidi. Salah satu hal yang membuat tertarik untuk berbelanja di sana adalah harga promo yang lumyan gila, plus gratis ongkos kirim. Singkat cerita setelah selesai berbelanja dan mengkonfirmasi pembayaran, dan menunggu beberapa hari, ternyata pemesanan saya dibatalkan.. Iya, pesanan saya yang sudah dibayar itu, DIBATALKAN! Kan gila yah.. Maunya apa coba jededotaidi ini?

Sebagai pelanggan yang kecewa, tindakan paling logis adalah mengadu ke bagian layanan pelanggan, yang lebih dikenal dengan istilah customer service atau CS. Dengan “nada” memarahi, gak nada juga sih, saya kan chat online. Ya sudahlah, lanjut.. Setelah marah-marah, solusi yang ditawarkan, adalah mengembalian uang kembali, ya iyalah yah.. Pesanannya sudah dibatalkan, solusinya ya.. Uang kembali..

Belakangan saya cari tahu kenapa pesanan saya dibatalkan begitu saja, kemungkinannya promo diskonnya sudah selesai, tapi di sistem mereka diskon itu masih tertera, mungkin admin sistemnya agak lambat update sistem, atau bagian bisnis yang lupa memberitahu kalau promonya sudah berakhir, kalau sudah begini, bagian CS tidak tahu menahu soal itu, tiba-tiba disuruh membatalkan pesanan, dan tiba-tiba dimarahi, kasian yah? Iyah.

Sebagai orang yang bekerja di salah satu start up e-commerce (kesannya gak keren gitu, kalau pake istilah “toko online” hahhaa.. Fak lah), saya tahu pasti bagaimana para CS ini bekerja, kadang kesalahannya memang bukan dari mereka, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, bisa jadi di bagian bisnis, produk, atau malah bagian developer. Tapi semua kesalahan itu – yang biasanya bikin kita marah- dilampiaskan ke satu bagian, yaitu bagian layanan pelanggan, alias customer service, alias CS. Hal ini terjadi di hampir semua perusahaan, dan yang lebih memprihatinkan lagi kalau CS itu merupakan tenaga kerja luar perusahaan.

Kadang, kita sebagai pelanggan tidak pernah mau peduli, atau sedikitnya menahan sedikit emosi ketika berbicara dengan CS, yang sebetulnya bukan salah mereka juga. Mereka cuma orang yang kebetulan ada di posisi paling depan, untuk menerima semua emosi kita. Mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang diberi kebahagiaan dalam hidupnya, setelah menjadi pelampiasan emosi…. Ada amin?

Drama

Mennnn.. Hidup tuh harusnya simple ya? Bangun, sarapan, kerja, capek, tidur, bangun lagi.. Atau.. Sesimple lahir.. jadi bayi lucu, lalu jadi anak kecil yang bahagia, terus jadi remaja idola, kemudian jadi dewasa panutan.. Tua.. Lalu mati masuk surga..

Tapi kenyataannya gak gitu sih.. Pasti ada aja yang terjadi, hal-hal yang tidak terduga. Kadang ada hal yang membuat kita berpikir “Ni kayak ada yang salah nih?”, lalu mencoba menganalis hidup, seakan-akan hidup adalah sebab-akibat yang bisa diprediksi, padahal tidak pernah ada yang pasti dalam hidup ini, kecuali kematian dan ketidakpastian itu sendiri.. 

Halaahhh… Ini apa coba.. Udah lama gak nulis, sekalinya nulis.. Kek idupnya paling susah ajah… 
Mennnnnnnnnnn….