Ini Yogyakarta

Tidak terasa, ternyata sudah tiga bulan saya di sini, di Yogyakarta. Ada hal-hal yang saya baru tahu, setelah tinggal di sini. Ternyata Kota Yogyakarta, adalah kota selemparan batu. Kotanya ternyata kecil sekali, jalan sebentar saja, itu sudah masuk ke Kabupatennya, biasanya langsung masuk Kabupaten Sleman. Jadi jangan aneh kalau lagi jalan-jalan ke Yogya, tapi banyak sekali tugu kecil bertuliskan Sleman, itu artinya kamu sudah tidak berada di Kota Yogya. Selain itu, teori relativitas untuk jarak adalah hal yang nyata di Kota ini. Sebagai perbandingan, di Bandung, saya menempuh jarak kurang lebih 20 KM dari rumah ke tempat kerja, nah di Kota gudeg ini, jarak 10 KM saja, sudah dibilang jauh, dan memang terasa jauh sih, mungkin karena suasana tempat yang begitu mencolok, katakan suatu daerah berjarak 10 KM dari KM 0 Kota Jogja, mungkin daerah itu sudah menjadi suasana kota kecil, dimana kehidupan berjalan lebih lambat dibanding, kecepatan pembangunan kota, apabila jarak itu ditambah 5 KM lagi, suasa berubah menjadi suasana pedesaan, dimana seorang ayah adalah petani atau pedagang di pasar, dan ibu adalah ibu rumah tangga, yang tiap pagi rajin menyapu halaman. Makanya jarak 15 KM, perbedaaan cukup mencolok, jadi terasa jauh.

Kota Yogya adalah kota yang nyaman, tenang, cenderung sepi. Jalanannya gak sepenuh di Bandung, apalagi Jakarta. Suasana romantis masih menyelimuti kota ini, makanya kalau jalan ke sini, bawa cinta yang banyak, tanam di sini, biarkan cinta itu hidup. Urusan kisah cinta berlanjut atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting kamu pernah jatuh cinta di sini. Suatu saat kamu datang lagi kemari, kenanglah kenangan itu, buat puisi paling indah untuk mantanmu, tapi jangan bikin vlog sambil nangis, yang akhirnya ciuman juga sama mantan… jangan pokoknya jangan kayak gtu..

Jalanan Kota Yogya itu isinya orang-orang yang sepertinya masih bingung, kapan harus ngerem, kapan ngotot, terutama pengendara sepeda motornya. Saya curiga sebelum bener-bener nabrak, mereka gakan berhenti. Pengendara di sini tuh unik, Saya sering nemu pengendara yang kalau belok, bukannya pake lampu sein, malah pake lampu hazard yang notabene lampu tanda bahaya, kan belegug ya? atau pengendara motor yang gak peduli ada penyebrang jalan, pokoknya “hajar” saja, dengan pandangan lurus ke depan, tanpa berusaha untuk rem sama sekali. Tapi pengedara dengan kelakuan seperti itu, ketika melihat lampu kuning, mereka mengurangi kecepatan, dan berhenti di belakang garis lho, bukannya nambah kecepatan, dan terobos lampu merah. Jadi sebenernya mereka bukan orang-orang rebel yang suka melanggar aturan, hanya saja “komunikasi jalan” mereka kurang bagus, jadi terkesan brutan.

Selama di Yogya ini, ada perbedaan yang cukup mencolok, yaitu biaya hidup, terutama biaya makan, makanan di sini murah-murah kalau dibandingkan Kota Bandung. Rata-rata di bawah lima belas ribu rupiah, dengan porsi jumbo, yang membuat kamu kenyang seharian, jadi tidak perlu sering-sering makan, eh tapi itu gimana perut kamu sih. Tapi yang pasti untuk orang-orang yang beranggapan porsi makanan adalah segalanya, silakan datang ke sini, dijamin puas.

Setelah tiga bulan, saya bertemu banyak yang berbeda di sini, hal yang mungkin tidak akan dijumpai di Kota lain, hal yang membuat saya nyaman di sini, banyak hal yang sudah lama saya tidak rasakan, akhirnya saya merasakan hal itu lagi di sini… Saya tidak pernah tahu, ke depan seperti apa.. tapi yang pasti, saya sedang menikmati ini, menikmati keanehan orang-orangnya, dan suasana tenang yang selalu menyelimuti kota ini,,,

Dan malam ini, Aku rindu Bandung,,,

Advertisements