Kotak Cerita

Suatu hari aku berjalan-jalan di suatu tempat yang dimana banyak kotak tertanam di tanah-tanahnya, seperti sengaja dikubur, lalu dibiarkan seperti itu. Banyak kotak di sana telah rusak, tapi sebagian masih utuh seperti belum lama dikubur. Tak hanya itu, ku perhatikan, setiap kotak mempunyai ukuran, dan warna yang berbeda, serta mempunyai nama. Ada kotak amal, kotak saran, kotak perhiasan, bahkan ada kotak yang bernama kotak palsu, sebuah kotak yang berbentuk segitiga… kotak yang berbentuk segitiga? Hemmm pantas namanya kotak palsu.

Ada satu kotak yang ku temukan dan cukup menarik perhatianku, ringan, berwarna warni, dengan kunci kombinasi berteka-teki. Ku angkat dan guncang-guncangkan kotak itu, rasanya seperti kotak kosong, atau mungkin isinya hanya suara yang berbentuk udara.. mungkin, karena kita tidak pernah tahu bagaimana bentuk suara sesungguhnya, kita hanya bisa tahu kita gelombangnya memasuki telinga dan menggetarkan gendang telinga, lalu kita merasa mendengar suara. Aku coba buka kotak itu, dengan segala teka-tekinya. Teka-tekinya ternyata mudah, hanya menggeserkan slot dengan benar, sesuai dengan pertanyaan, hanya dua pilihan, kanan-kiri, ya-tidak, privasi atau publik, mungkin kotak ini menyimpan sebuah rahasia, atau apa.. aku tidak tahu.

Setelah terbuka, ternyata isinya memang kosong, tidak ada cerita di sana, tidak ada komik, tidak ada buku cerita, tidak ada apapun, lalu bagaimana dia menamai dirinya sebagai Kotak Cerita? Aneh sekali. Akhirnya ku bawa kotak itu, aku mencoba untuk menerka-nerka bagaimana cara kerjanya. Aku coba berbicara tentang diriku, dan kotak itu bereaksi, dia berubah warna, aku terus berbicara, sampai akhirnya lelah sendiri, dan ku pikir, bagaimana jika ku tulis sebuah cerita dan ku masukan ke kotak itu, bukankah kotak adalah suatu tempat untuk menyimpan sesuatu? Lalu aku mulai menulis, aku tulis semua ceritaku, tentang aku, tentang keluargaku, tentang senja, atau tentang…. hemmm…. jus pisang rasa pisang, dan setiap ku masukan ceritaku, kotak itu selalu berubah warna, kadang merah, kadang biru, kadang menghitam… mungkin ceritaku terlalu gelap, sampai dia berubah menjadi hitam.

Kotak cerita itu sudah ku jejali banyak cerita, aku mulai ketagihan, dan mulai berpikir, sampai kapan dia mau menerima semua cerita ini, aku hampir yakin, bahwa kotak ini punya kapasitasnya sendiri, hanya saja, aku tidak tahu sampai berapa banyak dia mau menampung semua ini.

Ku tempatkan kotak itu di meja kerjaku, ku perhatikan setiap warna yang muncul di permukaannya, semakin cantik, semakin menarik, dan aku mulai menulis lagi…

Pandemi

Saya menulis ini bukan karena ingin hits, atau terkenal.. apa lagi untuk nyari penghasilan.. tidak sama sekali. Saya menulis ini agar menjadi catatan bahwa di tahun 2020 muncul sebuah virus yang luar biasa mempengaruhi kehidupan manusia, terutama kehidupan sosial dan ekonomi. Virus menular ini diberi nama sars-cov-2, corona, atau covid19.

Sifatnya beberapa kali lebih menular dari cacar, lebih mematikan, dan bisa berpindah dari manusia ke manusia, membuat penyakit ini menyebar dengan sangat cepat, sampai tulisan ini dibuat sudah hampir setengah juta orang terinfeksi, yaaa angka yang kecil sih di banding dengan jumlah penduduk dunia yang sudah mencapai 7 miliar orang, tapi di dunia modern angka itu termasuk angka yang masif. Berasal dari Wuhan, sebuah daerah di Tiongkok, lalu menyebar ke seluruh dunia.. benar-benar ke seluruh dunia, hampir tidak ada negara yang tidak tertular virus ini, mungkin hanya kutub utara dan kutub selatan yang tidak ada kasus infeksi corona, bukan karena di sana kebal, tapi yaaa.. karena gada orang aja yang ke sana, palingan juga para peneliti yang jarang pulang.

Kehidupan di bumi ini menjadi lebih lambat, karena perpindahan manusia dari tempat yang satu ke tempat yang lain menjadi berkurang, semua orang dihimbau untuk tetap diam di rumah, bahkan di beberapa negara seperti Tingkok.. tentu saja.. Itali, dan beberapa negara lain, tidak termasuk Indonesia, karena beberapa pertimbangan.. mungkin..

Berpergian dibatasi, konsumsi menurun, ekonomi melemah, korban meningkat, dan virus ini belum bisa ditaklukan. Begitu lah kira-kira keadaannya. Saya rasa keadaannya ini akan berlangsung lama, selama manusia masih belum punya kekebalan alami terhadap virus ini, mungkin dia tidak pernah menghilang dari bumi.. seperti cacar.. Dan.. yah ntah apa yang akan terjadi.. kita liat saja, bukan begitu, mike?

Orang Biasa

“Aku gak ngerti, sama tulisan kamu.”

“Yang mana?”

“Yang bahasa inggris semua itu.”

“Haha.. yang ada lagunya jhon legend? Kenapa emang?”

“Ya kamu coba baca lagi deh.”

“Hemm.. coba yah….”

“………”

“Iya juga yah, aku nulis apaan coba?”

“Nah kan, kamu aja gak ngerti, apa yang kamu tulis, apalagi aku.”

“Haha.. ya intinya sih, kita tuh cuma orang biasa, yang kadang membuat pilihan, yang ternyata pilihannya tuh gak tepat, dan setelahnya banyak hal yang terjadi, lalu menyesal.”

“Lalu?”

“Ya sudah, kadang ada pilihan yang memang tidak bisa ditarik, tidak bisa dikembalikan seperti sebelumnya. Pilihan yang membuat semua hal berubah.”

“Lalu?”

“Lalu… mau tidak mau, kita berjalan di pilihan itu dengan semua konsekuensinya. Konsekuensi dari sebuah pilihan itu yang sebenernya bikin berat. Kadang ada pilihan yang memaksa kamu mengubah apa yang ada dalam diri, membentuk diri yang baru, yang sama sekali berbeda dengan dirimu di masa lalu.”

“Perasaan tulisannya gak bilang gtu deh.”

“Haha.. iya sih, itu tulisan rasa bersalah, atas sebuah pilihan sih, kadang aku memilih hal yang ternyata bikin banyak orang tersakiti.”

“Pilihan apa emang?”

“Hem? Pilihan berganda.. hehe. Kita semua tuh emang hidup untuk memilih, bahkan ketika kita dipilihkan, sebetulnya kita memang memilih untuk dipilihkan..”

“He? Gimana?”

“Iya.. sama seperti tidak memilih sama sekali, itu sama aja dengan memilih untuk dipilihkan.”

“Aku makin gak ngerti apa yang kamu bicarakan.”

“Kenapa manusia diberikan akal untuk memilih ya? Kenapa kita, manusia tidak dibiarkan saja hidup dengan naluri, seperti sapi,, atau kelinci? Yang hidupnya, cuma makan, tidur, berkembang biak, lalu mati… bisa karena umur, bisa karena disembelih.. atau dimakan predator. Kamu sadar gak sih? Kalau manusia seperti itu, dunia akan lebih baik?”

“Lalu apa hubungannya dengan pilihan itu?”

“Hubungannya? Complicated.. Tapi yang pasti, kita bisa memilih karena kita punya akal. Tuhan tuh cuma ngasih 1 kelebihan kepada manusia di antara makhluk-makhluk lainnya, yaitu akal. Kita tuh gak dikasih bulu, kita gak dikasih pencernaan yang cukup kuat untuk mencerna bahan mentah, bahkan sistem imun kita tuh, kayaknya paling lemah deh di antara makhluk-makhluk lain.”

“Kata siapa? Itu sushi, sama lalaban kan bahan mentah.”

“Ya tapi kamu makan dipilih dan dibersihkan dulu kan? Gak kamu makan ikan utuh gitu, kita bahkan gak boleh makan daging ayam mentah, padahal kalau liat buaya, atau singa makan ayam, mereka bisa makan mentah dan makan semuanya.”

“Emang singa sama buaya, makannya ayam?”

“Ya… bukan juga sih, tapi aku yakin, dua makhluk itu kalau dikasih ayam, gakan minta dibersihin dulu bulunya.. apalagi sampai minta dibikin opor.”

“Ya.. masuk akal sih. Emangnya kenapa kalau manusia cuma dikasih akal?”

“Bukan cuma sih.. Akal tuh kayak senjata terkuat di alam semesta.. kalau misalnya tidak ada kehidupan lain di luar sana yang lebih canggih yah.. Kamu sadar gak sih, dengan akal aja, kita bisa berpikir bagaimana cara melindungi diri dari udara dingin dan panas, kita bisa mengolah makanan kita agar menjadi aman dikonsumsi, kita bahkan bisa membuat lingkungan kita aman dari segala macam ancaman.”

“Lalu? Arah pembicaraan ini tuh kemana sih?”

“Gak kemana-kemana sih.”

“Lahh terus? Lalu inti tulisan bahasa inggrismu itu gimana?”

“ya intinya sih aku punya rasa bersalah, karena satu pilihan.. Sebuah pilihan yang dibuat, yang melibatkan akal. Itu!”

“…..”

 

 

Mendung

Aku berjalan ke taman yang sudah lama tidak ku kunjungi, rasanya masih sama seperti dulu, hanya sedikit perubahan karena waktu. Bangku-bangku taman yang biasa aku pakai untuk duduk, sekarang sudah tidak seperti dulu, tampak rapuh, dan sedikit kotor. Aku duduk di satu bangku di dekat pohon dan lampu jalan, belum menyala karena belum terlalu sore, tapi langit sudah gelap, ada kumpulan awan gelap yang menyembunyikan matahari. Mendung..

“Aku benci mendung.” Kataku.

“Kenapa?”

“Mendung selalu membawa ingatan kesendirian untukku. Dulu, aku sering menghadapi mendung sendirian. ”

“Iya kah?”

“Hu’um.”

“Ada gak sih ingatan masa kecil kamu yang gak sedih?”

“Haha… Kenapa emang?”

“Abisnya kamu tuh kalau cerita, hampir sebagian besar sedih.”

“Haha.. Ada lah.”

“Apa misalnya?”

“Misalnya… Sekelas sama kamu dulu.”

“Kenapa emang kalau sekelas sama aku? Kamu nyapa juga gak pernah.”

“Hahaha.. Iya yah, aku hampir tidak pernah menyapamu, aku terlalu malu untuk itu.”

“Bahkan hanya untuk melempar senyum ketika melihatku?”

“Ehehe.. Iya, ngeliatin kamu aja, malunya setengah mati. Kok kamu tahu aku suka ngeliatin kamu?”

“Tahu dong, pandangan cewek tuh lebar lagi, jadi kalau ada yang ngeliatin, sebenernya kita tahu. Makanya kalau kita nyari barang yang hilang, cewek tuh lebih unggul.”

“Termasuk kalau nyari-nyari kesalahan orang?”

“Ih… Ya gak lah, aku tuh gak pernah nyari-nyari kesalahan orang yah, tapi kamunya aja susah dibilangin.”

“Hahah… Ya maaf. Dulu aku sering lho ngebayangin ngobrol lama kayak gini, saling bercanda, cerita-cerita. Kadang aku iri sama geng pintarnya kamu itu.”

“Apa sih… Geng pintar.”

“Iya kan? Yang ngumpul sama kamu tuh kan anak-anak pinter semua.”

“Itu sih kamu aja yang gak mau gabung, sombong…”

“Bukan sombong, tapi malu.. Pertama emang malu, kedua, aku ngerasa gak sepinter kalian aja gtu.”

“Dih, malesin.. Terus akhirnya kamu berani deketin aku, gimana ceritanya?”

“Eh? Aku kan gak deketin kamu, tapi kamu yang deketin aku, Hahaha…”

“Iiihhhhh apaan sih?”

“Hahaha.. Hemmmm.”

“Hemm apa?”

Gelegar petir membuyarkan lamunanku, hujan belum begitu deras, tetapi kilat sudah menyambar kesana kemari, beberapa orang mulai mencari tempat berlindung, termasuk aku.

“Aku benci mendung.” kataku lirih, tidak ada yang menanggapi. “Aku benci mendung!” Masih tak ada yang menanggapi, “Aku… Benci… Mendung…” masih saja sunyi.

Cemas

Setiap hari, saya selalu membuka aplikasi timehop, itu adalah aplikasi yang membuat kita bisa membaca lagi twit, atau postingan baik dari Instagram maupun Facebook, dan setiap hari pula, saya mengingat apa yang sudah saya lakukan, sejauh apa saya sudah melangkah. Umur saya sekarang sudah ada di kepala 3, saya tidak menyangka bisa hidup selama ini, dan tentu saja banyak pencapaian yang sudah saya raih, setidaknya saya bisa hidup.

Setiap hari saya hidup, dan setiap hari itu juga saya selalu berpikir tentang mau kemana saja berjalan, saya bukan lagi saya yang di usia 20an, yang bertindak tanpa memikirkan beberapa hal, saya sadar, waktu produktif saya sudah tidak sebanyak dulu, asumsikan waktu produktif saya tinggal 30 tahun lagi, dan itu waktu yang rasanya tidak terlalu lama. Salah satu ketakutan terbesar saya adalah tidak menjadi apa-apa, dan rasa merasa sampai detik ini, saya belum ngapa-ngapain. Tapi oke lah, setidaknya detik ini, saya punya pekerjaan, saya punya penghasilan yang cukup, tapi selalu berpikir saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, bisa saja tiba-tiba saja, saya kehilangan pekerjaan ini. Pada dasarnya saya bukan orang yang pintar, kadang saya masih melakukan kesalahan, kadang saya merasa bodoh sekali.

Punya pikiran seperti itu, setiap hari membuat kepala saya rasanya ingin meledak, tapi itu yang akhirnya sama memutuskan lagi untuk belajar hal baru. Saat ini pekerjaan programmer, dan saya harus belajar hal yang berbeda dengan apa yang biasa saya lakukan sehari-hari.

Sudah hampir setahun ini saya belajar technical analisys perdagangan komoditas, baik itu komoditas logam mulia, saham, ataupun pertukaran uang. Intinya dengan teknik ini, saya bisa memprediksi, “kemana” harga akan bergerak, apakah akan bergerak naik atau turun. Selain itu, saya mencoba untuk belajar data analisis. Hal ini sebetulkan gak lepas dari programming, tapi hanya sedikit, tidak sebanyak yang jadi pekerjaan saya sekarang. Belajar untuk mencoba menganalisis dan mengolah data, menjadi informasi, ternyata lumayan menyenangkan juga.

Saya tidak tahu, mana hal yang akan membawa saya lebih jauh ke depan, dua hal yang saya coba pelajari, sebetulnya belum membuahkan hasil, bahkan saya tidak tahu, apakah akan berhasil apa tidak, yah.. yang penting saya mencoba, bahkan ketika saya gagal, saya tidak akan kecewa, karena saya tahu, saya sudah berusaha. Saya cemas, tapi saya berusaha..

Sephia

“Aku gak pernah lho jadi seperti ini.”

“Jadi seperti apa?”

“Ya seperti ini, jadi seseorang di antara dua orang.”

“…….”

“Kalau kamu, pernah?”

“Gak juga, aku kan pacaran baru 2 kali, 3 kali deng, sama kamu ini. “

“Gimana rasanya punya dua pacar? Dia sayang kamu juga kan? Kamunya sendiri, sayang gak sih sama dia?”

“Gimana ya? Rasanya…. jujur rasanya ada rasa bersalah sih, di satu sisi, aku pengen banget jadi pacar kamu, tapi di sisi lain, aku ada dalam satu hubungan.”

“Hoooo.. Kenapa gak balik aja ke hubungan yang itu?”

“Tidak semudah itu sih…”

“Masa? Kita putus ya…”

“Jangan…. aku tuh gakan kayak gini kalau gak sayang banget sama kamu, selama ini, rasanya gada cewek yang bikin aku ngerasa seeeee… ini…. “

“Se.. ini apa? Ini gmana maksudnya?”

“Sesayang ini, senyaman ini, ntah kenapa aku suka banget ngirim chat tengah malam kayak…. kemaren-kemaren, walaupun kamu gak balas, tapi seneng aja gtu.. kayak punya temen cerita, temen berbagi tentang banyak hal yang aku alami di hari itu.”

“Emang ke pacar kamu gak gtu?”

“Pacar aku kan kamu..”

“Pacar yang satunya…. “

“Heu… gak, dari pertama kita kenal, ampe pacaran, aku gak pernah cerita sebanyak aku cerita ke kamu.”

“Bohong….”

“Bener…. masa aku bohong..”

“Bisa aja kan?”

“Please… percaya deh sama aku..”

“Aku juga heran, kamu tuh suka banget cerita soal apa yang kamu ngerjain pas aku dah tidur. Awalnya aku mikir kamu tuh aneh banget, cerita gak jelas, panjang pula, tapi lama kelamaan, kok aku seneng ya kamu cerita kayak gtu, kadang malamnya aku jadi penasaran cerita apa lagi yang mau kamu kirimkan ke aku.”

“Jadi karena itu kamu mau ma aku?”

“Ntah lah, yang pasti aku juga seneng baca cerita kamu. Kok kamu bisa banyak cerita gtu sih? Kamu tuh kelihatan pendiem.”

“Ya emang kan? Kadang aku terlalu malas untuk berbicara, capek. Makanya aku lebih suka chat, karena sebenernya pikiranku tuh berisik banget, dan cuma akan keluar sama orang-orang yang bikin aku ngerasa nyaman.”

“Seandainya, posisiku dibalik, aku jadi pacarmu yang jauh di sana, lalu kamu ketemu sama dia… kira-kira kamu selingkuh juga gak?”

“Nggak sih kayaknya, kalau aku akan selingkuh sama dia, ketika aku lagi lagi bareng kamu, berati hubungan ini gakan terjadi. Aku kan dah bilang, aku gakan selingkuh kalau gak sayang banget banget kayak gini…”

“Kamu belum jawab semua pertanyaanku lho..”

“Ya, itu… Kamu tuh sayang gak sama pacar kamu?”

“Ya… lumyan sih.. “

“Bilang aja sih kalau sayang, aku ngerti kok, aku kan cuma selingkuhan.”

“Kok gtu?”

“Ya emang kan? Kenapa sih selingkuh?”

“Karena… aku sayang kamu..”

“Halah.. gombal…. aku tuh yakin.. selingkuh tuh bukan hanya karena sayang, tapi ada hal yang lain yang bikin orang itu selingkuh.. ya kan? Aku tanya deh, dia cukup perhatian kan sama kamu?”

“Iya sih…”

“Menurutku, dia cantik, pinter juga, perhatian, dia gak pernah macem-macem sama kamu kan?”

“Kayaknya..”

“Lalu apa yang bikin kamu selingkuh?”

“Kenapa sih nanya-nanya kayak gitu?”

“Karena aku selingkuhan kamu, dan aku gak puas dengan jawaban ‘aku sayang kamu’.”

“Boleh ‘call a friend’ gak?”

“Call pacarmu maksudnya?”

“Sejujurnya aku juga gak tahu kenapa aku sayang kamu, dan mungkin mencintai seseorang tidak butuh alasan jelas. Aku bener-bener gak tahu kenapa aku suka sama kamu, yaman sama kamu, pengen ada untuk kamu, dan pengen kamu ada untuk kamu. Pertanyaan itu terlalu sulit untuk aku jawab, kenapa aku selingkuh, kenapa aku menjadikan kamu pacar padahal aku lagi punya hubungan. Mungkin cinta emang rumit aja gitu, seperti kata kamu, cinta memang tak selinear x=y. “

Misteri

Hidup adalah misteri.

Tentang yang ntah bagaimana ternyata ada.

Untuk memberitahu siapa ternyata bagaimana.

Kapan menemukan apa, atau dimana menunjukan kemana.

Hanya perlu menunggu, kapan menunjukan apa, siapa yang ternyata bagaimana.