Mengemudi

Jumlah kendaraan yang berseliweran di Indonesia ini banyak banget, tercatat lebih dari 100.000 juta pada tahun 2013, dan terus bertambah sekitar 12 sampai 13 persen pertahun, jadi kalau mau tahu berapa perkiraan jumlah kendaraan di tahun 2015, tinggal hitung aja sendiri, kalau gak, coba kamu tanya sama bapak atau ibu guru matematik kamu, sekalian ngetes apakah bapak atau ibu guru anda benar-benar pintar. :mrgreen:

Dengan jumlah kendaraan yang banyak itu, artinya banyak juga jumlah pengemudi yang ada di jalanan. Mulai dari dewa mengemudi kayak om om supir bis AKAP, sampai supir anak bawang yang kalau mindahin gigi aja masih suka mati mesin. Dari yang supir legal sampai supir tembak. Dari yang rapi (nyetirnya) sampai sok-sok-an ngebut tapi parkir aja masih suka miring.. Ini jenis supir yang layak masuk akun twitter @parkirlubangsat.

Dari pertama kali belajar nyetir waktu kelas 6 SD… Iya betul, kelas 6 SD, dan level mengemudi anak bawang, yang mindahin gigi aja masih suka mati mesin, sampai sekarang udah agak jago, walaupun gak sejago om om supir bus AKAP, suka mikir apa sih esensi dan filosofi dari mengemudi ini? Ternyata esensi dari mengemudi adalah menyetir kendaraan… Ya itu pokoknya.. Kalian penumpang gakan ngerti filosofi itu, jadi gak usah dipikirkan, nanti kalian sakit.
Tapi ini agak serius. Jadi supir itu tanggung jawabnya gede, bukan hanya harus bisa gas, rem, belok kanan belok kiri, dan parkir lurus.. Tentu sajah.. Tapi juga ada beberapa hal yang sebaiknya anda sadari sebagai supir.

Seenggaknya ada 5 tanggung jawab yang harus dimiliki oleh supir.

Pertama, tanggung jawab sama diri sendiri. Iya dong, kita kan nyetir bawa diri, jadi kita bertanggung jawab sama keselamatan dan kenyaman diri sendiri. Bukan hanya dari sisi fisik, tapi juga pikiran, kadang ketika kita nyetir suka ada aja yang mancing emosi, tapi supir yang bertanggung jawab akan tetap tenang, atau juga berusaha menahan ego, ketika jalan kosong, pasti muncul nginjak gas dalam-dalam sampai kecepatan mobil kenceng banget, kalau bisa sih sampai terbang nyampe tujuan dalam kesejap, tapi itu tidak baik, karena membahayakan diri sendiri. Ingat keselamatan adalah yang utama karena keluarga, pacar, gebetan, selingkuhan, ttmam, htsan menunggu anda di rumah, kecuali anda yang jomblo, ingatlah galon dan guling yang setia anda peluk setiap akhir minggu, juga menunggu anda di rumah.

Kedua, tanggung jawab terhadap penumpang. Kita nyetir kadang gak sendirian, kadang ada Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Pacar, atau Galon yang biasa anda peluk, numpang di kendaraan anda. Mereka adalah tanggung jawab anda. Mereka memercayakan keselamatan dan kenyamanan kepada anda, apakah anda tega membuat mereka merasa naik roller coster? Lebih baik anda kirim mereka ke dupan daripada dibawa kebut-kebutan gak jelas, itu bahaya sekali. Ingat mereka itu orang, bukan karung beras yang tak bernyawa.

Ketiga, tanggung jawab terhadap sesama pengguna jalan. Ini udah pasti karena jalanan bukan punya nenek moyang anda, jadi anda harus berbagi jalanan, tidak perlu mengemudi zig zag, sambil kebut sana kebut sini, sampai bikin pengemudi lain marah, dan bisa jadi malah terjadi kecelakaan. Ada pepatah sunda mengatakan. Imah maneh mah moal kamamana, iwal imahna digusur. Itu artinya kira-kira… Rumah kamu gakan kemana-mana, kecuali rumah yang kena gusuran.. Jadi santai sajalah.

Keempat, tanggung jawab terhadap kendaraan. Iya kendaraan juga bagian dari tanggung jawab pengemudi, jadi perlakukan mereka dengan sewajarnya. Kebanyakan mobil yang ada di Indonesia ini, di desain hanya untuk dipakai sehari-sehari di jalanan biasa, bukan untuk balap. Semakin anda memacu kendaraan, semakin besar beban yang diterima oleh komponen kendaraan anda, itu artinya komponen kendaraan anda akan cepet aus. Komponen yang telah aus, akan membuat kinerja mobil anda memburuk, dan anda harus mengeluarkan uang untuk memperbaikinya. Jika harus berkecepatan tinggi, usahakan sehalus dan setenang mungkin. Perlakukan kendaraan anda seperti wanita, jika anda mengerti dia, dia akan mengerti anda… Yang jomblo pasti gakan ngerti.. Ya udah peluk galon aja sanah..

Kelima, ini biasanya dilupakan oleh hampir semua pengemudi.. Seperti gebetan yang kayaknya udah nyaman banget, taunya jadian sama orang lain, dan anda ditinggal begitu saja, sambil nangis bombai. Tanggung jawab itu adalah terhadap jalan itu sendiri. Tahukan anda jalan mempunyai kelasnya sendiri? Setiap kelas mempunyai batas tonase untuk dilalui. Ini biasanya untuk truk-trus besar gitu, karena gak semua jalan bisa dilewati. Makanya truk kayak gini gak boleh kelebihan beban, bisa ngerusak jalan.

Gitu lah kira-kira kengacoan serius ini. Kita lanjutkan kapan-kapan.

Anak Simpang Jalan

Hampir setiap hari, rasanya saya selalu bertemu dengan anak-anak yang hidup di jalan, biasanya mereka ini sedang mencari uang dengan caranya, ada yang nyanyi gak jelas, ada yang merengek hampir menangis, atau dengan cara lain, yang bisa mereka lalukan. Anak jalanan ini sebenernya sama seperti anak yang lain, hanya saja mereka korban PHP UUD 45, yang katanya akan dipelihara negara, Ya dipelihara negara agar menjadi lebih banyak lagi.

Tapi anak-anak tetap saja anak tetap saja mereka bisa tertawa. Seperti suatu sore di persimpangan jalan kota Bandung, saya melihat anak jalanan tiba-tiba menjerit kegirangan, ternyata ada layangan putus, yang kebetulan talinya gak jauh dari mereka, walaupun terjadi sedikit pertengkaran karena rebutan tali layangan, tapi terlihat jelas mereka senang dengan hal itu, kontras dengan wajah-wajah pengendara motor yang terlihat lelah dan tidak sabar menunggu lampu hijau menyala.

Bicara tentang anak jalanan, saya jadi ingat film Daun di Atas Bantal, film yang baru saya tonton setengah, karena di tengah jalan filmnya rusak dan gak bisa dilanjut, itu bercerita tentang kehidupan anak-anak jalanan, bagaimana mereka hidup dalam sebuah kelompok, dan bersama “induk semang” mereka. Kadang saya penasaran, bagaimana kehidupan mereka, bagaimana mereka mandi, dimana mereka tidur, atau dari mereka berasal. Mungkin nanti saya akan rajin menonton dokumenter tentang anak jalanan…. Nah, bukan itu sih intinya, kadang saya merasa harus melakukan sesuatu, tapi apa? Dan bagaimana?