Sebal

Hari mulai beranjak senja, tak ada yang aku lakukan sehari ini, selain menyelesaikan pekerjaanku. Ku lihat telepon genggam yang terasa sepi hari ini, “kemana dia?” Begitu pikirku. Aku baru ingat, hari ini tak ada balasan pesan darinya, mungkin dia sedang sibuk dengan teman-temannya, membuat pesta ulang tahun untuk temannya yang lain. Kadang aku iri dengan fleksibilitas pekerjaannya, yang memungkinkan untuk melakukan hal yang lain di hari kerja, “Ah, biar sajalah, nanti juga ngabarin.” Kataku pada diri sendiri.

Dia memang makhluk yang berbeda dari yang sebelumnya, terkadang begitu dingin, tapi bisa juga menjadi sangat manis dan hangat. Cerdas dan intimidatif, tapi bisa juga membuatku merasa begitu dibutuhkan. Dia adalah makhluk kutub ekstrim dalam satu jiwa. Terlalu menarik untuk tidak didekati.

Awal pertemuan kami, terjadi di hubungan yang profesional, aku tahu dia dari sebuah event. Komunikasi awal kami hanya tentang pekerjaan, sedikit-sedikit diselangi cerita pribadi, atau lebih tepatnya wawancara pribadi. Dia adalah orang yang ntah bagaimana dapat mengorek perasaanku tentang suatu hal, dan membuatku merasa selalu aman jika harus menceritakannya, dan hal itu membuat kami menjadi lebih dekat.

Hari mulai gelap, garis senja yang ditawarkan Kota Jogja makin menghilang, kentang goreng dan segelas minumanku sudah habis pula, rasanya aku mulai sebal, “kenapa pesanku tidak dibalasnya? Baiklah, akan ku telepon saja dia.”

Komenin Atuh

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.