Takan Ada Lagi

Hujan belum berhenti sejak sore tadi, masih mengguyur jalanan kota. Di antara mobil-mobil yang bergerak senti demi senti, aku coba bersabar, menghibur diri dengan deretan lagu yang diputar seseorang yang keberadaan mungkin tidak akan pernah aku tahu, wiper kaca mobilku masih sibuk membersihkan air yang turun dan mengganggu pandanganku.

“Nggak bisa, aku nggak bisa terus-terusan seperti ini.”

Ingatanku melayang pada suatu ketika. Suatu ketika dimana akhirnya aku harus menyerah, dan membiarkan dia pergi. Sejak saat itu, dia bukan siapa-siapa lagi untukku…. lebih tepatnya.. aku bukan siapa-siapanya lagi untuk dia… Bukan lagi tempat untuk dia bercerita, bukan lagi tempat untuk dia meminta perhatian, seraya bermanjaan, tidak akan ada lagi, sentuhan-sentuhan, dan tidak ada lagi kata-kata cinta, cumbu rayu, atau gombalan-gombalan rindu… Sekarang, aku hanya seseorang yang dia pernah kenal.

Hal yang paling menakutkan ketika ada dua hati yang memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing adalah ketika dua hati itu menjadi dua orang asing, yang tidak lagi saling merasa, bahkan tidak lagi saling mengenal,  dan rasanya semua hal yang pernah terjadi tidak menjadi apa-apa lagi. Hanya ingatan yang siap untuk dilupakan.

Pelan tapi pasti, seperti hati yang pada akhirnya akan saling mengakhiri, kemacetan mulai terurai, jalanan menjadi senggang, mobil-mobil mulai berjalan dengan kecepatan yang cukup untuk dikatakan kendaraan, dan lamunanku akhirnya harus selesai juga, aku pacu mobilku agar sampai ke rumah… rumah.. dimana aku bisa berdiam sendirian, dan melupakan semuanya.

 

Kopi Pagi: Setahun Yang Lalu

Ku aduk kopi pagi ini, pelan, dan lama, aku senang mengaduk dengan cara ini, berharap semua ampas terlarut dalam air bersama gula di dalamnya. Tak terasa sudah setahun dia meninggalkanku, pikiranku melayang mengingatnya, kadang aku heran, kenapa aku dipertemukan dengan dia, jika akhirnya dia harus pergi?

Aku ingat bagaimana pertemuan pertama kami, di sebuah kafe milik temanku, aku sedang menikmati kopi pagiku, dan beberapa potong kentang goreng yang aku pesan beberapa saat sebelum temanku tiba dan memperkenalkan aku dengan wanita itu, wanita yang selanjutnya akan menjadi kopi pagiku. Aku ingat senyumnya, aku ingat postur butuhnya yang semampai, dan aku ingat matanya yang kecoklatan dengan bulatan hitam di tengahnya, manis.

Tak lama kami mengobrol, dia pamit pulang, dan setelah itu hanya ada dia di pikiranku, berputar-putar, melayang-layang… Dia terus ada dipikiranku.. Tanpa lelah, sampai akhirnya keberanikan diri untuk menghubunginya, dan tentu saja mengajaknya keluar.. Maksudku, kencan… Ah tidak.. Itu bukan kencan, kami hanya mengobrol sembari menelusuri jalan kota.. Hanya itu…

Kami memang cukup dekat, tapi dia belum pernah benar-benar jadi milikku, dia memutuskan untuk pergi, mengambil jalan yang berbeda denganku. Yaa biarlah.. Aku cukup senang pernah dekat dengannya, candanya, tawanya.. Akan ku simpan sebagai sebuah cerita.. Ntah.. Setelah setahun ini, rasanya… Aku masih seperti ini.. Aku masih bisa merindukan Kopi Pagiku…