Setelah Sekian Lama

“Wow…”

“Wow, apa?”

“Wow.. Akhirnya, kenihilan kita benar-benar terjadi. Rasanya apa yang aku bayangkan selama beberapa tahun kebelakang ini benar-benar terjadi.”

“Membayangkan apa?”

“Kenihilan kita, ketidakberadaaan kita, kita akhirnya benar-benar tidak ada, tidak eksis di dunia ini. Kadang aku mikir, jangan-jangan, semesta memberikan keadilan dengan cara memberikan ketidaksempurnaan kepada setiap orang.”

“Setelah sekian lama, kamu makin gak jelas tahu gak, sok filosofis.”

“Haha.. Setelah sekian lama, rasanya yang tidak berubah dari diriku adalah pertanyaan, kenapa kita pertemukan dengan orang yang membuat kita jatuh cinta, lalu dipisahkan dengan tragis?”

“Tapi kan, semua orang akan berpisah dengan orang yang dicintainya, hanya masalah waktu aja.”

“Iya, menurutku, ada tiga jenis perpisahan di dunia ini, yang pertama, perpisahan romantis, yaitu perpisahan karena takdir… kematian maksudnya. Jenis perpisahan yang memang begitu seharusnya, natural. Yang kedua, adalah perpisahan tragis-romantis, ini jenis perpisahan yang disepakati oleh dua orang yang pernah bersatu, perpisahan murni tanpa pengaruh lingkungan luar. Yang ketiga, adalah perpisahan tragis, perpisahan yang kadang tidak dimengerti oleh keduanya, perpisahan yang dipaksakan karena tekanan dari lingkungan luar.”

“Kamu masih mikirin perpisahan ini ya?”

“Kehilangan seseorang yang membuatku terlibat dengan perasaan yang begitu dalam, dan terobesesi dengannya, membuatku susah sekali untuk lupa. Sampai titik dimana aku berusaha untuk menerima kalau itu adalah bagian dari hidupku, dan yah.. kadang ingatan itu muncul, sampai sekarang.”

“Aku gak tahu sih, apa yang aku bilang ke kamu.”

“Kamu tahu gak sih? Di titik ini, aku pikir satu-satunya kabar yang akan terdengar setelah sekian lama, adalah kabar kematian salah satu dari kita, ntah siapa yang akan mendengar kabar siapa, itu masih menjadi misteri.”

“Kenapa begitu?”

“Beberapa bulan kemarin, aku mendengar kabar kematian teman-temanku dulu, setelah terakhir bertemu, berpisah, lalu kabar terakhir yang terdengar adalah kabar kematian. Jadi aku pikir, nasib kita juga akan sama. Kita tidak akan pernah lagi berkabar, kamu tidak akan lagi menyapaku, begitu juga dengan ku, sapaan-sapaan kita yang dulu terasa begitu hangat, rasanya tidak akan lagi kita rasakan, sampai satu saat nanti, salah satu dari kita mendengar kabar itu dari teman yang dari dulu kita kenal, ntah dari siapa, aku juga gak tahu.”

“Kayaknya kamu mulai gila.”

“Hehe.. Yah, aku berusaha untuk meninggalkan tempat itu, aku mulai berusaha untuk meninggalkanmu, menjauh, mencari tempat lain, dan itu rasanya sulit sekali, semakin aku jauh, rasanya kewarasanku makin berkurang, sampai rasanya aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan.”

“Kenapa tidak kamu saja yang menyapaku?”

“Karena aku tahu kamu, kayaknya, kamu tidak akan pernah lagi, membalas pesan-pesanku, lagian…. untuk apa juga? Kenapa aku harus tahu kabar kamu?”

“Yaa.. agar apa yang kamu pikirkan tentang kabar terakhir itu, tidak terjadi.”

“Hehe.. lagian yah, seadainya kamu membalas pesanku, perubahan kita tuh akan makin terasa, kita sudah terlalu jauh, sudah terlalu lama, rasanya kita bukan kita yang dulu lagi, dan jujur aku takut sih, ingatanku tentang kamu tuh, akan selalu manis, selalu tentang kita yang terasa sempurna, kalau aku benar-benar merasakan perubahan itu, rasanya akan lebih sedih, aku gatau bagaimana aku harus berhadapan dengan kamu yang sudah berbeda. Jadi.. ya sudahlah, biarkan saja seperti ini, dan biarkan apa yang aku pikirkan terjadi. Ditinggal kamu saja, rasanya sudah sulit sekali, banyak energi yang aku keluarkan untuk tetap bisa berdiri, dan kalau harus menghadapi kamu yang sudah berubah, rasanya aku terlalu lelah untuk itu. Aku gak sanggup.”

“Kabarku baik-baik saja…”

“Yah, aku tahu…”

Berinvestasi Biar Cuan

Cuan adalah buzz word yang cukup populer belakang ini. Kata ini mengacu pada keuntungan yang didapatkan dari hasil berinvestasi, dalam hal ini biasanya dalam bentuk saham. Maka, kata berinvestasi sekarang ini sangat lekat dengan besarnya keuntungan yang akan didapatkan.

Tapi saya tidak akan membahas tentang apa itu saham, apa itu investasi, atau bagaimana cara agar cuan besar, biarlah akun-akun jago saham yang bahas soal itu. Saya lebih ingin membahas soal investasi dari pandangan pribadi, lebih tepatnya dari apa yang sudah saya lakukan selama ini.

Dari pertama kali saya kenal istilah investasi, yang tertanam dalam benak saya adalah menunda kenyamanan hari ini, untuk menyamanan di masa depan, dan juga menjaga nilai riil uang yang disimpan agar daya belinya tetap sama di masa depan, dengan kata lain menjaga nilai uang dari pengaruh inflasi.

Apa langkah pertama untuk berinvestasi? Instrument apa yang paling cocok untuk berinvestasi? Untuk orang-orang di masa lalu, berinvestasi dengan membeli tanah, bangunan, atau perhiasan, tapi jaman sekarang instrument investasi bergeser ke surat-surat berharga, reksadana, atau mungkin saham. Tapi saya pikir banyak orang yang lupa, kalau investasi paling pertama itu adalah diri sendiri. Maksudnya adalah bagaimana cara kita untuk membentuk perilaku agar dapat mencapai tujuan investasi. Kembali ke definisi investasi yang saya pelajari, langkah pertama untuk berinvestasi yaa… belajar menurunkan gaya hidup. Langkah ini bisa dipelajari oleh semua orang, menahan diri untuk tidak banyak “jajan”. Sebetulnya ini langkah yang paling sulit, apalagi dengan banyaknya iklan-iklan makanan, tempat nongkrong, atau fashion yang hits-edgy-viral-apalah-apalah itu, tapi dengan kita menahan diri untuk tidak terlalu sering mengeluarkan uang, itu artinya akan ada cukup uang yang tersisa untuk berinvestasi.

Ok, saya sudah bisa menurunkan gaya hidup, lalu apa lagi? Setelah terbiasa dengan gaya hidup yang “biasa-biasa saja”, harusnya akan lebih mudah, tapi sebelum membeli instrument investasi, ada baiknya kita mempunyai tabungan dalam bentuk uang tunai. Iya.. ada yang bilang cash is the king karena hidup tergantung dengan uang tunai yang kita punya, apalagi hidup kadang tidak bersahabat sehingga kita perlu mengeluarkan uang lebih. Sebetulnya beberapa instrument investasi untuk “liquid” dan dapat ditarik kapan saja kita mau, hanya saja, investasi selalu punya tujuan yang harus dicapai, jika investasi bisa ditarik semau kita, rasanya itu bukan investasi, itu namanya tabungan biasa.

Setelah bisa menekan gaya hidup, dan memiliki tabungan, apakah artinya itu saya siap berinvestasi? Ya tentu saja, tapi sebelum membeli instrument investasi, kenali dulu profile risiko anda. Profile risiko ini biasanya dibagi 3, yaitu konvensional, moderat, dan agresif. Tingkatan ini dibedakan oleh risiko yang mau ditanggung oleh pemegang investasi, ingat.. investasi selalu mempunyai risiko berupa kehilangan uang yang diinvestasikan. Saya pribadi mempunyai profile risiko agresif, beberapa portofolio saya adalah instrument yang berisiko tinggi, dan sedikit tips bagi orang-orang yang memiliki profile risiko agresif, selalu gunakan “uang sampah” untuk berinvestasi, artinya uang yang jika hilang seluruhnya, hidupmu tidak terpengaruh sama sekali…. Ya paling sakit hati untuk beberapa hari, tapi hidupmu masih nyaman laahh..

Setelah menentukan profile risiko, silakan cari manajer investasi yang menjual instrument yang cocok dengan profile risiko masing-masing. Soal jenis instrument apa saja yang saya punya, mungkin saya ceritakan selanjutnya, itu juga kalau mood.. haaha

Sebal

Hari mulai beranjak senja, tak ada yang aku lakukan sehari ini, selain menyelesaikan pekerjaanku. Ku lihat telepon genggam yang terasa sepi hari ini, “kemana dia?” Begitu pikirku. Aku baru ingat, hari ini tak ada balasan pesan darinya, mungkin dia sedang sibuk dengan teman-temannya, membuat pesta ulang tahun untuk temannya yang lain. Kadang aku iri dengan fleksibilitas pekerjaannya, yang memungkinkan untuk melakukan hal yang lain di hari kerja, “Ah, biar sajalah, nanti juga ngabarin.” Kataku pada diri sendiri.

Dia memang makhluk yang berbeda dari yang sebelumnya, terkadang begitu dingin, tapi bisa juga menjadi sangat manis dan hangat. Cerdas dan intimidatif, tapi bisa juga membuatku merasa begitu dibutuhkan. Dia adalah makhluk kutub ekstrim dalam satu jiwa. Terlalu menarik untuk tidak didekati.

Awal pertemuan kami, terjadi di hubungan yang profesional, aku tahu dia dari sebuah event. Komunikasi awal kami hanya tentang pekerjaan, sedikit-sedikit diselangi cerita pribadi, atau lebih tepatnya wawancara pribadi. Dia adalah orang yang ntah bagaimana dapat mengorek perasaanku tentang suatu hal, dan membuatku merasa selalu aman jika harus menceritakannya, dan hal itu membuat kami menjadi lebih dekat.

Hari mulai gelap, garis senja yang ditawarkan Kota Jogja makin menghilang, kentang goreng dan segelas minumanku sudah habis pula, rasanya aku mulai sebal, “kenapa pesanku tidak dibalasnya? Baiklah, akan ku telepon saja dia.”

Tentang Restu

“Kamu marah sama aku?”

Gatau….

“Dari tadi kamu diam aja, udah gak kangen lagi ya sama aku?”

Kangen lah…

“Terus?”

Ya udah, gak ada terus-terusan.

“Heuh! Ya udah lah, kita pulang aja.. males aku kalau kayak gini.”

Tuh kan, kok malah kamu yang marah?

“Ya abisnya, kamu diem gitu, kalau ada masalah yang bilang, jangan diem gitu, aku kan jadi bingung, mau kamu apa, aku tuh bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu.”

Kamu juga kalau marah sukanya diem.

“Oh jadi ngebalikin? Kenapa atuh kamu gak pernah bilang kalau aku kayak gitu? Bagian kayak gini, kamu ngebalik-balikin ke aku. Pulang aja deh.. “

Jangan… 

“Abisnya kamu gitu, mau ngapain kalau kamu juga diem gitu?”

Iya deh, maaf, abisnya….

“Abisnya apa?”

Abisnya aku tuh bingung, sama hubungan kita, sekarang kita gimana? Setelah…….

“Setelah aku dilamar cowok itu?”

Iyah…..

“Hemmm………..”

Kok malah nangis sih?

“Gak tahu….”

“Tuh kan?”

Abisnya aku gak tega kalau harus ngecewain ortuku, kemaren waktu acara, liat wajah mereka, kelihatan seneng banget, kalau aku harus bilang  yang sebenernya, rasanya aku gak tega….

Terus? Sekarang aku pacaran sama tunangan orang?

“Tau ah, udah sih, jangan bahas itu dulu.. aku tuh kangen sama kamu.”

Masa sih?

“Iya.. Kamu tuh yang gak kangen aku.”

Kangen kok, kadang aku heran, kenapa aku segininya ya sama kamu? Aslinya aku takut banget lho.

“Takut kenapa?”

Ya, takut aja. Kamu sadar gak sih, beberapa bulan dari sekarang, kita tuh udah gakan kayak gini?

“Iya sih………..”

Hemmm udah, jangan nangis gitu, gak enak dilihat orang.

“……………………………………………………………………………………………………………………”

Udah ah, aku masih di sini kok, aku masih bareng kamu.

“Aku sendiri bingung sih, di satu sisi, aku sayang sama kamu, tapi di sisi lain, aku juga gamau ngecewain keluarga aku.”

Iya.. aku mengerti, hemmm…. Jadi kamu kapan nikah?

“Masih tahun depan sih, soalnya masih ngitung gitu, ortuku juga masih bulak balik ketemu sama keluarga dia, nentuin tanggal.”

Kita kawin lari aja yuk, abis kawin, kita lari..

“Gamau ah, capek..”

Hahaha… Kamu mah bilangnya sayang, tapi diajakin kawin gamau.

“Ya abisnya, pake lari segala. Lagian kalau kita kawin lari, aku gak yakin siapa yang bakalan jadi wali, terus aku gak siap dengan omongan-omongan dari keluarga besarku.”

Ahh paling juga kita dikucilkan dari keluarga untuk beberapa tahun, gakan sampai 5 tahun lah…

“kata siapa?”

Kata aku, tadi….

“Ah kamu mah, gak segampang itu kali, banyak yang harus dipikirkan, dan kayak restu dari ortu, kayaknya aku gak berani kalau nikah tanpa restu dari orang tuaku.”

Seberapa penting sih restu orang tua dalam pernikahan?

“Menurutku penting sih, aku sih yakin pernikahan yang baik harus dimulai dengan baik juga, misalnya dengan restu orang tua itu.”

Jadi kamu lebih memilih menikah dengan cowok yang gak kamu suka, tapi dapat restu dari orang tua, dibanding menikah dengan cowok yang kamu sayang, tapi harus kawin lari dan gak pernah dapat restu?

“Sepertinya gitu sih….”

Hemmm… menurutmu, inti dari pernikahan apa sih?

“Untukku? Ntah lah, mungkin saat ini untuk ibadah aja.”

Kalau cuma untuk ibadah, rasanya masih banyak ibadah yang bisa dilakukan tanpa harus dikerjakan seumur hidup.

“Tapi pernikahan tanpa restu rasanya bukan sesuatu yang bagus.”

Walaupun dimulai dengan rasa sakit? Walaupun dilakukan tanpa ada rasa cinta?

“Iya..”

…………………………………………………………………………………………………………….

“Kadang aku takut kalau nikah tanpa restu pernikahanku gak baik-baik aja, banyak masalah gitu.”

Emangnya ada jaminan kalau nikah dengan restu orang tua, pernikahan jadi baik-baik aja?

“Ya itu gimana kitanya, bagus atau nggaknya komunikasi di antara kita berdua.”

Ya sama aja dong, tanpa restu kalau kita bisa berkomunikasi dengan baik, pernikahan akan baik-baik aja. Rasanya, pernikahan pasti akan banyak masalah sih, dan yang membedakan pernikahan itu akan berhasil ya perasaan kita, cara kita berkomunikasi, cara kita berdamai dengan ego masing-masing, dan hal-hal lain yang aku yakin gak punya restu.. Kadang aku gak ngerti, kenapa restu menjadi sangat penting? Ok.. restu ortu emang penting, tapi kalau cuma gara-gara gak dapat restu, lalu….

“Lalu? Lalu apa?”

Ntahlah…. Aku sayang sama kamu…..

“Aku juga.. Sayang sama kamu…..”

Nanti kamu mau undang aku?

“Ya gak lah, bisa pingsan aku liat kamu. Boleh gak aku minta kamu gak kemana-kemana?”

Aku gakan kemana-mana kok…  Gila ya aku… Pacaran sama tunangan orang.

“Iya.. dari dulu bukan gilanya?”

Hidih…. I’m your best friend, and i love you… Aku gamau liat kamu jatuh sendirian.”

“Gombal…..”

Pertama Kali

Lama banget sih?”

“Hehe, iya maaf, yuk naik, jalan kita.”

Sedikit lama aku sampai ke rumah dia, karena sempat tertidur, beruntung, jalanan hari ini tidak terlalu padat, dengan motor aku belah jalanan Kota Bandung, dan sampai ke rumahnya dengan sedikit terlambat, 45 menit tepat dari waktu yang dijanjikan.

Ini pertama kalinya aku mengajak dia jalan, setelah bertahun-tahun kita kenal. Ya, dia teman masa kecilku. Kami bertemu saat menempuh sekolah dasar.

“Kita jadi nonton kan?”

jadi dong.. Kamu tuh lama banget, emang macet banget ya?”

“Hehe, iya macet, tadi ada si Komo lewat heheh.”

Tentu saja dia tahu itu tidak benar, kami tumbuh saat Si Komo masih dikenal sebagai penyebab kemacetan. Jalanan Kota Bandung selalu padat ketika akhir minggu, tapi si komo lewat adalah hal yang tidak akan pernah terjadi.

Panas banget yah? Kamu sih lama.. Ketiduran ya, pasti?”

“Hehe.. Iya.. Maaf.. Aku juga gak sadar sih ketiduran, kaget aku waktu liat jam, udah jam segitu aja.”

Pantes,,,, mandi gak kamu?”

“Ya mandi laahhh…. Emang gak kelihatan ya?”

Nggak.. Haha”

“Ihhhh”

####

“Ternyata filmnya masih lama, kita makan dulu aja yuk.”

Yuk, makan dimana?”

“Kamu, mau makan apa?“

Hemm… Terserah sih…”

“Makan beling mau?”

Hahaha.. Ya gak lah… Ya udah, kalau gitu kita ke foodcourt sana aja ya?“

###########

“Gila, panas banget ya?“

Iya, eh kamu mau pesen apa? Ini menunya.”

“Hemmm… Tulisin hehe.. Aku mau nasi soto aja, sama teh botol.”

Kenapa? Tulisannya jelek ya? Hahah..”

“Hahah.. Iya, tulisanku tuh gak berubah dari dulu, gak kayak kamu, tulisannya bagus, makanya jadi sekretasi abadi kan..”

Iya, tapi malah jadi capek lho kalau jadi sekretaris gitu, soalnya nulisnya jadi dua kali, ya di papan tulis, ya di buku..”

“Kasian… Kalau dipikir-pikir, ngapain juga yah kita susah-susah nulis gitu, kan ada di buku paket, bisa dibaca di sana, capek,, iya,, tulisan jelek, tetep, dibaca gak bisa.”

Hehhe.. Itu mah kamu aja, tulisanku bagus kok. Jadi selama sembilan tahun kita gak ketemu, kamu kemana aja?”

“Ada aja sih di Bandung, tapi gak di daerah kita dulu, setelah kita lulus itu, aku lanjut di sekolah gunung, satu cawu di sana, pindah ke kota, sampai kuliah, jadi ya tetep di Bandung sih. Kamu masih suka ketemu sama temen-temen kita dulu?“

Beberapa masih sih, inget Lusi?“

“Yang kecil itu?“

Iya, tapi sekarang dia tinggi lho, melebihi tingginya aku. Kami kadang masih ketemuan sih, terus yang lainnya.. Beberapa kali ketemu Agi, waktu berangkat ke Bandung.. Terus siapa lagi ya? Hehe ya pokoknya gitu lah.. Kamu gak pernah ketemu siapapun?“

“Gak kayaknya, kemaren aja palingan sama Agi, itu pun gak lama… Eh tapi sempet gak sengaja ketemu si Arip, aku lupa gitu wajahnya, makanya pas nyapa.. Aku rada bingung gitu, soalnya kan waktu sekolah kurus, pendek gitu, rambutnya lurus, kemaren ketemu, rambutnya keriting, ganti rambut apa dia? Hahha kalian masih satu sekolahan kan?”

Iya, jadi kayak pindah kelas, ya walaupun gak semua sih, termasuk kamu..”

“Arip tuh temen berantemku lho, kita sering banget berantem, heran aku.. Dia seneng gitu bikin aku emosi.”

Terus, kamu menang?“

“Ya gak lah… Hampir gak pernah aku menang dari dia, haha.. Tapi gitu-gitu dia tuh jadi temen share mimpi tahu gak.. Aku pernah yah, punya ide bikin mobil, terus tahu gak apa yang dia lakukan?

Apa?“

“Tiba-tiba dia ngasih uang gitu, receh, bilangnya.. Untuk bikin mobil hahha..”

Iya? Hahah seserius itu?“

“Iya.. Haha.. Kadang kalau diinget-inget lucu.”

Aku kok gatau ya?“

“Kita kan beda geng, kamu kan di geng anak-anak pinter, aku ada di geng kasta bawah.. Hehe.”

Kenapa atuh gak gabung?“

“Kenapa ya? Asa cangung aja sih.. Banyak ceweknya juga geng kamu mah, aku kan anaknya pemalu.”

Malu-maluin kali kamu mah.”

“ihhh kalau malu-maluin kenapa diajakin nonton atuh?”

Heheh.. Eh hari ini kan, ada pasar seni, abis nonton kita ke sana yuk.”

“Hayuk.”

Kamu tahu kan pasar seni apa?“

“Gak.”

Hahaha dasar gak gaul, udah yuk, filmnya udah mau mulai.”

“Heheh yuk.. Aku yang bayar yah.”

Ih.. Makasih yah hehe”

############

Filmnya biasa aja ya? Tahu gitu, kita nonton yang satunya.”

“Hahaha.. Iya, kenapa atuh?“

Hehhe.. Gak apa-apa.. Eh jadi kita ke pasar seni?“

“Jadi lah.”

Asik.”

#################

“Aku baru tahu ada acara kayak gini. Hehe”

Kemana aja? Makanya jangan kerja terus, gaul sekali-sekali.”

“Ya gimana ya? Abis lulus tuh kayak kehilangan target gitu, maksudnya ketika kita.. Ehh aku.. Kamu kan belum lulus yah hahha.. Ketika aku kuliah targetnya itu jelas, lulus.. Nah sekarang, kayak gak punya target gitu, ya paling kerja.”

Kamu tuh, kalau kerja kayak gak kenal waktu gitu. Kalau aku kebangun tengah malam, pasti masih ada kamu online,”

“Ya, namanya juga freelance, kerjaannya dikerjain sendirian, kadang harus bergadangan gitu, ngerjainnya. Kamu sendiri, gimana skripsinya, udah sampai mana?“

Sampai mana ya? Gak tahu.. Hehe.”

“Lah, skripsi sendiri gak tahu.. Gimana sih? Kayak gak niat tahu gak?“

Abisnya gimana ya? Ada masalah gitu aku, makanya suka males ngerjainnya.”

“Masalah apa?“

Ada lah.. Susah kalau diceritain.”

“Hemm… Kamu sadar gak sih? Kita tuh dulu hampir gak pernah berinteraksi, bahkan ketika kamu duduk di bangku belakangku, kita gak pernah gitu saling sapa.”

Iya yah.. Kenapa atuh kamu gak pernah nyapa aku? Sombong.”

“Hehe malu soalnya… Kan udah aku bilangin, aku tuh pemalu, bukannya gak mau nyapa kamu, cuma bingung aja gitu.. Setelah nyapa mau ngapain.”

Iya, dari dulu kamu tuh pendiem, baru sekarang aja, aku tahu ternyata kamu bisa diajak ngobrol. Ternyata pada udahan ya? Harusnya kita datang siang-siang, panggungnya pasti masig rame.. Acara ini itu, acara empat tahunan lho.”

“Iya?“

Kamu gak tahu?“

“Gak tahu… Hahhaha.”

Beneran gak gaul ya kamu? Acara segede ini, kamu gak tahu.”

“Hehehe.”

Gak kerasa ya kita udah muter-muter, seharian.”

“Heheh.. Seneng gak kamu?“

Seneng… Makasih ya.. Heheh.”

Samar-samar suara seniman jalanan masih terdengar ketika, aku mengambil motorku dari tempat parkir, bersiap mengantarkan dia pulang. Menyisir jalanan kota Bandung yang masih rindang dengan pepohonan. Setelah sekian lama, perasaan itu muncul lagi.. Perasaan masa kecil, yang tertanam jauh, hampir tidak pernah tersentuh.

Takan Ada Lagi

Hujan belum berhenti sejak sore tadi, masih mengguyur jalanan kota. Di antara mobil-mobil yang bergerak senti demi senti, aku coba bersabar, menghibur diri dengan deretan lagu yang diputar seseorang yang keberadaan mungkin tidak akan pernah aku tahu, wiper kaca mobilku masih sibuk membersihkan air yang turun dan mengganggu pandanganku.

“Nggak bisa, aku nggak bisa terus-terusan seperti ini.”

Ingatanku melayang pada suatu ketika. Suatu ketika dimana akhirnya aku harus menyerah, dan membiarkan dia pergi. Sejak saat itu, dia bukan siapa-siapa lagi untukku…. lebih tepatnya.. aku bukan siapa-siapanya lagi untuk dia… Bukan lagi tempat untuk dia bercerita, bukan lagi tempat untuk dia meminta perhatian, seraya bermanjaan, tidak akan ada lagi, sentuhan-sentuhan, dan tidak ada lagi kata-kata cinta, cumbu rayu, atau gombalan-gombalan rindu… Sekarang, aku hanya seseorang yang dia pernah kenal.

Hal yang paling menakutkan ketika ada dua hati yang memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing adalah ketika dua hati itu menjadi dua orang asing, yang tidak lagi saling merasa, bahkan tidak lagi saling mengenal,  dan rasanya semua hal yang pernah terjadi tidak menjadi apa-apa lagi. Hanya ingatan yang siap untuk dilupakan.

Pelan tapi pasti, seperti hati yang pada akhirnya akan saling mengakhiri, kemacetan mulai terurai, jalanan menjadi senggang, mobil-mobil mulai berjalan dengan kecepatan yang cukup untuk dikatakan kendaraan, dan lamunanku akhirnya harus selesai juga, aku pacu mobilku agar sampai ke rumah… rumah.. dimana aku bisa berdiam sendirian, dan melupakan semuanya.

 

Polos

Dia mengomel tanpa henti, sepertinya sedang kesal,,, kesal kepadaku. Ntah kenapa jika di dekatku dia senang sekali berbicara, mendebat, dan mengomel seperti ini. Awalnya aku tidak menyangka dia tahan untuk berbicara panjang dan lebar seperti ini, di kesehariannya dia wanita yang cukup pendiam, tidak banyak berbicara, lebih banyak mendengarkan jika sedang berkumpul dengan teman wanitanya, tapi dengan ku, dia berubah, dia cukup banyak bicara, banyak hal yang diceritakan, banyak hal yang didebat, dan banyak hal yang dia komentari tentangku, kadang dia menyebalkan…  Dan malam ini, dia mengomel panjang lebar karena aku salah berbicara. Ya.. Aku tidak bermaksud menyinggungnya, tapi kata “polos” yang aku sebutkan sesaat sebelumnya, membuat dia kesal.

Aku tidak bermaksud untuk membuat dia merasa tidak tahu apa-apa dengan menyebutnya polos. Mungkin aku salah memilih kata. Aku adalah orang yang kadang berbicara dengan sedikit kiasan, tidak langsung berbicara blak-blakan, ntah, mungkin karena aku takut menyinggung orang lain atau apa, yang pasti aku bukan orang yang straight to the point. Tapi dia terkadang tidak bisa mengerti itu, maksudnya, kadang tidak mengerti apa yang aku bicarakan, dan aku harus mengulangi apa yang aku maksud dengan jelas, sejelas-jelasnya. “Kadang aku ngerasa kamu tuh polos.” Kalimat itu yang membuat dia mendebatku, berbicara panjang lebar, memaksaku menjelaskan apa maksud kalimat yang aku katakan tadi, berkali-kali aku jelaskan, diselingi kata-kata maaf, agar dia berhenti, tapi dia tidak puas dengan penjelasanku.

Aku mencari tempat yang cukup aman untuk berhenti. Aku hentikan mobilku, matikan mesin, dan ku tatap dia, dia masih mengomel, sepertinya dia kesal sekali, dan aku mulai kehabisan kata-kata untuk menjelaskan maksudku, dia sulit sekali dipuaskan. Aku diam,,,, lalu aku kecup bibirnya,,, lembut,,, cukup lama ku menciumnya,,, agar kesalnya mereda ku berharap,,, ku lepas bibirnya,, dia diam,,, dia menatapku, aku tersenyum. lalu dia berkata, “kamu bilang aku polos karena suka tanya-tanya istilah pekerjaanmu ya?”

“Bukaaaann….” Kataku sambil sedikit berteriak, aku nyalakan mesin, lanjutkan perjalanan, lalu aku mematikan radio. Malam ini aku ingin mendengarnya mengomel, ntah sampai seperti apa dia kuat seperti itu. Aku ingin menikmati ocehannya, biarlah.. Kecupanku tidak membawa hasil apa-apa. Dia mendebat, mengoceh, dan mengomel sepanjang jalan dan aku hanya bisa mendengarkan, sambil sesekali menjawab ocehannya..  ahhhh, aku sayang dia..

Kosong

Hampir 15 menit ku tatap layar di laptopku, ntah rasanya kepalaku kosong, sulit untuk memahami apa arti kode yang ditulis di sana. if.. then.. else… aku benar-benar tidak bisa mengerti. Ntah apa yang terjadi, sepertinya otakku berhenti berpikir, memahami barisan kode rasanya menjadi sulit, padahal sudah hampir 3 tahun aku bekerja dengan kode-kode itu, tapi hari ini, rasanya kode itu menjadi lebih asing,,, lebih,,, sulit dipahami.

Ku sandarkan tubuhku pada sandaran kursi. Meja-meja yang ada di depanku, mulai ditinggalkan, jam kerja telah usai, satu per satu temanku meninggalkan kantor, sampai hanya ada aku, dan beberapa orang yang masih tertahan karena pekerjaan. Tapi aku masih dengan laptopku yang masih menyala dan gelas kopi sisa tadi pagi, yang tinggal ampas.

Ampas kopi…. ampas kopi… am…pas….ko…pi…..

Ku eja kata-kata itu, berkali-kali sampai aku ingat satu kalimat “Jika aku adalah kopimu, dan kopi selalu menyisakan ampas, lalu kamu menemukan ampas dalam diriku, mungkin kamu bisa melupakanku.” Kalimat itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Hemmmm bagaimana bisa aku melupakan dia? Apa yang harus ku lupakan dari dia? 

Tidak banyak cerita bersama dia, rasanya hanya biasa saja, teman kantor, seperti yang lain, yang berbeda hanya bagaimana aku melihat dia. Kami cukup dekat, setidaknya, aku lebih sering mengajaknya makan siang dibanding teman kantor yang lain, dan ya beberapa hal sering aku ceritakan kepada dia. Tapi bagaimanapun, dia hanya teman kantor biasa, tidak lebih.. Ah sudahlah.. Aku mulai membereskan meja kerjaku, pikiranku sudah tidak bisa lagi berpikir, beberapa ingatan tentang dia masih muncul di kepalaku seperti potongan iklan yang silih berganti. Aku menarik napas panjang, agar meras lebih tenang, memikirkan dia terkadang lebih…. menekan perasaanku… ahh… sudaah… mungkin aku hanya sedikit…. rindu….

Berjalannya Waktu

Semua akan berubah seiring waktu yang berjalan, meninggalkan ribuan senja di belakang, dan menjemput pagi yang akan selalu datang.

Sebenernya rencana pagi ini, lanjut kerja, karena kerjaanku keteteran, tapi tadi iseng main ke blognya Mbak drama yang gak lagi drama dan…. Dia berubah, haha.. Mungkin ini blog yang paling lama saya baca, kalau gak salah dari 2011. Sedikit tentang blog ini, ini blog isinya tentang drama hidup yang gak pernah abis, tapi sekarang isinya udah mulai menjadi dewasa, lebih bijak, mungkin lebih tepatnya penuh hikmah hahahhaha.. saya gak percaya nulis itu untuk sebuah blog yang isinya drama-drama yang terkadang receh hahaha,, Ya ampun,, tapi emang keren sih :mrgreen:

Yah semua akan berubah seiring waktu yang berjalan, Saya pun berubah, minimal pindah tepatlah, Saya belum sempat bercerita kalau sekarang saya sudah pindah ke Yogyakarta, yang sebelumnya di Bandung. Sudah sebulan saya pindah kota, dan kenapa saya akhirnya pindah kota, sebetulnya ada cerita-cerita ntah… rasanya terlalu malas untuk saya ceritakan.. bisa dibilang konflik internal perusahaan.. jadi sudahlah..

Tahun pun berubah, tahun ini, pasti berbeda dengan tahun sebelumnya, ada ketakutan “kecil”, yang membayangin, seiring tahun berjalan. Ketika semua hal berubah, dan ada sisi dalam diri kamu, yang tidak pernah berubah, rasa takut itu pasti muncul, ketakutan yang wajar saya pikir.

Bagian yang paling sulit dari nulis adalah bagian penutup, saya pernah ditegur sama mbak-mbak drama itu, kalau cerita kok ngegantung mulu, gak enak bacanya.. tapi mungkin memang ada cerita yang tidak ingin saya akhiri.. hhaha #apasih

Jadi…… Kamu masih kangen aku gak? #WhatThe…

#30DaysMusicChallenge #Day13 #Day14

Day 13 : One of your favorite 70’s song.

Hari ke-13 ini susah amat deh, akhirnya saya liat playlist di spotify, dan ternyata lagu Lovin’You dari Minnie Riperton adalah lagu dari tahun 1970an.. Haha. Lagu ini udah lama saya dengerin. Lagu jaman dulu tuh gak pernah bosen didengerin emang.

Day 14: A song that you would love to played at your wedding.

Banyak sih sebenernya, tapi untuk yang ini kayaknya lagunya Karen Carpenters yang Close To You. Kalian harus denger deh lagunya, wedding song banget.

Gimana lagunya? Enak didenger kan ya? Ternyata lagu ini juga keluaran 70an.. halah.. haha

Baiklah.. Tinggal 16 lagu lagi yang harus disiapkan..