Polos

Dia mengomel tanpa henti, sepertinya sedang kesal,,, kesal kepadaku. Ntah kenapa jika di dekatku dia senang sekali berbicara, mendebat, dan mengomel seperti ini. Awalnya aku tidak menyangka dia tahan untuk berbicara panjang dan lebar seperti ini, di kesehariannya dia wanita yang cukup pendiam, tidak banyak berbicara, lebih banyak mendengarkan jika sedang berkumpul dengan teman wanitanya, tapi dengan ku, dia berubah, dia cukup banyak bicara, banyak hal yang diceritakan, banyak hal yang didebat, dan banyak hal yang dia komentari tentangku, kadang dia menyebalkan…  Dan malam ini, dia mengomel panjang lebar karena aku salah berbicara. Ya.. Aku tidak bermaksud menyinggungnya, tapi kata “polos” yang aku sebutkan sesaat sebelumnya, membuat dia kesal.

Aku tidak bermaksud untuk membuat dia merasa tidak tahu apa-apa dengan menyebutnya polos. Mungkin aku salah memilih kata. Aku adalah orang yang kadang berbicara dengan sedikit kiasan, tidak langsung berbicara blak-blakan, ntah, mungkin karena aku takut menyinggung orang lain atau apa, yang pasti aku bukan orang yang straight to the point. Tapi dia terkadang tidak bisa mengerti itu, maksudnya, kadang tidak mengerti apa yang aku bicarakan, dan aku harus mengulangi apa yang aku maksud dengan jelas, sejelas-jelasnya. “Kadang aku ngerasa kamu tuh polos.” Kalimat itu yang membuat dia mendebatku, berbicara panjang lebar, memaksaku menjelaskan apa maksud kalimat yang aku katakan tadi, berkali-kali aku jelaskan, diselingi kata-kata maaf, agar dia berhenti, tapi dia tidak puas dengan penjelasanku.

Aku mencari tempat yang cukup aman untuk berhenti. Aku hentikan mobilku, matikan mesin, dan ku tatap dia, dia masih mengomel, sepertinya dia kesal sekali, dan aku mulai kehabisan kata-kata untuk menjelaskan maksudku, dia sulit sekali dipuaskan. Aku diam,,,, lalu aku kecup bibirnya,,, lembut,,, cukup lama ku menciumnya,,, agar kesalnya mereda ku berharap,,, ku lepas bibirnya,, dia diam,,, dia menatapku, aku tersenyum. lalu dia berkata, “kamu bilang aku polos karena suka tanya-tanya istilah pekerjaanmu ya?”

“Bukaaaann….” Kataku sambil sedikit berteriak, aku nyalakan mesin, lanjutkan perjalanan, lalu aku mematikan radio. Malam ini aku ingin mendengarnya mengomel, ntah sampai seperti apa dia kuat seperti itu. Aku ingin menikmati ocehannya, biarlah.. Kecupanku tidak membawa hasil apa-apa. Dia mendebat, mengoceh, dan mengomel sepanjang jalan dan aku hanya bisa mendengarkan, sambil sesekali menjawab ocehannya..  ahhhh, aku sayang dia..

Advertisements

Kosong

Hampir 15 menit ku tatap layar di laptopku, ntah rasanya kepalaku kosong, sulit untuk memahami apa arti kode yang ditulis di sana. if.. then.. else… aku benar-benar tidak bisa mengerti. Ntah apa yang terjadi, sepertinya otakku berhenti berpikir, memahami barisan kode rasanya menjadi sulit, padahal sudah hampir 3 tahun aku bekerja dengan kode-kode itu, tapi hari ini, rasanya kode itu menjadi lebih asing,,, lebih,,, sulit dipahami.

Ku sandarkan tubuhku pada sandaran kursi. Meja-meja yang ada di depanku, mulai ditinggalkan, jam kerja telah usai, satu per satu temanku meninggalkan kantor, sampai hanya ada aku, dan beberapa orang yang masih tertahan karena pekerjaan. Tapi aku masih dengan laptopku yang masih menyala dan gelas kopi sisa tadi pagi, yang tinggal ampas.

Ampas kopi…. ampas kopi… am…pas….ko…pi…..

Ku eja kata-kata itu, berkali-kali sampai aku ingat satu kalimat “Jika aku adalah kopimu, dan kopi selalu menyisakan ampas, lalu kamu menemukan ampas dalam diriku, mungkin kamu bisa melupakanku.” Kalimat itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Hemmmm bagaimana bisa aku melupakan dia? Apa yang harus ku lupakan dari dia? 

Tidak banyak cerita bersama dia, rasanya hanya biasa saja, teman kantor, seperti yang lain, yang berbeda hanya bagaimana aku melihat dia. Kami cukup dekat, setidaknya, aku lebih sering mengajaknya makan siang dibanding teman kantor yang lain, dan ya beberapa hal sering aku ceritakan kepada dia. Tapi bagaimanapun, dia hanya teman kantor biasa, tidak lebih.. Ah sudahlah.. Aku mulai membereskan meja kerjaku, pikiranku sudah tidak bisa lagi berpikir, beberapa ingatan tentang dia masih muncul di kepalaku seperti potongan iklan yang silih berganti. Aku menarik napas panjang, agar meras lebih tenang, memikirkan dia terkadang lebih…. menekan perasaanku… ahh… sudaah… mungkin aku hanya sedikit…. rindu….

Berjalannya Waktu

Semua akan berubah seiring waktu yang berjalan, meninggalkan ribuan senja di belakang, dan menjemput pagi yang akan selalu datang.

Sebenernya rencana pagi ini, lanjut kerja, karena kerjaanku keteteran, tapi tadi iseng main ke blognya Mbak drama yang gak lagi drama dan…. Dia berubah, haha.. Mungkin ini blog yang paling lama saya baca, kalau gak salah dari 2011. Sedikit tentang blog ini, ini blog isinya tentang drama hidup yang gak pernah abis, tapi sekarang isinya udah mulai menjadi dewasa, lebih bijak, mungkin lebih tepatnya penuh hikmah hahahhaha.. saya gak percaya nulis itu untuk sebuah blog yang isinya drama-drama yang terkadang receh hahaha,, Ya ampun,, tapi emang keren sih :mrgreen:

Yah semua akan berubah seiring waktu yang berjalan, Saya pun berubah, minimal pindah tepatlah, Saya belum sempat bercerita kalau sekarang saya sudah pindah ke Yogyakarta, yang sebelumnya di Bandung. Sudah sebulan saya pindah kota, dan kenapa saya akhirnya pindah kota, sebetulnya ada cerita-cerita ntah… rasanya terlalu malas untuk saya ceritakan.. bisa dibilang konflik internal perusahaan.. jadi sudahlah..

Tahun pun berubah, tahun ini, pasti berbeda dengan tahun sebelumnya, ada ketakutan “kecil”, yang membayangin, seiring tahun berjalan. Ketika semua hal berubah, dan ada sisi dalam diri kamu, yang tidak pernah berubah, rasa takut itu pasti muncul, ketakutan yang wajar saya pikir.

Bagian yang paling sulit dari nulis adalah bagian penutup, saya pernah ditegur sama mbak-mbak drama itu, kalau cerita kok ngegantung mulu, gak enak bacanya.. tapi mungkin memang ada cerita yang tidak ingin saya akhiri.. hhaha #apasih

Jadi…… Kamu masih kangen aku gak? #WhatThe…

#30DaysMusicChallenge #Day13 #Day14

Day 13 : One of your favorite 70’s song.

Hari ke-13 ini susah amat deh, akhirnya saya liat playlist di spotify, dan ternyata lagu Lovin’You dari Minnie Riperton adalah lagu dari tahun 1970an.. Haha. Lagu ini udah lama saya dengerin. Lagu jaman dulu tuh gak pernah bosen didengerin emang.

Day 14: A song that you would love to played at your wedding.

Banyak sih sebenernya, tapi untuk yang ini kayaknya lagunya Karen Carpenters yang Close To You. Kalian harus denger deh lagunya, wedding song banget.

Gimana lagunya? Enak didenger kan ya? Ternyata lagu ini juga keluaran 70an.. halah.. haha

Baiklah.. Tinggal 16 lagu lagi yang harus disiapkan..

Berdongeng

Jauh sebelum stasiun tipi nasional Indonesia menyiarkan acara animasi tentang anak kembar dan teman-temannya dari negeri seberang, Indonesia lebih dulu punya cerita anak seperti itu. Si Unyil nama ceritanya. Karakter yang ada dalam cerita Si Unyil, mereferentasikan keadaan Indonesia yang terdiri dari berbagai suka bangsa, dan agama. Drs. Suyadi, orang dibalik cerita Si Unyil dikabarkan meninggal tanggal 30 Oktober 2015. Saya memang tidak terlalu mengenal Si Unyil, yang saya tau si Unyil adalah anak SD, seperti anak-anak pada jamannya, suka bermain, dan kadang mencuri jambu dari pekarangan Pak Raden. Jaman sekarang Si Unyil bukan lagi cerita dongeng, melainnya pembawa acara yang lebih suka duduk depan laptopnya dan kadang jadi turis lokal.

Nasib cerita si Unyil memang sudah “kalah” sejak lama dari cerita-cerita import Jepang, sama buruknya dengan cerita seangkatannya si Komo, ciptaan Kak Seto yang ntah bagaimana, masih terlihat awet muda. Cerita Si Unyil dihentikan penayangannya tahun 1993, sedangkan Si Komo, saya bahkan gatau kapan terakhir ditayangkan. Setelah itu, rasanya tidak ada lagi dongeng untuk anak-anak yang asli dari orang Indonesia. Tampaknya kita lebih suka barang import, kalaupun ada, biasanya ceritanya terlalu dibuat-buat, dan terasa berlebihan.

Sudah sejak lama saya menjadi penggemar dongeng. Banyak sekali dongeng yang saya dengar atau baca. Beberapa malah masih nempel di kepala – mungkin kalau ada yang mau dengar, nanti saya ceritakan. Bahkan Alm Drs Suyadi atau Pak Raden, lebih saya kenal sebagai pendongeng, dengan dandan khas ningrat jawa, kumis tebal, dan suara seraknya itu. Dongeng pak Raden biasanya saya temukan kalau saya bolos mengaji. Dongeng adalah masalah imajinasi. Membiarkan hal-hal diluar logika terjadi. Saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada dongeng di dunia ini. Mungkin semua akan terlihat lurus, dan teratur, bisa jadi membosankan.

Saya tidak tahu apakah 5 atau 10 tahun lagi, kata dongeng masih bisa dengar, atau malah hilang karena tidak lagi masuk logika berpikir dan jauh berbeda dengan keadaan jaman.

Cerita Dadu Part 2

Melewati Utara dan Selatan

Lagi iseng liat-liat isi dari google drive, disana ada catatan itenary untuk jalan keliling sebagian pulau jawa pake mobil, jalurnya Bandung – Yogyakarta – Solo – Semarang – Bandung. Tapi rencananya gagal karena.. Lupa karena apa. Rencana itu baru terlaksana September kemaren (2015). Rasanya itu perjalan paling jauh bawa mobil sendiri, melewati 2 jalur yang karakteristiknya beda banget, jalur selatan dan jalur utara. Jalur selatan adalah jalur yang relatif sepi, sebagian jalur itu melewati hutan yang minim penerangan. Sedangkan jalur utara lebih ngota karena memang jalur utama distribusi barang, jadi lebih rame, malah sampai macet, karena perbaikan jalan yang tidak pernah selesai.

IDEABOX

Ideabox adalah sebuah program akselerasi start-up. Mendapat kesempatan untuk sampai masuk ke bootcamp ideabox, adalah sebuah keberuntungan. Walaupun tidak sampai ke tahap selanjutnya, tapi disana cukup mendapat banyak ilmu yang didapat dari sana, selain itu dapat koneksi baru, dan banyak orang yang mau membantu untuk mengeksekusi sebuah ide menjadi lahan pekerjaan.

Pindah

Sebuah keputusan yang dibuat dengan mengorbankan beberapa hal, untuk beberapa hal. Memutuskan untuk “memberi makan” sebuah ego, dengan mengorbankan semua kenyaman yang didapat selama dua tahun ini, bisa jadi menjadi sebuah kesalahan bodoh. Tapi setelah terus dipikirkan, mungkin ada baiknya mencoba, dan berjuang untuk diri sendiri. Hal-hal besar selalu ada di luar kotak nyaman, dengan semua kesempatan yang bisa didapat, menjadikan semua resiko atas sebuah pilihan  menjadi  layak untuk dicoba.

Bulan Ini Lima Tahun Yang Lalu

Kemarin tiba-tiba ingat, kalau 5 tahun lalu tepat di bulan ini, saya menghadapi peristiwa yang sakral bagi seorang mahasiswa. Bulan ini tahun 2010 yang lalu saya melaksanakan sidang skripsi. Karena lupa tepatnya tanggal berapa akhirnya saya ngubek-ngubek email yang sudah tidak terpakai, dan akhirnya menemukan jadwalnya, 24 Juli 2010 itulah tanggal sidang saya.

Saya ingat saya sidang sore hari dijadwalkan jam 2 sore, baru mulai jam 4 padahal saya sudah datang dari jam 8, itu juga karena ketentuannya seperti itu. Tidak ada yang spesial dalam sidang dulu, saya bahkan memakai slide yang sama dengan slide untuk seminar hanya ditambahkan sedikit, sempat disindir oleh dosen penguji “Kamu mau sidang apa seminar?”, itu karena saya lupa mengganti judul header slide persentasi. Sidang berjalan biasa saja, hampir tak ada tanya jawab, yang ada saya hanya menjelaskan fungsi-fungsi yang dibuat, mungkin karena dosen sudah terlalu capek atau ingin cepat pulang jadi tidak ada tanya jawab tentang apa yang saya buat, bahkan ada satu bagian dalam sidang yaitu tes kemampuan coding yang tidak dilakukan oleh dosen penguji. Akhirnya sidang saya seperti persentasi ke klien dengan beberapa catatan yang harus diperbaiki. Satu setengah jam lamanya saya persentasi di luar sudah mulai gelap, ketika keluar ruangan, keadaan kampus sudah sepi, gelap hanya 1 ruangan yang masih terang, ruangan seketriat jurusan, saya keluar sendirian, tak ada foto-foto, tak ada ucapan selamat, hanya saya sendirian, tapi ada rasa puas dengan apa yang sudah dilakukan.

Cerita ini selalu saya ingat, sebagai mahasiswa dengan kemampuan rata-rata, kadang saya berpikir saya mungkin akan sulit untuk lulus. Sebuah momen yang membuat saya seperti ini, bekerja di bidang ini, tidak terasa sudah 5 tahun saya bekerja di bidang yang saya jalani. Waktu skripsi pola hidup saya seperti ini. Jam stgh 7 saya sudah berangkat ke kampus, untuk liat apa dosbing saya bisa ditemui atau tidak, dosbing saya emang unik, dia bisa ditemui tiap hari, jadi kalau mau bimbingan tiap hari ya silahkan walaupun pada akhirnya dimarah-marahi karena selalu tidak memenuhi “harapan” bliyo, semakin mendekati waktu seminar atau sidang saya (dipaksa) bimbingan tiap hari, agar lembar persetujuannya ditanda-tangani. Setelah selesai urusan di kampus, saya sampai rumah sekitar magrib, lalu jam 7 atau jam 8 malam melanjutkan skripsi, sampai jam 10, biasanya jam 10 saya sudah mengantuk, saya tidur sebentar sampai 12, saya tidur depan komputer, agar tidak kebablasan, dari jam 12 saya kerja sampai jam 3, setelah itu tidur sampai 5 lalu siap-siap berangkat ke kampus paginya, itu saya lakukan selama 3 bulan, bahkan di hari liburpun saya pakai untuk mengerjakan skripsi. Mengerjakan skripsi bukan hal yang mudah, untuk saya yang mempunyai kemampuan biasa-biasa saja itu seperti menaiki gunung everest, ada kalanya saya harus mencoba sampai ratusan kali dan gagal, sampai akhirnya berhasil untuk selesai.

Skripsi untuk saya sudah menjadi pelajaran hidup, ada satu hal yang selalu saya ingat dari skripsi, tidak peduli berapa kali gagal, puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali, kita hanya perlu SATU… SATU kali percobaan dan berhasil untuk menyelesaikan pekerjaan dan lebih baik ratusan kali gagal karena mencoba daripada satu gagal karena diam.

Selamat Berpuasa :mrgreen: