Ntah Kenapa

Di sela-sela bekerja, kadang saya sedikit melamun dan hal yang kadang muncul adalah sebuah bayangan anak kecil, memakai kaos dan celana pendek, berdiri di tepi jalan yang sepi dan sendiran, dan seperti sedang menahan tangis ntah ada apa.

Bayangan itu hilang ketika saya kembali bekerja.. ah ntah kenapa..

Advertisements

……

Life is make one decision to another decision, sometimes it’s going to good, some not so good. No matter it’s going, because it depend on how to face it.

Life is social thinks too, you can stand alone, although you want it, there are always people around you, like family, or friend and when you make a desicion, it will take effect to people in your circle.

Sometimes you make them down with your desicion, and make you feel so guilty, but don’t know what supose to do. Start to think how to solve it, but still not getting any to solve it.. stuck at the moment that you call salah kaditu kadieu make you stress, letting the time goes by, hoping it will bring the answer…

Like John legend says.

Take it slow
Maybe we’ll live and learn
Maybe we’ll crash and burn
Maybe you’ll stay, maybe you’ll leave,
maybe you’ll return
Maybe another fight
Maybe we won’t survive
But maybe we’ll grow
We never know baby you and I

We’re just ordinary people
We don’t know which way to go

 

Data untuk kehidupan dan nasib pendidikan

Selasa tanggal 30 Agustus kemarin, saya berkesempatan ikut konferensi yang bertajuk “Data For Life 2016”. Sebetulnya agak “tersesat” ikut acara itu, karena ternyata itu lebih cocok diikuti orang bisnis, bukan orang teknis macam saya, karena inti acaranya memperkenalnya, bagaimana data yang terdigitalisasi, akan menjadi bagian penting dalam hidup, terutama dalam bisnis.. tapi sudahlah, saya ikuti saja.

Acara dibuka oleh penampilan Ndah N Rhesaaaaa… Yang ternyata keren sekali.. Mereka membawakan beberapa lagu.. Untungnya mereka gak bawain lagu “when you love someone” bisa tiba-tiba langit mendung.. Hahha


Sesi selanjutnya adalah pidato pembuka dari yang punya acara, saya lupa namanya, tapi yang pasti dia CEO dari mediatrac, sebuah perusahaan big data yang ada di Indonesia.

Key note speaker tampil setelah pidato pembuka, dia berbicara tentang perubahan yang terjadi di dunia kita. Menurut dia, kita ada dalam perubahan digital, semua aspek kehidupan tidak bisa lepas dari itu, terutama bisnis. Katanya model bisnis yang ada sekarang bukan lagi model bisnis produksi – distribus – konsumsi, atau yang dia sebut dengan pipe bussiness model berganti dengan platform bussiness model. Model bisnis seperti ini berfokus pada interaksi para pemakai untuk menambah “nilai”, dari bisnis tersebut, hal ini mendorong terciptanya ekosistem bisnis. Ambilah contoh facebook, whatsapp, instagram, line of bussiness mereka berbeda-beda tapi sebetulnya mereka ada dalam satu ekosistem, yang itu menyediakan platform untuk orang-orang berinteraksi atau berbagi satu sama lain. Kira-kira seperti itu lah apa yang disampaikan oleh key note speaker. Sesi selanjutnya lebih ke presentasi sampai dimana data bisa digunakan untuk merubah banyak hal, seperti di bidang pemerintahan atau kesehatan.

Yang menarik di acara itu ada panel diskusi tentang pendidikan yang berbasis digital, pembicara yang dihadirkan berasal dari binus, ruangguru.com, oneindonesia.id, dan haruka edu. Kelima orang ini mempunyai platform untuk pendidikan, tujuannya mendorong akses pendidikan menjadi lebih mudah. Ketika acara ini berlangsung, ada pertanyaan besar yang muncul untuk dunia pendidikan Indonesia, ketika dunia menjadi lebih “cepat”, jarak ruang dan waktu yang semakin tidak berbatas, persaingan menjadi lebih ketat, tidak hanya dalam skala nasional, tapi juga internasional, menurut salah satu pembicara panel, di tahun 2020, anak-anak yang hari ini berusia 15-19 tahun, akan memasuki usia produktif, tapi siapkah mereka untuk persaingan itu? 

Ini tanda tanya besar untuk bangsa ini, sampai sekarang kita belum siap untuk persaingan yang luas. Ketika ada isu pekerja dari negeri sebelah akan masuk ke Indonesia, bangsa ini terlihat seperti ketakutan dengan hal itu, padahal di masa depan, padahal apa yang disebut pasar global, sudah berlangsung hari ini.

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi ekosistem pendidikan, baik itu orang tua, lingkungan dan tentu saja sekolah. Sekolah dituntut untuk “menciptakan” orang-orang berkemampuan baik, dan daya berdaya saing tinggi, siapkah sistem pendidikan yang ada hari ini? Ketika kita tahu, bahwa setiap anak mempunyai bakatnya masing-masing, bisa kah pendidikan kita mendorong mereka menemukan bakatnya sendiri-sendiri? Ini pertanyaan besar untuk pendidikan Indonesia. 

Sistem pendidikan seharusnya menjadi “pelatuk” untuk anak Indonesia menemukan siapa dirinya, bukan hanya tempat dimana kita dijejali bermacam-macam pelajaran, yang bahkan ketika dewasa, kita bahkan memakainya. Ini tantangan besar yang harus dijawab, dan harus dimulai secepatnya. Pertanyaan besar.. Siapkah kita untuk ini?