Pisah

Aku tidak pernah membayangkan akan punya cerita hidup ini… tidak pernah sama sekali… bahkan aku tidak pernah menyiapkan apapun tentang ini.

Waktu aku bercerita tentang mengambil keputusan besar dalam hidup, rasanya aku sudah siap dengan segalanya. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Aku sadar waktu aku mengambil keputusan itu, masih ada masalah yang belum selesai, alih-alih berusaha menyelesaikannya, aku memilih untuk menganggap itu tidak ada… sebuah tindakan yang bodoh. Berada dalam keadaan yang salah, ternyata hanya membuatku menjadi seperti orang jahat, aku benci menjadi seperti itu… aku tahu dirimu, dan aku tidak seperti itu… sampai akhirnya… mau gamau… harus mengambil keputusan untuk pisah.

Sebuah keputusan yang.. aslinya menyakitkan..

Tidak mudah untuk menjelaskan kepada orang-orang kenapa ini harus terjadi. Karena mungkin tidak akan ada yang bisa mengerti… beban ini… ketakutan ini… dan rasa bersalah ini… rasanya sulit untuk dimengerti untuk siapapun. Jika ada opsi untuk menghilang, rasanya aku ingin menghilang saja.

Kadang, aku termenung sendirian, memikirkan apa selanjutnya.. apa yang harus aku lakukan.. aahhh rasanya aku ingin diam saja… membiarkan waktu melewatiku, sampai ntah kapan.. seperti yang sudah-sudah..

Setelah Sekian Lama

“Wow…”

“Wow, apa?”

“Wow.. Akhirnya, kenihilan kita benar-benar terjadi. Rasanya apa yang aku bayangkan selama beberapa tahun kebelakang ini benar-benar terjadi.”

“Membayangkan apa?”

“Kenihilan kita, ketidakberadaaan kita, kita akhirnya benar-benar tidak ada, tidak eksis di dunia ini. Kadang aku mikir, jangan-jangan, semesta memberikan keadilan dengan cara memberikan ketidaksempurnaan kepada setiap orang.”

“Setelah sekian lama, kamu makin gak jelas tahu gak, sok filosofis.”

“Haha.. Setelah sekian lama, rasanya yang tidak berubah dari diriku adalah pertanyaan, kenapa kita pertemukan dengan orang yang membuat kita jatuh cinta, lalu dipisahkan dengan tragis?”

“Tapi kan, semua orang akan berpisah dengan orang yang dicintainya, hanya masalah waktu aja.”

“Iya, menurutku, ada tiga jenis perpisahan di dunia ini, yang pertama, perpisahan romantis, yaitu perpisahan karena takdir… kematian maksudnya. Jenis perpisahan yang memang begitu seharusnya, natural. Yang kedua, adalah perpisahan tragis-romantis, ini jenis perpisahan yang disepakati oleh dua orang yang pernah bersatu, perpisahan murni tanpa pengaruh lingkungan luar. Yang ketiga, adalah perpisahan tragis, perpisahan yang kadang tidak dimengerti oleh keduanya, perpisahan yang dipaksakan karena tekanan dari lingkungan luar.”

“Kamu masih mikirin perpisahan ini ya?”

“Kehilangan seseorang yang membuatku terlibat dengan perasaan yang begitu dalam, dan terobesesi dengannya, membuatku susah sekali untuk lupa. Sampai titik dimana aku berusaha untuk menerima kalau itu adalah bagian dari hidupku, dan yah.. kadang ingatan itu muncul, sampai sekarang.”

“Aku gak tahu sih, apa yang aku bilang ke kamu.”

“Kamu tahu gak sih? Di titik ini, aku pikir satu-satunya kabar yang akan terdengar setelah sekian lama, adalah kabar kematian salah satu dari kita, ntah siapa yang akan mendengar kabar siapa, itu masih menjadi misteri.”

“Kenapa begitu?”

“Beberapa bulan kemarin, aku mendengar kabar kematian teman-temanku dulu, setelah terakhir bertemu, berpisah, lalu kabar terakhir yang terdengar adalah kabar kematian. Jadi aku pikir, nasib kita juga akan sama. Kita tidak akan pernah lagi berkabar, kamu tidak akan lagi menyapaku, begitu juga dengan ku, sapaan-sapaan kita yang dulu terasa begitu hangat, rasanya tidak akan lagi kita rasakan, sampai satu saat nanti, salah satu dari kita mendengar kabar itu dari teman yang dari dulu kita kenal, ntah dari siapa, aku juga gak tahu.”

“Kayaknya kamu mulai gila.”

“Hehe.. Yah, aku berusaha untuk meninggalkan tempat itu, aku mulai berusaha untuk meninggalkanmu, menjauh, mencari tempat lain, dan itu rasanya sulit sekali, semakin aku jauh, rasanya kewarasanku makin berkurang, sampai rasanya aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan.”

“Kenapa tidak kamu saja yang menyapaku?”

“Karena aku tahu kamu, kayaknya, kamu tidak akan pernah lagi, membalas pesan-pesanku, lagian…. untuk apa juga? Kenapa aku harus tahu kabar kamu?”

“Yaa.. agar apa yang kamu pikirkan tentang kabar terakhir itu, tidak terjadi.”

“Hehe.. lagian yah, seadainya kamu membalas pesanku, perubahan kita tuh akan makin terasa, kita sudah terlalu jauh, sudah terlalu lama, rasanya kita bukan kita yang dulu lagi, dan jujur aku takut sih, ingatanku tentang kamu tuh, akan selalu manis, selalu tentang kita yang terasa sempurna, kalau aku benar-benar merasakan perubahan itu, rasanya akan lebih sedih, aku gatau bagaimana aku harus berhadapan dengan kamu yang sudah berbeda. Jadi.. ya sudahlah, biarkan saja seperti ini, dan biarkan apa yang aku pikirkan terjadi. Ditinggal kamu saja, rasanya sudah sulit sekali, banyak energi yang aku keluarkan untuk tetap bisa berdiri, dan kalau harus menghadapi kamu yang sudah berubah, rasanya aku terlalu lelah untuk itu. Aku gak sanggup.”

“Kabarku baik-baik saja…”

“Yah, aku tahu…”

Selingkuh

“Kita mau kemana lagi nih?”

“Terserah, Kemana aja lah, bosen aku di rumah.”

“Terserah itu maknanya luas lho, dengan jawab seperti itu, kamu ngasih kebebasan ke aku, untuk bawa kamu kemana aja aku mau, aku bawa kamu ke Mars baru tahu rasa kamu, haahhaha.”

“Iya sih kamu bisa bawa kemana aja kamu mau, tapi pertanyaannya, emang sampai sejauh mana kamu bisa? Ke Mars kan udah gak mungkin.”

“Iya sih… Muter-muter kota aja kali ya?”

“Boleeh.. Eh kita makin sering ketemu ya? Pacarmu pakabar tuh?”

“Hemmm iya sih, pacarku? Kenapa tiba-tiba nanyain pacarku?”

“Gak apa-apa sih? Gak boleh ya?”

“Ya boleh aja sih.. cuma… hemmm.. bisa gak, kalau bahas yang lain aja? Sapi terbang, misalnya?”

“Haha…”

“Pacarku ya ada aja sih, di rumahnya, gatau lagi ngapain”

Lagi mikirin kamu, kali.”

“…….”

“Kok diem?”

“Gapapa sih, cuma.. apa ya? Bisa gak, gak bahas dia pas kita lagi bareng? Aku lagi pengen nikmatin waktu bareng kamu aja. Aku tahu sih, posisi kita tuh udah bukan temen biasa, setelah kamu tahu perasaanku.”

“Aku gak nyangka, kok bisa sih?”

“Ya bisa dong, namanya perasaan mah, kadang gak bisa dikendalikan.”

“Tapi reaksi dan perilaku dari perasaanmu itu bisa dikendalikan. Kadang aku heran, kenapa orang yang udah punya pasangan, tetep bisa suka atau sayang sama yang lain? Boleh tanya gak?”

“Apa?”

“Apa sih yang aku liat dari aku?”

“Salah satunya, kamu beda gitu.”

“Ya bedanya tuh dimana? Jujur deh? Apa sih yang kamu mau dari aku? Tubuhku? Atau apa? Jujur deh.”

“Gak gitu, gak sampai ke sana juga, cuma apa ya? Aku lebih nyaman aja gitu sama kamu.”

“Kalau akhirnya, kamu bisa bareng aku sepenuhnya, terus kamu ketemu cewek yang bisa bikin nyaman lebih dari aku, kamu bakal lakuin hal yang sama ke aku?”

“Ini aku bisa turun aja gak ya? Aku merasa ditonjok gini sama kamu.”

“Kalau kamu turun, siapa dong yang nyetir? Aku kan gak bisa nyetir.”

“Ya kamu dorong aja mobilnya, terserah mau kemana.”

“Di posisi ini tuh rasanya serba salah, aku suka sama kamu, kamu bisa bikin aku nyaman, kayak sekarang, aku nyaman jalan sama kamu. Tapi… Di sini lain, aku juga salah, aku nyakitin perasaan pacarmu pasti.”

“Terus mau kamu gimana?”

“Kalau kamu?”

“Ya kalau aku sih, maunya jalan aja dulu, kita liat keadaan ke depan kayak gimana.”

“………”

“Kasih aku waktu yah…”

“Iya….”

Catatan Akhir tahun, Ketika Di Luar Tidak Hujan, Dan Segelas Kopi Telah Habis

Ini akhir tahun, sayang.. Bagaimana tahunmu? Menyenangkan? Kita terjebak di dunia yang suram tahun ini. Wabah belum berhenti, sayang.. Jangan kamu keluar dulu, tunggu sini, temani aku.

Sayang, kita yang pernah ada dan bahagia, ternyata memang tidak bisa bersama. Kita sudah berjalan terlalu jauh ke arah yang berbeda, kita ada di titik perasaan yang sudah begitu hambar, dan mulai terasa seperti ingatan biasa. Kita yang pernah bersama dan bahagia, akhirnya padam pula.

Sayang, aku tidak akan lagi berbicara tentang kita, semua harus berubah, kamu menghilang, dan aku akan pergi.

Sayang, dunia ini sedang suram, banyak orang sakit, masuk rumah sakit, dan sebagian dari sakit itu mati. Belum ada yang bisa menolong kita, orang-orang pemerintahan hanya peduli dengan angka. Kita hanya statistik, selama statistik masih terlihat bagus, kita akan dibiarkan begitu saja, mungkin sebentar lagi giliran kita, sayang.

Kita hanya orang-orang biasa yang berada di batas imajiner, tak bisa kemana-mana, hanya berputar-putar di situ-situ saja.

Sayang, silakan pergi, jangan lupa tinggalkan pesan, dan ketika kita punya kesempatan…

Rasanya kita tidak akan punya kesempatan.. Mari lupakan.

Day 28: Write About Loving Someone

Mencintai seseorang seharusnya sederhana, tapi pada kenyataannya kadang tidak seperti itu.

Mencintai seseorang tuh kayak kita mau ngerakit PC. Kita harus tahu apa kebutuhan dan keinginan kita, lalu mencari apa yang dibutuhkan, mulai coba merakit, bongkar pasang sampai kita merasa cocok, lalu melakukan penyesuaian agar terasa pas..

Ku pikir mencintai seseorang adalah hanya tentang memberi dan menerima, bukan hanya itu, mencintai seseorang adalah penyesuaian.

Setelah 10 Tahun

Saya tahu, di tanggal ini, 10 tahun yang lalu, kamu punya pertanyaan. Pertanyaan aslinya, bagaimana ya keadaan 4 tahun lagi? Tapi pertanyaan itu baru bisa saya jawab sekarang, 10 tahun kemudian. Di tahun keempat yang harusnya saya bisa menjawab semua pertanyaan, tapi keadaannya terasa masih kacau, dan sekarang keadaannya sudah lebih baik, jauh lebih baik.

Apa yang terjadi setelah itu? Yang terjadi adalah, ternyata kalian bisa bersama.. selamat… Tapi tidak lama, dia harus memilih jalan yang lain, dan kamu… Kacau.. yah tidak mudah menerima keadaan itu, kamu berusaha untuk tetap hidup, tapi tenang, dia masih bertahan denganmu, tidak melepaskan kamu begitu saja, walaupun sebenernya itu hanya akan membuatmu lebih terluka, tapi waktu itu rasanya kalau ada dia semua akan baik-baik saja, gapapa.. kamu tetap bisa melanjutkan hidup..

Lalu kamu akhirnya membuat sebuah keputusan yang besar, keputusan yang akan membuat kamu merasa begitu bersalah, dan berharap bisa mengulang waktu agar semua tidak terjadi, tapi waktu tidak akan pernah kembali, dia tidak akan berjalan mundur walau satu langkah, hidupmu akan terus berjalan, dan beban akan terus kamu tanggung, gapapa… Semua orang melakukan kesalahan, dan itu tidak membuat kamu menjadi jahat.. kamu hanya membuat keputusan yang salah.. sudah itu saja.

Waktu terus berlalu, dan kamu akan berada di satu titik, menemukan cara untuk melepas dia, kamu biarkan perasaan itu mengalir, mungkin juga hilang, walaupun ingatanmu masih cukup mendetail. Dan sekarang, kamu punya hidup yang lebih ringan, setelah banyak hal kamu alami, akhirnya kalian memang harus selesai.. dan sudah.. kamu menjadi diriku yang sekarang.. tak ada lagi langkah gontai.. tak ada lagi, berdiam dalam kesedihan..

Semua berubah semuanya, semua senja yang kamu liat, menjadi senja yang biasa saja.. tapi itu yang memang harus terjadi, ya kan?

Sebal

Hari mulai beranjak senja, tak ada yang aku lakukan sehari ini, selain menyelesaikan pekerjaanku. Ku lihat telepon genggam yang terasa sepi hari ini, “kemana dia?” Begitu pikirku. Aku baru ingat, hari ini tak ada balasan pesan darinya, mungkin dia sedang sibuk dengan teman-temannya, membuat pesta ulang tahun untuk temannya yang lain. Kadang aku iri dengan fleksibilitas pekerjaannya, yang memungkinkan untuk melakukan hal yang lain di hari kerja, “Ah, biar sajalah, nanti juga ngabarin.” Kataku pada diri sendiri.

Dia memang makhluk yang berbeda dari yang sebelumnya, terkadang begitu dingin, tapi bisa juga menjadi sangat manis dan hangat. Cerdas dan intimidatif, tapi bisa juga membuatku merasa begitu dibutuhkan. Dia adalah makhluk kutub ekstrim dalam satu jiwa. Terlalu menarik untuk tidak didekati.

Awal pertemuan kami, terjadi di hubungan yang profesional, aku tahu dia dari sebuah event. Komunikasi awal kami hanya tentang pekerjaan, sedikit-sedikit diselangi cerita pribadi, atau lebih tepatnya wawancara pribadi. Dia adalah orang yang ntah bagaimana dapat mengorek perasaanku tentang suatu hal, dan membuatku merasa selalu aman jika harus menceritakannya, dan hal itu membuat kami menjadi lebih dekat.

Hari mulai gelap, garis senja yang ditawarkan Kota Jogja makin menghilang, kentang goreng dan segelas minumanku sudah habis pula, rasanya aku mulai sebal, “kenapa pesanku tidak dibalasnya? Baiklah, akan ku telepon saja dia.”

Sampai Titik Ini

Titik yang tidak pernah dibayangkan, akhirnya datang juga. Titik dimana semua perasaan ketika membaca, mendengar, dan melihat hal yang ada di sini, hilang.. Ya hilang.. tidak terasa.. Semua rindu, semua sayang, semua cinta.. hanya bisa diingat, tanpa bisa dirasakan lagi.

Mungkin semua hal yang ada di dunia ini, ada umurnya, begitu juga perasaan.. Perasaan yang tidak diinginkan oleh semua orang, akhirnya pergi juga.. Ini lucu, mengingat bagaimana kuatnya perasaan itu.

Saya tidak tahu, kemana perasaan itu, mungkin dia pergi, mungkin sembunyi, atau ntah bagaimana menghilang, seperti kelinci yang disimpan dalam kotak, lalu disulap menjadi hilang…

Cinta itu seperti tanaman hias, dia bukan rumput liar, yang tiba-tiba tumbuh, dia ada dari benih, lalu disemai, lalu ditanam dan harus dirawat, dan akan layu ketika dibiarkan tidak terawat.

Seperti itulah kira-kira keadaannya, perasaan yang dulu ada, sekarang sudah layu, dan mati.. mati… persis seperti yang semua orang inginkan.