Setelah 5 Tahun, Apa Yang Terjadi?

Hidup adalah sebuah perjalanan, perjalanan untuk sebuah perubahan, disetiap harinya kita berjalan disadari atau tidak, perubahan selalu terjadi, semua hal berubah kecuali perubahan itu sendiri… Eh gimana?
Setiap orang pasti punya timeline-nya sendri, hasil dari apa yang dilakukan dan yang terjadi di lingkungannya, itulah kita sekarang.
Lalu bagaimana dengan saya? Apa yang berbeda dari saya, selain lebih ganteng berumur tentunya.
2010, 5 tahun lalu selalu saya ingat sebagai tahun perjuangan, tahun dimana saya harus berjuang keluar dari status mahasiswa. Setelah 5 tahun sebetulnya saya sama dengan orang kebanyakan, punya pekerjaan, dan terjebak di jam kantor 95, Senin sampai Jumat. Walaupun begitu untuk urusan pekerjaan saya menikmatinya.
Lalu bagaimana dengan hati? 5 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membentuk sebuah cerita bernama cinta, cerita tentang ntah sebentuk, ntah sekeping hati yang diberi lalu diremas dan dibiarkan luka, atau tentang hati yang berbunga dan selalu disiram kasih sayang :mrgreen: . Banyak hal yang terjadi dalam 5 tahun ini, pindah dari satu hati ke hati yang lain, dan mengalami cerita yang “menakjubkan” lalu berakhir di satu hati yang lain.
Banyak hal yang terjadi selain pekerjaan dan hati sebenernya, seperti jumlah kota yang pernah saya singgahi, atau hobi saya nyetir berjam-jam melewati beberapa kota, yang membuat saya yakin, sebetulnya saya ini titisan supir bus AKAP, dan beberapa hal yang saya tidak tahu bagaimana menceritakannya.
Dan begitulah ceritanya.. Tetap semangat, tetap berjiwa anak-anak, dan perbanyak piknik.

Advertisements

Tentang Dilan dan Milea

Dilan dan Milea adalah tokoh dalam novel yang ditulis oleh Pidi Baiq, Bercerita soal ingatan Milea tentang kekasihnya semasa SMA, bersetting kota Bandung tahun 90an, dan saat ini sudah ada dua seri.

Dari awal cerita kita sudah tahu dua hal dari cerita tersebut, Milea mempunyai seorang kekasih yang sangat dicintainya dan mereka (mungkin) tidak pernah bersatu. Dilan seorang yang diceritakan nakal bahkan bisa dikatakan berandalan, dengan semua tingkahnya berhasil membuat Milea mempunyai perasaan yang begitu dalam, bukan karena dia ganteng, bukan karena dia kaya, tapi karena membuat Milea merasa spesial, itu mungkin yang membuat Dilan selalu ada dalam hatinya Milea.

Mereka adalah pasangan yang mempunyai perasaan begitu dalam terhadap satu dengan yang lain, tapi mereka tidak dapat bersatu karena ada satu hal yang tidak bisa dirubah dari Dilan yang tidak disukai Milea, dan itu membuat dia sakit, dan Dilan tetap dengan pendiriannya, jika ada menyakiti Milea maka dia akan hilang, itu kenapa mereka tidak bisa bersatu, karena Dilan harus hilang. Tapi Milea tetaplah Milea yang jatuh cinta terhadap Dilan, perasaannya mungkin tidak pernah hilang, mungkin tersimpan jauh dihati yang paling dalam, tak dapat tersentuh, tak hilang karena waktu.

Cinta adalah takdir, dan menikah adalah nasib, kita tidak pernah berencana untuk jatuh cinta kepada siapa, tapi selalu ada pilihan ketika kita tidak bisa menikahi orang yang kita cintai.

 

Bulan Ini Lima Tahun Yang Lalu

Kemarin tiba-tiba ingat, kalau 5 tahun lalu tepat di bulan ini, saya menghadapi peristiwa yang sakral bagi seorang mahasiswa. Bulan ini tahun 2010 yang lalu saya melaksanakan sidang skripsi. Karena lupa tepatnya tanggal berapa akhirnya saya ngubek-ngubek email yang sudah tidak terpakai, dan akhirnya menemukan jadwalnya, 24 Juli 2010 itulah tanggal sidang saya.

Saya ingat saya sidang sore hari dijadwalkan jam 2 sore, baru mulai jam 4 padahal saya sudah datang dari jam 8, itu juga karena ketentuannya seperti itu. Tidak ada yang spesial dalam sidang dulu, saya bahkan memakai slide yang sama dengan slide untuk seminar hanya ditambahkan sedikit, sempat disindir oleh dosen penguji “Kamu mau sidang apa seminar?”, itu karena saya lupa mengganti judul header slide persentasi. Sidang berjalan biasa saja, hampir tak ada tanya jawab, yang ada saya hanya menjelaskan fungsi-fungsi yang dibuat, mungkin karena dosen sudah terlalu capek atau ingin cepat pulang jadi tidak ada tanya jawab tentang apa yang saya buat, bahkan ada satu bagian dalam sidang yaitu tes kemampuan coding yang tidak dilakukan oleh dosen penguji. Akhirnya sidang saya seperti persentasi ke klien dengan beberapa catatan yang harus diperbaiki. Satu setengah jam lamanya saya persentasi di luar sudah mulai gelap, ketika keluar ruangan, keadaan kampus sudah sepi, gelap hanya 1 ruangan yang masih terang, ruangan seketriat jurusan, saya keluar sendirian, tak ada foto-foto, tak ada ucapan selamat, hanya saya sendirian, tapi ada rasa puas dengan apa yang sudah dilakukan.

Cerita ini selalu saya ingat, sebagai mahasiswa dengan kemampuan rata-rata, kadang saya berpikir saya mungkin akan sulit untuk lulus. Sebuah momen yang membuat saya seperti ini, bekerja di bidang ini, tidak terasa sudah 5 tahun saya bekerja di bidang yang saya jalani. Waktu skripsi pola hidup saya seperti ini. Jam stgh 7 saya sudah berangkat ke kampus, untuk liat apa dosbing saya bisa ditemui atau tidak, dosbing saya emang unik, dia bisa ditemui tiap hari, jadi kalau mau bimbingan tiap hari ya silahkan walaupun pada akhirnya dimarah-marahi karena selalu tidak memenuhi “harapan” bliyo, semakin mendekati waktu seminar atau sidang saya (dipaksa) bimbingan tiap hari, agar lembar persetujuannya ditanda-tangani. Setelah selesai urusan di kampus, saya sampai rumah sekitar magrib, lalu jam 7 atau jam 8 malam melanjutkan skripsi, sampai jam 10, biasanya jam 10 saya sudah mengantuk, saya tidur sebentar sampai 12, saya tidur depan komputer, agar tidak kebablasan, dari jam 12 saya kerja sampai jam 3, setelah itu tidur sampai 5 lalu siap-siap berangkat ke kampus paginya, itu saya lakukan selama 3 bulan, bahkan di hari liburpun saya pakai untuk mengerjakan skripsi. Mengerjakan skripsi bukan hal yang mudah, untuk saya yang mempunyai kemampuan biasa-biasa saja itu seperti menaiki gunung everest, ada kalanya saya harus mencoba sampai ratusan kali dan gagal, sampai akhirnya berhasil untuk selesai.

Skripsi untuk saya sudah menjadi pelajaran hidup, ada satu hal yang selalu saya ingat dari skripsi, tidak peduli berapa kali gagal, puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali, kita hanya perlu SATU… SATU kali percobaan dan berhasil untuk menyelesaikan pekerjaan dan lebih baik ratusan kali gagal karena mencoba daripada satu gagal karena diam.

Selamat Berpuasa :mrgreen: