Berkendara

Aku suka sekali berkendara, ntah mulai dari kapan kesenangan itu muncul. 4 Maret adalah ulang tahunku, dan di tahun ini, 2022, aku memulai umur yang baru dengan berkendara cukup jauh.

Dimulai dari Kab Sleman, tujuan pertamaku adalah pantai pangandaran, kenapa pangandaran.. aku juga tidak tahu pasti kenapa, yang aku tahu, aku ingin ke sana. Dari Jogja ke Pangandaran, aku mencoba melewati jalan yang tidak aku tahu sebelumnya, pangandaran via Cilacap. Aku baru tahu ada jalan tembusan itu, biasanya kalau ke Pangandaran dari Jogja sini aku ngambil jalur via Banjar, jawa barat, yang mana itu memakan waktu sekitar 12 jam, tapi jika dilakukan via Cilacap, ternyata hanya butuh waktu 5 jam, sungguh pengurangan waktu yang signifikan.

Dari Pangandaran, aku harus lanjut ke Jakarta, karena di Jakarta ada kerjaan sedikit yang hanya bisa aku lakukan di akhir minggu saja, dari Pangandaran, aku mengambil jalur via Ciamis, lalu Kawali, dan masuk gerbang tol Ciperna, Cirebon, dan lanjut tol sampai Jakarta, jalur ini juga, jalur yang baru untuk aku, walaupun jalannya berkelok, menanjak, dan menurun, tapi jalannya halus dan bagus, cukup mengasikkan untuk menikmati perjalanan, waktu yang ditempuh dengan melewati jalur ini sekitar 8 jam.

Yang terakhir perjalanan dari Jakarta ke Jogja via tol trans jawa, karena Jogja belum ada tol, jadi aku keluar di gerbang tol colomadu, kertasura. Dari Jakarta ke Jogja ditempuh dalam waktu sekita 9 jam, dengan biaya tol total, sekitar Rp.400.000 lebih.

Keseluruhan perjalanan menempuh jarak 1.300an KM. Jarak yang cukup jauh untuk memuaskan keinginan berkendara. Aku suka berkendara, karena ketika aku ada di belakang kemudi, semua masalah yang ada di dunia tuh hilang, yang ada cuma aku, mobil, dan jalanan.

Cerita Dadu Part 2

Melewati Utara dan Selatan

Lagi iseng liat-liat isi dari google drive, disana ada catatan itenary untuk jalan keliling sebagian pulau jawa pake mobil, jalurnya Bandung – Yogyakarta – Solo – Semarang – Bandung. Tapi rencananya gagal karena.. Lupa karena apa. Rencana itu baru terlaksana September kemaren (2015). Rasanya itu perjalan paling jauh bawa mobil sendiri, melewati 2 jalur yang karakteristiknya beda banget, jalur selatan dan jalur utara. Jalur selatan adalah jalur yang relatif sepi, sebagian jalur itu melewati hutan yang minim penerangan. Sedangkan jalur utara lebih ngota karena memang jalur utama distribusi barang, jadi lebih rame, malah sampai macet, karena perbaikan jalan yang tidak pernah selesai.

IDEABOX

Ideabox adalah sebuah program akselerasi start-up. Mendapat kesempatan untuk sampai masuk ke bootcamp ideabox, adalah sebuah keberuntungan. Walaupun tidak sampai ke tahap selanjutnya, tapi disana cukup mendapat banyak ilmu yang didapat dari sana, selain itu dapat koneksi baru, dan banyak orang yang mau membantu untuk mengeksekusi sebuah ide menjadi lahan pekerjaan.

Pindah

Sebuah keputusan yang dibuat dengan mengorbankan beberapa hal, untuk beberapa hal. Memutuskan untuk “memberi makan” sebuah ego, dengan mengorbankan semua kenyaman yang didapat selama dua tahun ini, bisa jadi menjadi sebuah kesalahan bodoh. Tapi setelah terus dipikirkan, mungkin ada baiknya mencoba, dan berjuang untuk diri sendiri. Hal-hal besar selalu ada di luar kotak nyaman, dengan semua kesempatan yang bisa didapat, menjadikan semua resiko atas sebuah pilihan  menjadi  layak untuk dicoba.

Penerbangan Pertama

Seharusnya tulisan ini dibuat, sekitar 2 tahun yang lalu. Ya karena pertama kalinya naik pesawat adalah 2 tahun yang lalu, tapi karena.. gatau kenapa, tulisannya gak muncul di kepala, yang mengakibatkan tidak terbitnya tulisan ini. Apa atuh! Ini juga tiba-tiba pengen nulis karena nemu foto-foto lama. Hehe.

Saya jarang sebenernya naik moda transportasi yang namanya pesawat, selain karena mahal, mungkin juga karena.. mahal aja pokoknya :D. Saya baru pakai pesawat 4 kali. Penerbangan pertama saya itu ke Bali, waktu itu dapat tiket promo dari maskapai citylink, lumayan, setengah harga dari harga normal. Dalam bayangan saya, terbang dengan pesawat itu rasanya akan halus, mulus, tenang, dan nyaman apalagi di dalam pesawat ada pramugari-pramugrari yang unyu-unyu kinyis-kinyis yang siap membantu jika ada apa-apa di pesawat, maka perjalanan akan seperti di surga. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, jika cuaca benar-benar cerah sebenernya perjalan akan terasa mulus, tapi jika berawan seperti ketika saya berangkat ke Bali, perjalanan menjadi menakutnya :lol:. Untuk seorang yang baru pertama kali naik pesawat saya tidak tahu jika di atas itu, ada yang namanya tubulensi. Turbulensi ada aliran udara yang tidak beraturan, itu menyebabkan pesawat bergetar, semakin tidak beraturan aliran udara, makin kencanglah getarannya, belum lagi suara-suara dari getaran sayap pesawat, yang terdengar seperti benda retak. Sebagai orang yang suka menonton film, semua hal yang saya jelaskan tadi, membuat saya berkhayal tentang apa yang terjadi di Film-film, dan itu membuat saya parno berat, rasanya saya ingin memakai parasut sepanjang perjalanan, dan ketika getaran besar terjadi, Saya langsung lompat dengan parasut, biar selamat, ceritanya. :mrgreen:.

Tapi sejak kejadian itu, saya mulai menggali tentang apa yang terjadi di pesawat, tentang turbulensi, tentang bagian-bagian pesawat, dan banyak lagi. Ini usaha saya untuk “menetralisir” ketakutan terbang, walaupun begitu, waktu saya naik pesawat untuk ke 2 kalinya, tetap saja, ketika pesawat mulai bergetar, bayangan tentang kejadian seperti Film-film itu muncul lagi, dan saya masih berharap memakai parasut sepanjang perjalanan.

 

Hati-hati Booking Hotel Di Agoda.com

Liburan adalah hal yang paling ditunggu oleh hampir semua orang, terutama orang kantoran yang punya rutinitas 9 -5. Sebagai orang kantoran, ada libur agak panjang seperti liburan Idul Adha 2015 ini adalah anugrah, tinggal ambil cuti sehari, bisa dapat hari libur yang agak panjang.

Berhubung saya ini orang kantoran, jadi saya memutuskan untuk berlibur kesuatu daerah yang bikin orang selalu pengen balik lagi. Nama daerah yang depannya Jogja belakangnya Karta, mungkin kalian bisa menebaknya.
Sudah menjadi kebiasaan kalau mau main seperti itu, saya cari-cari hotel terlebih dahulu, selain mencegah kita luntang lantung gak jelas di kota orang, juga untuk menyesuaikan kemampuan ekonomi kita terhadap harga sewa kamar hotel, karena kita gamau kalau kita datang, lalu yang tersisa hanya hotel di kawasan afrika, karena itu mahal sekali.
Langsung ke intinya, saya pesen kamar hotel lewat situs portal bernama agoda, iya agoda.com yang itu, sudah beberapa kali saya booking kamar disana, dan tidak ada masalah. Tapi kemarin tuh terjadi keanehan waktu saya booking kamar, yang pertama, pembayarannya hanya bisa pakai kartu kredit dan tidak ada pilihan pembayaran menggunakan Paypal, padahal biasanya saya menggunakan Paypal untuk pembayaran. Yang kedua, saya tidak mendapat voucher hotel, dan hanya mendapat nomor booking, karena biasanya jika booking lewat agoda, selalu ada voucher hotel berformat pdf.
Ketika melakukan check-in sebetulnya tidak ada masalah, hanya petugasnya terlihat bingung, waktu saya bilang saya sudah lewat agoda.com, sampai ketika pagi hari, ada yang konfirmasi ke saya, kalau hotel itu tidak berafiliasi dengan agoda.com, dan hanya berafiliasi dengan booking.com. Saya kaget dan heran kalau tidak berafiliasi, bagaimana bisa hotel itu muncul di halaman agoda.com? Pihak hotel menjelaskan itu jadi semacam stategi marketing mereka, meminta pembayaran untuk kamar hotel secara langsung, dengan catatan jika ada tagihan kartu kredit untuk pembayaran hotel, nanti ditransfer balik.
Rasanya aneh, situs portal sebesar agoda.com punya strategi marketing seperti itu. Strategi marketing yang membuat pelanggan merasa membayar double. Strategi marketing macam apa itu? Agoda situs yang besar dan harusnya mempunyai strategi marketing lebih cerdas, sehingga tidak membingungkan pihak hotel, terlebih-lebih pihak hotel.
Mungkin saya harus mencari situs yang lebih baik, yang tidak “menjebak” pelanggannya dengan alasan strategi marketing, dan tetap bisa memberikan harga yang lebih murah tentunya.

Nb: sebetulnya saya ingin komplain langsung ke agodanya, tapi saya gak nemu link kontaknya, ada sih via telepon, tapi males ah kalo harus ngomong. Jadi saya komplain disini ajah.

Naik Naik Ke Puncak Gunung

Papandayan

Naik naik ke puncak gunung, tinggi.. tinggi sekali..

Pada tanggal 6 Juni 2015, akhirnya melakukan kegiatan yang nge-Hits-dan-kekinian, yaitu naik gunung.

Ditulis disini semata-semata untuk membagi infomasi untuk yang mau melakukan hal yang sama. Oia sebagai infomasi saya naik gunung papandayan ketinggiannya sekitar 2,6 KM, tidak terlalu tinggi, tapi lumayan untuk nyari keringat #haseeek :mrgreen:

Gunung Papandayan terletak di daerah Garut, lebih tepatnya Cikajang, jadi untuk pergi kesana dari manapun anda berada, silahkan temukan transportasi ke arah Cikajang, jika sulit menukan angkutan umum yang ke arah Cikajang, cari dulu angkutan ke arah Garut, nanti dari Garut bisa cari angkutan menuju Cikajang, dan jangan lupa minta diturunkan di gerbang menuju gunung papandayan. Untuk harga, silahkan tanya ke kenek atau supirnya, kemaren sih saya habis Rp. 50.000 untuk bisa sampai ke cikajang dari Terminal Cicaheum..

Gunung Papandayan adalah gunung berapi yang aktif, dalam perjalan menuju tempat camp, anda akan melewati kawah dengan bau belerang yang sangat tajam, jadi sangat disarankan untuk membawa masker, dan apabila anda termasuk kedalam golongan suka sesak napas, bawalah oksigen portable, oksigen dalam kaleng yang kecil dan ringan, jangan bawa oksigen dengan tabung yang besar dan berat, kecuali jika anda memaksa, dengan catatan resiko ditanggung sendiri.

Gunung Papandayan ini cocok banget sebenernya untuk pemula, karena suasana di sana seperti mall, rame, banyak orang, jadi tidak perlu takut tersesat, lalu hilang, tentu dengan perjalan yang sangat melelahkan, itu saja yang membedakan dengan Mall kebayakan. di perjalanan ke camp atau puncaknya anda akan bertemu dengan pedagang makanan dan minuman, kadang malah pedangan suvenir, jadi jika anda tidak ingin bawa beban yang terlalu berat, silahkan bawa uang yang banyak, atau minimal membawa teman yang dompetnya tebal – tebal dengan uang tentunya – sehingga anda bisa meminjam uang kepada teman anda itu, tentu dengan rasa malu yang sudah dibuang jauh, atau sudah dikurangi takarannya, dengan begitu anda tidak perlu repot membawa tas yang isinya penuh perbekalan yang akan menjadi beban selama perjalanan, jika anda memilih untuk meminjam uang teman, pinjamlah sesuai dengan kebutuhan, jangan berlebihan, karena bisa jadi teman anda akan berubah dari senang meminjamkan uang jadi senang melempar anda ke kawah papandayan,, jadi tahu diri ketika meminjam uang, itu penting. Oia jangan berpikir disana ada resto atau cafe yah, jika anda ingin makan makanan berat seperti nasi, silahkan bawa sendiri dari rumah, atau anda bisa menghilangkan rasa malu anda, lalu meminta makanan kepada pendaki lain,,, dan berharap untuk diberi.

Naik gunung memang berbeda dari kegiatan travelling lainnya, terkadang anda harus menahan ego, anda tidak bisa merengek karena kaki anda sakit, pundak anda pegal, karena semua orang merasakan hal yang sama, yang diperlukan hanyalah berjalan dan berusaha untuk mengatasi itu semua, tapi juga anda tidak bisa egois untuk meninggalkan teman kalian yang kelelahan. Sekali-sekali naik gunung memang diperlukan bukan hanya untuk melepas kepenatan, tapi juga untuk belajar untuk mengenal diri sendiri, sampai mana kemampuanmu untuk berusaha, untuk bertahan, untuk tetap tenang ketika masalah datang, sebagian orang bilang, naik gunung adalah proses belajar, termasuk belajar biologi dan fisika, bahkan mungkin kimia… 😀

Baiklah akhirnya tulisan ini harus ditutup, silahkan untuk mendaki gunung,,  gunung manapun, karena mungkin hidup kamu akan berubah, sebelum balik lagi kesemula. :mrgreen: