Mentari Pagi

Setelah ratusan sore tanpa senja, Dia masih berjalan di setapak yang sama, dengan ingatan yang sama, memori yang sama, semua hampir sama, kecuali pada suatu hari Dia bertemu yang lain. “Mentari Pagi” katanya ketika Dia menanyakan nama seseorang yang lain itu. Mentari Pagi.. Akhirnya ada yang mampu mengalihkan perhatiannya dari Senja yang sudah pergi ntah kemana. Senyumnya mengembang lagi, Dia yang pemurung lambat laun berubah, ada setitik cahaya di matanya, mata yang telah lama kehilangan sinarnya itu, akhirnya terang lagi..

Semakin lama, dia semakin dekat dengan Mentari Pagi, obrolan-obrolan kecil yang biasa terjadi bersama senja akhirnya terjadi lagi, hangat seperti biasa… dan senyumnya, tatap matanya…. sangat mirip dengan Senja.. begitu pikirnya,, pantas ada sesuatu yang tidak asing dalam dirinya, dalam diri Mentari Pagi,,, ada sebagian Senja di dalam Mentari Pagi,,,

Suatu hari yang lain Dia berjalan sendiri di setapak yang sama, tanpa Mentari Pagi.. “Dia bukan Senja..” Dia berkata dalam hati.

Advertisements

Komenin Atuh

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s