Takan Ada Lagi

Hujan belum berhenti sejak sore tadi, masih mengguyur jalanan kota. Di antara mobil-mobil yang bergerak senti demi senti, aku coba bersabar, menghibur diri dengan deretan lagu yang diputar seseorang yang keberadaan mungkin tidak akan pernah aku tahu, wiper kaca mobilku masih sibuk membersihkan air yang turun dan mengganggu pandanganku.

“Nggak bisa, aku nggak bisa terus-terusan seperti ini.”

Ingatanku melayang pada suatu ketika. Suatu ketika dimana akhirnya aku harus menyerah, dan membiarkan dia pergi. Sejak saat itu, dia bukan siapa-siapa lagi untukku…. lebih tepatnya.. aku bukan siapa-siapanya lagi untuk dia… Bukan lagi tempat untuk dia bercerita, bukan lagi tempat untuk dia meminta perhatian, seraya bermanjaan, tidak akan ada lagi, sentuhan-sentuhan, dan tidak ada lagi kata-kata cinta, cumbu rayu, atau gombalan-gombalan rindu… Sekarang, aku hanya seseorang yang dia pernah kenal.

Hal yang paling menakutkan ketika ada dua hati yang memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing adalah ketika dua hati itu menjadi dua orang asing, yang tidak lagi saling merasa, bahkan tidak lagi saling mengenal,  dan rasanya semua hal yang pernah terjadi tidak menjadi apa-apa lagi. Hanya ingatan yang siap untuk dilupakan.

Pelan tapi pasti, seperti hati yang pada akhirnya akan saling mengakhiri, kemacetan mulai terurai, jalanan menjadi senggang, mobil-mobil mulai berjalan dengan kecepatan yang cukup untuk dikatakan kendaraan, dan lamunanku akhirnya harus selesai juga, aku pacu mobilku agar sampai ke rumah… rumah.. dimana aku bisa berdiam sendirian, dan melupakan semuanya.

 

Komenin Atuh

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.