Berinvestasi Biar Cuan

Cuan adalah buzz word yang cukup populer belakang ini. Kata ini mengacu pada keuntungan yang didapatkan dari hasil berinvestasi, dalam hal ini biasanya dalam bentuk saham. Maka, kata berinvestasi sekarang ini sangat lekat dengan besarnya keuntungan yang akan didapatkan.

Tapi saya tidak akan membahas tentang apa itu saham, apa itu investasi, atau bagaimana cara agar cuan besar, biarlah akun-akun jago saham yang bahas soal itu. Saya lebih ingin membahas soal investasi dari pandangan pribadi, lebih tepatnya dari apa yang sudah saya lakukan selama ini.

Dari pertama kali saya kenal istilah investasi, yang tertanam dalam benak saya adalah menunda kenyamanan hari ini, untuk menyamanan di masa depan, dan juga menjaga nilai riil uang yang disimpan agar daya belinya tetap sama di masa depan, dengan kata lain menjaga nilai uang dari pengaruh inflasi.

Apa langkah pertama untuk berinvestasi? Instrument apa yang paling cocok untuk berinvestasi? Untuk orang-orang di masa lalu, berinvestasi dengan membeli tanah, bangunan, atau perhiasan, tapi jaman sekarang instrument investasi bergeser ke surat-surat berharga, reksadana, atau mungkin saham. Tapi saya pikir banyak orang yang lupa, kalau investasi paling pertama itu adalah diri sendiri. Maksudnya adalah bagaimana cara kita untuk membentuk perilaku agar dapat mencapai tujuan investasi. Kembali ke definisi investasi yang saya pelajari, langkah pertama untuk berinvestasi yaa… belajar menurunkan gaya hidup. Langkah ini bisa dipelajari oleh semua orang, menahan diri untuk tidak banyak “jajan”. Sebetulnya ini langkah yang paling sulit, apalagi dengan banyaknya iklan-iklan makanan, tempat nongkrong, atau fashion yang hits-edgy-viral-apalah-apalah itu, tapi dengan kita menahan diri untuk tidak terlalu sering mengeluarkan uang, itu artinya akan ada cukup uang yang tersisa untuk berinvestasi.

Ok, saya sudah bisa menurunkan gaya hidup, lalu apa lagi? Setelah terbiasa dengan gaya hidup yang “biasa-biasa saja”, harusnya akan lebih mudah, tapi sebelum membeli instrument investasi, ada baiknya kita mempunyai tabungan dalam bentuk uang tunai. Iya.. ada yang bilang cash is the king karena hidup tergantung dengan uang tunai yang kita punya, apalagi hidup kadang tidak bersahabat sehingga kita perlu mengeluarkan uang lebih. Sebetulnya beberapa instrument investasi untuk “liquid” dan dapat ditarik kapan saja kita mau, hanya saja, investasi selalu punya tujuan yang harus dicapai, jika investasi bisa ditarik semau kita, rasanya itu bukan investasi, itu namanya tabungan biasa.

Setelah bisa menekan gaya hidup, dan memiliki tabungan, apakah artinya itu saya siap berinvestasi? Ya tentu saja, tapi sebelum membeli instrument investasi, kenali dulu profile risiko anda. Profile risiko ini biasanya dibagi 3, yaitu konvensional, moderat, dan agresif. Tingkatan ini dibedakan oleh risiko yang mau ditanggung oleh pemegang investasi, ingat.. investasi selalu mempunyai risiko berupa kehilangan uang yang diinvestasikan. Saya pribadi mempunyai profile risiko agresif, beberapa portofolio saya adalah instrument yang berisiko tinggi, dan sedikit tips bagi orang-orang yang memiliki profile risiko agresif, selalu gunakan “uang sampah” untuk berinvestasi, artinya uang yang jika hilang seluruhnya, hidupmu tidak terpengaruh sama sekali…. Ya paling sakit hati untuk beberapa hari, tapi hidupmu masih nyaman laahh..

Setelah menentukan profile risiko, silakan cari manajer investasi yang menjual instrument yang cocok dengan profile risiko masing-masing. Soal jenis instrument apa saja yang saya punya, mungkin saya ceritakan selanjutnya, itu juga kalau mood.. haaha

Tidak Ada Solusi Tabung Gas Rusak Di Sini

Untuk siapa saja yang googling tentang, bagaimana cara memperbaiki tabung gas LPG yang bocor ataupun rusak, lebih dihentikan. Karena tidak ada solusinya. Lebih baik tabung itu ditukarkan saja.

Postingan tentang LPG yang rusak adalah postingan tersukses di blog ini, secara statistik, itu postingan selalu ada yang akses. Kayaknya, banyak orang yang butuh bantuan untuk memperbaiki tabung gas, tapi postingan itu tentang kegagalan saya memperbaiki tabung yang rusak. Lagian ya, tekanan dalam tabung itu, sangat tinggi jadi kalau tabungnya rusak, sebaiknya berhati-hati, karena bisa jadi ledakan.

Intinya yah.. sekali lagi bapak-bapak/ibu-ibu kalau tabung gas LPG anda rusak, langsung lapor ke pangkalan gas, berusaha untuk memperbaiki, apalagi sampai googling.. bahaya, pak.. bu…