Mendung

Aku berjalan ke taman yang sudah lama tidak ku kunjungi, rasanya masih sama seperti dulu, hanya sedikit perubahan karena waktu. Bangku-bangku taman yang biasa aku pakai untuk duduk, sekarang sudah tidak seperti dulu, tampak rapuh, dan sedikit kotor. Aku duduk di satu bangku di dekat pohon dan lampu jalan, belum menyala karena belum terlalu sore, tapi langit sudah gelap, ada kumpulan awan gelap yang menyembunyikan matahari. Mendung..

“Aku benci mendung.” Kataku.

“Kenapa?”

“Mendung selalu membawa ingatan kesendirian untukku. Dulu, aku sering menghadapi mendung sendirian. ”

“Iya kah?”

“Hu’um.”

“Ada gak sih ingatan masa kecil kamu yang gak sedih?”

“Haha… Kenapa emang?”

“Abisnya kamu tuh kalau cerita, hampir sebagian besar sedih.”

“Haha.. Ada lah.”

“Apa misalnya?”

“Misalnya… Sekelas sama kamu dulu.”

“Kenapa emang kalau sekelas sama aku? Kamu nyapa juga gak pernah.”

“Hahaha.. Iya yah, aku hampir tidak pernah menyapamu, aku terlalu malu untuk itu.”

“Bahkan hanya untuk melempar senyum ketika melihatku?”

“Ehehe.. Iya, ngeliatin kamu aja, malunya setengah mati. Kok kamu tahu aku suka ngeliatin kamu?”

“Tahu dong, pandangan cewek tuh lebar lagi, jadi kalau ada yang ngeliatin, sebenernya kita tahu. Makanya kalau kita nyari barang yang hilang, cewek tuh lebih unggul.”

“Termasuk kalau nyari-nyari kesalahan orang?”

“Ih… Ya gak lah, aku tuh gak pernah nyari-nyari kesalahan orang yah, tapi kamunya aja susah dibilangin.”

“Hahah… Ya maaf. Dulu aku sering lho ngebayangin ngobrol lama kayak gini, saling bercanda, cerita-cerita. Kadang aku iri sama geng pintarnya kamu itu.”

“Apa sih… Geng pintar.”

“Iya kan? Yang ngumpul sama kamu tuh kan anak-anak pinter semua.”

“Itu sih kamu aja yang gak mau gabung, sombong…”

“Bukan sombong, tapi malu.. Pertama emang malu, kedua, aku ngerasa gak sepinter kalian aja gtu.”

“Dih, malesin.. Terus akhirnya kamu berani deketin aku, gimana ceritanya?”

“Eh? Aku kan gak deketin kamu, tapi kamu yang deketin aku, Hahaha…”

“Iiihhhhh apaan sih?”

“Hahaha.. Hemmmm.”

“Hemm apa?”

Gelegar petir membuyarkan lamunanku, hujan belum begitu deras, tetapi kilat sudah menyambar kesana kemari, beberapa orang mulai mencari tempat berlindung, termasuk aku.

“Aku benci mendung.” kataku lirih, tidak ada yang menanggapi. “Aku benci mendung!” Masih tak ada yang menanggapi, “Aku… Benci… Mendung…” masih saja sunyi.