Ini Ibu Budi

Ini Budi, Ini Ibu Budi, Ini Wati, Wati adalah adik Budi

Familiar dengan kalimat itu? Mungkin untuk anak SD di tahun 90an, kalimat itu sangat falimiar. Kalimat yang diajarkan untuk latihan membaca.

Saya baru tahu kalau itu adalah metode yang diciptakan seorang tokoh pendidikan, Ibu Siti Rahmani Rauf, yang pada tanggal 11 Mei 2016, meninggal dunia.

Sepertinya tidak banyak yang mengenal beliau, atau mungkin saya saja yang kurang gahul. Tapi bagaimanapun, berkat metode belajar bacanya efektif terhadap saya, setidaknya saya tahu, Budi membunyai adik bernama Wati, Ayah Budi seorang petani, dan Ibu selalu pergi ke pasar. Oia Budi punya teman yang nakal, namanya Badu.

Ini Budi, hari ini Budi menjadi Piatu, Budi jangan lupa berdoa untuk Ibu.

Btw tulisan ini ditulis sehabis makan nasi kotak Indomart, di rest area tol daerah Cibubur, setelah nyasar di Jakarta karena GPS gawai pintar ini mendadak menjadi tidak pintar kalau tidak ingin disebut idiot.

Hidup Jakarta, Hidup Ahok, Saya bukan teman Ahok, da Saya mah warga Kang DN1.

Advertisements

Antara Rangga Dan Cinta.

Rangga dan Cinta,  semua orang yang pernah nonton Ada Apa Dengan Cinta (AADC), pasti tahu, dua nama ini. AADC dirilis tahun 2002, dan lanjutan dari film AADC dirilis pada tahun 2016, waktu yang cukup lama untuk film yang mempunyai lanjutan.

Ada yang bilang kalau AADC adalah film cuma tentang anak SMA macam novel teenlit yang biasa numpuk di Gramed. Ya itu bener, tanpa puisi dan lagu-lagu dari Melly Goeslaw, film itu cuma cerita teenlit biasa. Puisi dan lagunya ini yang membuat AADC  sukses. Sama seperti AADC yang pertama, AADC 2 ini juga seperti itu, jalan ceritanya akan mudah ditebak.

Ada 2 hal yang bisa dijadikan alasan kenapa harus menonton AADC 2, yang pertama kata-kata. Kata-kata di film itu menjadi kekuatan terbesar dalam film ini. Baik itu puisi, monolog, ataupun dialog-dialognya, terutama dialognya Rangga dan Cinta. Kata-kata yang disusun membuat film itu menjadi indah, puitis, dan tentu saja romantis. Yang kedua adalah aktingnya, AADC 2 ini dibuat khusus untuk Rangga dan Cinta, karena hampir di keseluruhan film, kita akan disajikan Rangga dan Cinta, artinya akting Nicolas Saputra sebagai Rangga dan Dian Sastro sebagai Cinta akan sangat menonjol. Saya menonton beberapa filmnya Nicolas, mulai dari AADC, Janji Joni, Gie, dan Ksatria Tongkat Emas, Akting Nicolas di AADC 2 ini, sangat berbeda, saya tidak melihat Joni, saya tidak Gie, apalagi Elang, bahkan Rangga yang “baru” ini, berbeda dengan Rangga yang “lama” tetapi tidak merubah watak Rangga yang lama. Begitu pula akting dari Dian Sastro, saya belum pernah nonton film Dia, selain AADC. Mahmud yang satu ini membuat film ini jauh lebih indah, apalagi arti AADC tanpa Cinta yang diperankan Dian Sastro , yang begitu dewasa tapi tetap menggemaskan. Pemandangan yang paling indah di dunia ini bukanlah gunung dan pantai, melainkan tatapan dan senyuman seorang wanita ketika sedang jatuh cinta, dan Cinta menghadirkan pemandangan itu, berkali-kali.

Selain itu film ini memberikan jawaban secara detail tentang pertanyaan yang akan muncul di benak para penonton, dan hal ini menambah alasan kenapa film ini layak tonton. Tapi sayang, lagu-lagu yang dibuat tidak seindah film yang pertama, sehingga tidak menjadikan kekuatan dalam film ini.

Akhirnya bertambah lagi film Indonesia yang berkualitas, dan tidak terkesan asal jadi. Film yang layak tonton dengan semua kelebihan dan kekurangannya, mudah-mudahan akan lebih banyak lagi film-film seperti ini.