Sarapan

Pagi hari, Dia duduk di meja kecil untuk menikmati sarapannya, dua lembar roti tawar yang dioles selai, dan segelas susu hangat, cukup untuk mengusir rasa dingin suasana pagi itu.
Mulutnya sibuk menguyah makanan, sesekali meneguk susu, tapi pikirannya melanyang jauh ke suatu tempat dimana senja ntah sedang apa.. Senja.. di pikirannya hanya ada Senja.. Senja.. dan Senja.. ntah mau sampai kapan.

Langkah Gontai

Dengan langkah gontai, Dia berjalan sehabis bekerja. Jalanan masih becek karena hujan sedari siang, menyisakan gerimis dan angin dingin yang cukup untuk membuat badan menggigil. Tidak terasa Dia sampai di sebuah taman, taman yang sama, yang selalu Dia lewati. Pepohonan sudah menghijau lagi, karena musim penghujan telah datang, rimbun, masih sama seperti dulu. Dia hentikan langkahnya tepat di depan sebuah bangku taman yang masih basah, lalu duduk di atasnya, lalu berpikir…. Berpikir tentang.. Tentang siapa lagi, selain Senja.. Senja yang merah merona.. Senja yang mungkin tidak akan datang lagi..

Senja itu, sebetulnya mentari pagi yang sedari dulu Dia kenal, tapi tidak pernah Dia sapa, padahal Dia selalu mengaguminya. Dia terlalu sibuk bermain dengan sebayanya, bermain layangan, kelereng, melompat ke sungai, memancing ikan atau permainan bodoh seperti mengganggu ayam-ayam ternak tetangganya. Mentari pagi selalu datang setiap hari, tapi tidak pernah diindahkannya, ya.. Mentari pagi yang sekarang menjadi Senja yang merah merona itu, yang sekarang selalu berputar-putar di kepalanya, sebetulnya sudah ada dari dulu.. Tapi kemana saja Dia? Betapa bodohnya tidak menyadari itu.

Dengan wajah kusut, pikiran yang kalut, Dia memutuskan untuk untuk merebahkan tubuhnya di bangku taman itu, matanya terpejam, mengingat semua hal tentang Senja, mengingat bagaimana akhirnya mereka bisa bertemu.

Lampu-lampu taman sudah menyala, tapi Dia belum beranjak. Biar saja pikirnya, Dia hanya ingin tetao di situ, sampai ntah apa yang akan terjadi nanti.