Sarapan

Pagi hari, Dia duduk di meja kecil untuk menikmati sarapannya, dua lembar roti tawar yang dioles selai, dan segelas susu hangat, cukup untuk mengusir rasa dingin suasana pagi itu.
Mulutnya sibuk menguyah makanan, sesekali meneguk susu, tapi pikirannya melanyang jauh ke suatu tempat dimana senja ntah sedang apa.. Senja.. di pikirannya hanya ada Senja.. Senja.. dan Senja.. ntah mau sampai kapan.

Tentang C

Cinta adalah lipatan-lipatan senja yang disisipi cerita dan kenangan akan sebuah cerita.

Cinta adalah butiran-butiran pasir yang tercetak langkah-langkah, dari sebuah perjalanan.

Cinta adalah sebuah senyuman paling indah, ketika dia menatapmu.

Cinta adalah gombalan-gombalan klise yang dibalas dengan senyuman dan kata-kata “Kamu tuh gombal ya?”

Cinta adalah tempat ternyaman di sebuah sudut bernama hati.

Cinta adalah tawa-tawa kecil di sela-sela percakapan tentang apa saja.

Cinta adalah menikmati tatap dan senyumnya sembari tetap menjaga jarak.

Cinta adalah kegoisan, kesombongan, dan ketikdaktahuan diri, untuk menguasai hati yang lain.

Cinta adalah menikmati rindu yang selalu mengiris.

Cinta adalah rasa ingin memiliki, tapi tidak ingin mengekang.

Cinta adalah dorongan, tarikan, dan paksaan untuk bangkit ketika terjatuh.

Cinta adalah kecupan-kecupan kecil ketika tak ada kata, saat beradu tatap.

Cinta adalah harapan-harapan kosong yang terus diisi dengan kepura-puraan, agar tetap bisa hidup.

Cinta adalah menikmati setiap detik pertemuan, sebelum kita sadar, ada perubahan di antara kita.

Menertawakan Orang Bodoh

Seberapa sering kamu menertawakan jawaban salah seseorang, lalu merasa lebih pintar? Kadang kita lupa, sebetulnya yang kita tertawakan bukanlah orang bodoh, mereka hanya tidak tahu. Rasanya tidak adil menertawakan ketidaktahuan seseorang. Rasanya mengesalkan ketika kita tidak tahu, lalu ditertawakan di depan muka sendiri, itu sama saja dengan penghinaan. Padahal semua dari kita, pernah berada di posisi tidak tahu apapun….

Catatan siang, ketika Kota Yogyakarta, sedang panas.

Mentari Pagi

Setelah ratusan sore tanpa senja, Dia masih berjalan di setapak yang sama, dengan ingatan yang sama, memori yang sama, semua hampir sama, kecuali pada suatu hari Dia bertemu yang lain. “Mentari Pagi” katanya ketika Dia menanyakan nama seseorang yang lain itu. Mentari Pagi.. Akhirnya ada yang mampu mengalihkan perhatiannya dari Senja yang sudah pergi ntah kemana. Senyumnya mengembang lagi, Dia yang pemurung lambat laun berubah, ada setitik cahaya di matanya, mata yang telah lama kehilangan sinarnya itu, akhirnya terang lagi..

Semakin lama, dia semakin dekat dengan Mentari Pagi, obrolan-obrolan kecil yang biasa terjadi bersama senja akhirnya terjadi lagi, hangat seperti biasa… dan senyumnya, tatap matanya…. sangat mirip dengan Senja.. begitu pikirnya,, pantas ada sesuatu yang tidak asing dalam dirinya, dalam diri Mentari Pagi,,, ada sebagian Senja di dalam Mentari Pagi,,,

Suatu hari yang lain Dia berjalan sendiri di setapak yang sama, tanpa Mentari Pagi.. “Dia bukan Senja..” Dia berkata dalam hati.