Sephia

“Aku gak pernah lho jadi seperti ini.”

“Jadi seperti apa?”

“Ya seperti ini, jadi seseorang di antara dua orang.”

“…….”

“Kalau kamu, pernah?”

“Gak juga, aku kan pacaran baru 2 kali, 3 kali deng, sama kamu ini. “

“Gimana rasanya punya dua pacar? Dia sayang kamu juga kan? Kamunya sendiri, sayang gak sih sama dia?”

“Gimana ya? Rasanya…. jujur rasanya ada rasa bersalah sih, di satu sisi, aku pengen banget jadi pacar kamu, tapi di sisi lain, aku ada dalam satu hubungan.”

“Hoooo.. Kenapa gak balik aja ke hubungan yang itu?”

“Tidak semudah itu sih…”

“Masa? Kita putus ya…”

“Jangan…. aku tuh gakan kayak gini kalau gak sayang banget sama kamu, selama ini, rasanya gada cewek yang bikin aku ngerasa seeeee… ini…. “

“Se.. ini apa? Ini gmana maksudnya?”

“Sesayang ini, senyaman ini, ntah kenapa aku suka banget ngirim chat tengah malam kayak…. kemaren-kemaren, walaupun kamu gak balas, tapi seneng aja gtu.. kayak punya temen cerita, temen berbagi tentang banyak hal yang aku alami di hari itu.”

“Emang ke pacar kamu gak gtu?”

“Pacar aku kan kamu..”

“Pacar yang satunya…. “

“Heu… gak, dari pertama kita kenal, ampe pacaran, aku gak pernah cerita sebanyak aku cerita ke kamu.”

“Bohong….”

“Bener…. masa aku bohong..”

“Bisa aja kan?”

“Please… percaya deh sama aku..”

“Aku juga heran, kamu tuh suka banget cerita soal apa yang kamu ngerjain pas aku dah tidur. Awalnya aku mikir kamu tuh aneh banget, cerita gak jelas, panjang pula, tapi lama kelamaan, kok aku seneng ya kamu cerita kayak gtu, kadang malamnya aku jadi penasaran cerita apa lagi yang mau kamu kirimkan ke aku.”

“Jadi karena itu kamu mau ma aku?”

“Ntah lah, yang pasti aku juga seneng baca cerita kamu. Kok kamu bisa banyak cerita gtu sih? Kamu tuh kelihatan pendiem.”

“Ya emang kan? Kadang aku terlalu malas untuk berbicara, capek. Makanya aku lebih suka chat, karena sebenernya pikiranku tuh berisik banget, dan cuma akan keluar sama orang-orang yang bikin aku ngerasa nyaman.”

“Seandainya, posisiku dibalik, aku jadi pacarmu yang jauh di sana, lalu kamu ketemu sama dia… kira-kira kamu selingkuh juga gak?”

“Nggak sih kayaknya, kalau aku akan selingkuh sama dia, ketika aku lagi lagi bareng kamu, berati hubungan ini gakan terjadi. Aku kan dah bilang, aku gakan selingkuh kalau gak sayang banget banget kayak gini…”

“Kamu belum jawab semua pertanyaanku lho..”

“Ya, itu… Kamu tuh sayang gak sama pacar kamu?”

“Ya… lumyan sih.. “

“Bilang aja sih kalau sayang, aku ngerti kok, aku kan cuma selingkuhan.”

“Kok gtu?”

“Ya emang kan? Kenapa sih selingkuh?”

“Karena… aku sayang kamu..”

“Halah.. gombal…. aku tuh yakin.. selingkuh tuh bukan hanya karena sayang, tapi ada hal yang lain yang bikin orang itu selingkuh.. ya kan? Aku tanya deh, dia cukup perhatian kan sama kamu?”

“Iya sih…”

“Menurutku, dia cantik, pinter juga, perhatian, dia gak pernah macem-macem sama kamu kan?”

“Kayaknya..”

“Lalu apa yang bikin kamu selingkuh?”

“Kenapa sih nanya-nanya kayak gitu?”

“Karena aku selingkuhan kamu, dan aku gak puas dengan jawaban ‘aku sayang kamu’.”

“Boleh ‘call a friend’ gak?”

“Call pacarmu maksudnya?”

“Sejujurnya aku juga gak tahu kenapa aku sayang kamu, dan mungkin mencintai seseorang tidak butuh alasan jelas. Aku bener-bener gak tahu kenapa aku suka sama kamu, yaman sama kamu, pengen ada untuk kamu, dan pengen kamu ada untuk kamu. Pertanyaan itu terlalu sulit untuk aku jawab, kenapa aku selingkuh, kenapa aku menjadikan kamu pacar padahal aku lagi punya hubungan. Mungkin cinta emang rumit aja gitu, seperti kata kamu, cinta memang tak selinear x=y. “

Pada Sebuah Percakapan

“Aku kangen sama kamu.”

“Masa? Kenapa?”

“Iya, aku kangen dengan banyak hal, dengan obrolan kita, dengan becandaan kita. Lucu aku pikir, rasanya tidak terlalu lama kita saling kenal, tapi kamu membuatku merasa begitu……..”

“Begitu???”

“Dekat… Ntahlah, yang pasti selama kita tidak bertemu, aku masih memikirkan tentangmu, makasih yah sudah mau bertemu.”

“Haha.. yaya.. Kamu sekarang masih di tempat kerja yang sama?”

“Masih, aku masih di tempat kerja yang sama, tempatnya cukup nyaman untuk dijadikan tempat berkegiatan sehari-hari.”

“Bagus dong, dengan sifatmu yang gampang bosan, tempat kerja itu cukup bagus untuk tidak membuatmu bosan.”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku? Aku masih seperti ini, kadang kerja, kadang tidak, kadang kerja di rumah, kadang harus pergi ke suatu tempat.”

“Asik dong, kali-kali ajak aku pergi ke suatu tempat, aku ingin merasakan pergi bersamamu lagi, menyenangkan. Aku suka ketika kita membahas suatu hal ketika aku sedang menyetir, atau ketika berdebat belokan mana yang harus aku ambil agar tiba lebih cepat.”

“Kamu kalau lagi kangen emang suka bahas yang dulu-dulu gitu ya?”

“Hahaha… kenapa? Ada yang salah?”

“Nggak sih, cuma lucu aja, kamu tuh banyak banget cerita sama aku, tentang masa kecil kamu, tentang kerjaan kamu, tentang orang-orang yang di jalanan, tapi kamu belum pernah cerita soal wanita.”

“Soal wanita? Wanita yang mana?”

“Wanita yang mana saja, wanita yang membuatmu berbunga-bunga, atau wanita yang kamu pikirkan terus menurus, atau…. ya yang bagaimana saja..”

“Ya ada sih, satu wanita, kita sempat berhubungan sekitar satu tahun, setelah itu kita putus, lalu dia memutuskan menikah dengan pria lain.”

“Lalu?”

“Lalu? Ya sudah… dia sudah menikah, dan tidak ada, kelanjutannya..”

“Dia kayak gimana sih?”

“Kayak gimana ya? Hemm… kayak kamu…”

Kayak aku gimana? Dia yang kayak aku… atau… aku yang kayak dia?”

“……………”

“Ohh… aku yang kayak dia… bilang aja gak apa-apa kok. Kadang aku gak ngerti deh, kenapa sih kamu segitunya ma aku? Aku gak pernah lho nganggep kamu lebih..”

“…………”

Walaupun begitu, aku cukup nyaman kok sama kamu, apa yah,,, kamu tuh sebenernya nempatin aku, di kotak nyamanku, dengan banyak hal yang kamu lakuin ke aku, aku selalu ngerasa aman, bareng kamu.. cuma ya itu, aku gak bisa lebih ke kamu

“Iya, aku tahu…”

“Aku pulang yah…”

“Jangan…. sebentar lagi.. please.. Aku gak tahu harus ngomong apa lagi, aku cuma ingin bersama kamu, sebentar lagi, hanya sebentar. Terlepas dari siapa mirip siapa, perasaanku ke kamu, itu nyata, dan…”

Stop! Aku gak mau bahas ini.

“Oke, kamu ada kerjaan dimana lagi?”

Kalau tidak salah, bulan depan aku ada kerjaan di Bali, lumayan, sambil jalan-jalan. Kamu sendiri, ada rencana main-main lagi gak sih? katanya, traveler, penikmat perjalanan.

“Hahaha…. Ntahlah, mungkin.. aku mau ke Bandung, aku mau ke Lembang, aku nyimpen kamu di situ, di antara pohon-pohon rindang tepi jalan, di antara lampu malam, dan jalan layang Pasupati.”

Kamu tuh, gak bisa ya lepas dari situ? Let me go.. udah deh.. kita tuh beda jalan, dan aku gak bisa bareng kamu. Terima itu.. kita harus hidup di jalan masing-masing..

“…………..”

“Udah ah.. aku pulang yah… kamu hati-hati, have a good life.. Seneng bisa ngobrol lagi.”

“Na….”

………………………….

Takan Ada Lagi

Hujan belum berhenti sejak sore tadi, masih mengguyur jalanan kota. Di antara mobil-mobil yang bergerak senti demi senti, aku coba bersabar, menghibur diri dengan deretan lagu yang diputar seseorang yang keberadaan mungkin tidak akan pernah aku tahu, wiper kaca mobilku masih sibuk membersihkan air yang turun dan mengganggu pandanganku.

“Nggak bisa, aku nggak bisa terus-terusan seperti ini.”

Ingatanku melayang pada suatu ketika. Suatu ketika dimana akhirnya aku harus menyerah, dan membiarkan dia pergi. Sejak saat itu, dia bukan siapa-siapa lagi untukku…. lebih tepatnya.. aku bukan siapa-siapanya lagi untuk dia… Bukan lagi tempat untuk dia bercerita, bukan lagi tempat untuk dia meminta perhatian, seraya bermanjaan, tidak akan ada lagi, sentuhan-sentuhan, dan tidak ada lagi kata-kata cinta, cumbu rayu, atau gombalan-gombalan rindu… Sekarang, aku hanya seseorang yang dia pernah kenal.

Hal yang paling menakutkan ketika ada dua hati yang memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing adalah ketika dua hati itu menjadi dua orang asing, yang tidak lagi saling merasa, bahkan tidak lagi saling mengenal,  dan rasanya semua hal yang pernah terjadi tidak menjadi apa-apa lagi. Hanya ingatan yang siap untuk dilupakan.

Pelan tapi pasti, seperti hati yang pada akhirnya akan saling mengakhiri, kemacetan mulai terurai, jalanan menjadi senggang, mobil-mobil mulai berjalan dengan kecepatan yang cukup untuk dikatakan kendaraan, dan lamunanku akhirnya harus selesai juga, aku pacu mobilku agar sampai ke rumah… rumah.. dimana aku bisa berdiam sendirian, dan melupakan semuanya.

 

Polos

Dia mengomel tanpa henti, sepertinya sedang kesal,,, kesal kepadaku. Ntah kenapa jika di dekatku dia senang sekali berbicara, mendebat, dan mengomel seperti ini. Awalnya aku tidak menyangka dia tahan untuk berbicara panjang dan lebar seperti ini, di kesehariannya dia wanita yang cukup pendiam, tidak banyak berbicara, lebih banyak mendengarkan jika sedang berkumpul dengan teman wanitanya, tapi dengan ku, dia berubah, dia cukup banyak bicara, banyak hal yang diceritakan, banyak hal yang didebat, dan banyak hal yang dia komentari tentangku, kadang dia menyebalkan…  Dan malam ini, dia mengomel panjang lebar karena aku salah berbicara. Ya.. Aku tidak bermaksud menyinggungnya, tapi kata “polos” yang aku sebutkan sesaat sebelumnya, membuat dia kesal.

Aku tidak bermaksud untuk membuat dia merasa tidak tahu apa-apa dengan menyebutnya polos. Mungkin aku salah memilih kata. Aku adalah orang yang kadang berbicara dengan sedikit kiasan, tidak langsung berbicara blak-blakan, ntah, mungkin karena aku takut menyinggung orang lain atau apa, yang pasti aku bukan orang yang straight to the point. Tapi dia terkadang tidak bisa mengerti itu, maksudnya, kadang tidak mengerti apa yang aku bicarakan, dan aku harus mengulangi apa yang aku maksud dengan jelas, sejelas-jelasnya. “Kadang aku ngerasa kamu tuh polos.” Kalimat itu yang membuat dia mendebatku, berbicara panjang lebar, memaksaku menjelaskan apa maksud kalimat yang aku katakan tadi, berkali-kali aku jelaskan, diselingi kata-kata maaf, agar dia berhenti, tapi dia tidak puas dengan penjelasanku.

Aku mencari tempat yang cukup aman untuk berhenti. Aku hentikan mobilku, matikan mesin, dan ku tatap dia, dia masih mengomel, sepertinya dia kesal sekali, dan aku mulai kehabisan kata-kata untuk menjelaskan maksudku, dia sulit sekali dipuaskan. Aku diam,,,, lalu aku kecup bibirnya,,, lembut,,, cukup lama ku menciumnya,,, agar kesalnya mereda ku berharap,,, ku lepas bibirnya,, dia diam,,, dia menatapku, aku tersenyum. lalu dia berkata, “kamu bilang aku polos karena suka tanya-tanya istilah pekerjaanmu ya?”

“Bukaaaann….” Kataku sambil sedikit berteriak, aku nyalakan mesin, lanjutkan perjalanan, lalu aku mematikan radio. Malam ini aku ingin mendengarnya mengomel, ntah sampai seperti apa dia kuat seperti itu. Aku ingin menikmati ocehannya, biarlah.. Kecupanku tidak membawa hasil apa-apa. Dia mendebat, mengoceh, dan mengomel sepanjang jalan dan aku hanya bisa mendengarkan, sambil sesekali menjawab ocehannya..  ahhhh, aku sayang dia..

Senja Itu

Senja

Sudah lama rasanya aku tidak merasakan senja seperti dulu, senja yang merah merona katamu, hemm lebih tepatnya senja yang dihabiskan bersamamu.

Aku masih suka mengingat itu, rasanya masih menyenangkan, yaa memang terasa sakit, tapi menyenangkan, mungkin semua orang akan bilang aku gila, tapi aku tidak peduli. Ingatan itu menyenangkan kok, dan aku mulai menerima itu sebagai bagian dari hidup. Memang rasanya tidak sama lagi, rasanya… Hampa… Ntahlah..

Aku tahu, mungkin kamu sudah melupakan semuanya, tidak ada lagi kamu yang aku kenal, tidak ada lagi kamu yang tersenyum ketika melihatku, yang ada.. Kamu yang…. Ya kamu… Kamu yang sekarang…

Tapi biarlah, aku tidak peduli, jika ada orang yang mati-matian untuk mencari kebahagiaan dengan cara melupakan kebahagiaan yang terdahulu, itu adalah caranya, sedangkan aku.. Aku nyaman dengan caraku sendiri, cara yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh siapapun, cara paling gila yang ada di muka bumi ini.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku masih mencintaimu? Apakah aku masih menginginkanmu seperti dulu? Apakah aku masih seperti yang dulu jika ntah kapan bertemu lagi denganmu? Aku tidak tahu, mungkin aku mengingatmu hanya untuk sekadar agar aku bisa menulis, ya.. Hanya untuk dapat menulis seperti ini, menulis rasanya cukup melegakan, banyak hal yang tidak bisa aku katakan, tapi bisa aku tulis, dan aku akan menulis sesukaku, sampai akhirnya tulisanku berubah sendiri, mengikuti apa yang ada dalam diriku.

Kapan terakhir kali kita menikmati senja bersama? Aku lupa.. Yang aku ingat, kita pernah menikmati senja dalam perjalanan, sambil mendengarkan musik, atau sambil bercerita tentang apa saja, sebetulnya kamu yang memaksaku untuk bercerita, “biar gak ngantuk.” Katamu, dan aku dengan senang hati melakukannya.

Selalu ada rasa nyaman ketika aku bercerita kepadamu, rasa yang sulit tergantikan, ya sulit.. Bukan berarti tidak bisa, tapi sulit.. Itu berbeda.

Ntah bagaimana keadaanmu sekarang, rasanya tidak perlu aku pikirkan lagi, biarlah. Biar kamu dengan hidupmu, dan aku dengan hidupku, hidupku… Yang masih suka menulis tentangmu.. Tentang senja yang kita tinggalkan bersama-sama.. Senja yang mungkin tidak ingin kita temui lagi… Senja yang hilang ditelan gelap malam….

Sadar

Di postingan sebelumnya, nulis tentang jatuh cinta yang biasa saja, tetapi memang digambarkan secara biasa.

Lalu memukan tweet ini

Ya.. Seharusnya memang digambarkan secara biasa…

Jatuh cinta itu biasa saja, sebiasa bertemu, bercinta, lalu berpisah.

Selamat jatuh cinta.

Tentang C

Cinta adalah lipatan-lipatan senja yang disisipi cerita dan kenangan akan sebuah cerita.

Cinta adalah butiran-butiran pasir yang tercetak langkah-langkah, dari sebuah perjalanan.

Cinta adalah sebuah senyuman paling indah, ketika dia menatapmu.

Cinta adalah gombalan-gombalan klise yang dibalas dengan senyuman dan kata-kata “Kamu tuh gombal ya?”

Cinta adalah tempat ternyaman di sebuah sudut bernama hati.

Cinta adalah tawa-tawa kecil di sela-sela percakapan tentang apa saja.

Cinta adalah menikmati tatap dan senyumnya sembari tetap menjaga jarak.

Cinta adalah kegoisan, kesombongan, dan ketikdaktahuan diri, untuk menguasai hati yang lain.

Cinta adalah menikmati rindu yang selalu mengiris.

Cinta adalah rasa ingin memiliki, tapi tidak ingin mengekang.

Cinta adalah dorongan, tarikan, dan paksaan untuk bangkit ketika terjatuh.

Cinta adalah kecupan-kecupan kecil ketika tak ada kata, saat beradu tatap.

Cinta adalah harapan-harapan kosong yang terus diisi dengan kepura-puraan, agar tetap bisa hidup.

Cinta adalah menikmati setiap detik pertemuan, sebelum kita sadar, ada perubahan di antara kita.

LDR Aja Sih.

Terpengaruh dengan lagunya The Cure yang Friday, aku ke masjid…. bukan.. bukan itu, tapi Friday, I’m in love, mari kita bahas sesuatu yang berhubungan dengan cinta. Iya, karena lagu itu maka secara tidak langsung beberapa orang di dunia ini, menganggap Jumat adalah hari untuk cinta, kenapa Jumat yah? Kenapa gak Kamis? Rabu? Atau Selasa? Mungkin karena Sabtu hari pemalakan oleh pacar, Minggu bokek dan kecapean, Senin hari menghadapi kenyataan pahit kehidupan kantor, Selasa, Rabu, Kamis itu nama-nama hari, maka Jumat adalah hari yang pas untuk jatuh cinta, ya begitulah kira-kira filosofinya.

Oke.. itu tadi ngaco, jadi gini ceritanya tadi pagi muncul twit tentang LDR di Timehop. Twitnya kira-kira seperti ini “LDR 5 tahun, itu pacaran apa nyicil motor?”. Saya tidak bermasalah dengan orang yang LDR, tapi LDR bertahan ampe 5 tahun itu emejing banget untuk saya. Saya juga pernah LDRan bahkan sekarangpun LDR, tapi udah ganti “pemain”, karena menurut saya LDR yang sehat itu hanya sampai 3 tahun, lebih dari situ kamu akan membuang waktu kamu untuk mencoba dengan lain, mungkin lebih baik, tapi bisa jadi lebih buruk, kalau kamu dapat yang lebih buruk, kamu minta balikan, itu juga kalau kamu gak malu.

LDR adalah model pacaran yang cocok untuk jaman sekarang, dimana ruang dan waktu tidak terasa lagi, jaman dimana kemungkinan bertemu orang baru setiap harinya begitu besar, kita tidak lagi hidup di jaman Chrisye dan Sophia latjuba bahagia setelah membuka dan membaca sebuah surat, tapi kita hidup di jaman Sophia latjuba pacaran sama Ariel, dan ini tuh masih pacaran, jangan terburu-buru membuat dirimu jadi static private, biarkan dirimu tetap menjadi public (Naon atuh dik?). Maksud saya gini, jaman sekarang ini lebih baik kamu berkenalan dengan banyak orang, jalan, ngedate, ttman, atau apalah itu, dengan dengan beberapa orang sebelum menjadi hubungan kamu menjadi serius, karena penasaran kamu habis di masa muda, dan kalau akhirnya kamu tetap milih pasangan LDR kamu, setelah jalan dengan banyak orang, berati memang orang itu yang bener-bener pas sama kamu, iya kan? Iya-in aja biar cepet. Lebih baik kamu playboy atau playgirl di masa muda, daripada jadi om om genit dan tante girang di masa tua, karena itu gak bagus sob.

Saya sendiri setelah mengalami kegagalan cinta (Kegagalan cinta… Dangdut banget sob!), mencoba untuk lebih terbuka, mencari seseorang yang mudah dimodusin.. gak deng, saya gak kayak gitu bener deh, yang saya lakukan hanya berusaha untuk mengenal lebih, sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan.. Keren banget gak sih? 😀

Tapi untuk kamu-kamu yang sudah menyandang gelar jomblo tetap, jomblo ngenes dan  jomblo konsisten, dengan jumlah mantan gebetan lebih besar dari mantan pacar, dan sudah masuk kedalam zona aku-bukan-siapa-siapanya-kamu lebih sering dari jumlah bintang-bintang di angkasa, teori mencoba jalan dengan beberapa orang ini tidak disarankan untuk dilakukan, karena bisa jadi ketika kamu dapat pacar, lalu mencoba teori itu, dan berakhir dengan kaburnya sang pacar, kamu membutuhkan bertahun-tahun untuk dapat pacar lagi, jadi sebaiknya untuk para golongan di atas, kalau sudah dapat pacar, cepat-cepat diresmikan saja, dari pada naik level jadi jomblo legenda.

Nah jadi begitulah kira-kira cerita cinta kali ini. Semoga pikiran kalian terbuka.

Patah Hati

Patah hati? Ini postingan pertama dan judulnya patah hati? Kenapa?

Kenapa judulnya patah hati? Ya… Karena saya mau.

Tengah malam, di hari minggu yang biasa, menghabiskan malam minggu dengan nonton film bajakan yang judulnya “About Last Night”, bercerita tentang dua orang yang bertemu di suatu bar, lalu merasa saling cocok, menjalin hubungan, dan tentu saja bercinta. Pada awalnya hubungan mereka baik, harmonis, dan menyenangkan sampai suatu saat terjadi konflik, dan mereka putus.

Dalam kondisi ini yang sebetulnya menarik, perbedaan antara cowok dan cewek terlihat. Untuk cewek, patah hati cukup disikapi dengan curhat sampai pagi dan menangis, lalu sudah.. Kembali kekehidupan normal, seperti semula. Sedangkan si cowok, terlihat lebih tegar dan seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi yang terjadi adalah si cowok seperti tidak punya semangat hidup, jadi pendiem, suka merenung, wajah kusut, makan hanya ketika lapar, tidur hanya ketika ngantuk, bahkan gak napsu ma cewek lain, saya pikir si cowoknya bakalan jadi gay, tapi gak kayak gitu kok ceritanya.

Yah, sebagai orang yang pernah masuk dalam keterpurukan patah hati, jadi bisa ngerasain apa yang dirasakan sama si cowok di film itu. Patah hati tuh hal paling gak enak di dunia ini, hidup gada rasanya, bawaannya lemes, tidak bergairah, makan gak enak kalo gak pake bumbu, dompet tipis kalo belum gajian, dan lapar kalo lagi puasa.

Jadi begitulah rasanya patah hati… Selamat malam