Nyawa Kita Ada di RS

Tadi pagi ada keributan di daerah rumah, ternyata ada seorang tetangga yang meninggal. Semua orang pasti meninggal, tapi caranya itu yang biasanya jadi cerita.

Dengar cerita, Almarhum mengalami kecelakaan saat memperbaiki genting rumahnya, jatuh, dan kepalanya terbentur. Saat dibawa ke rumah sakit yang pertama, tidak mendapat penanganan apapun, dengan alasan yang bermacam-macam, akhirnya dibawa ke rumah sakit yang kedua. Katanya disana diperlakukan sama, “tidak diurus”. Padahal rumah sakit yang kedua ini, rumah sakit yang baru dibangun, harusnya mempunyai fasilitas lebih lengkap, lebih baru. Karena bangunan rumah sakit yang kedua ini sampai bertingkat-tingkat, tapi tidak bisa melakukan apapun untuk menolong seorang pasien. Akhirnya dibawa ke rumah sakit yang ketiga, disini baru dapat penanganan, sempat sadar beberapa saat lalu akhirnya meninggal.

Saya terlalu membayangkan itu terjadi pada saya atau keluarga, bagaimana bisa sebuah rumah sakit tidak memberikan pertolongan pertama pada korban, walaupun pada akhirnya tidak sanggup, dan memberikan rujukan ke RS lain. Bukan hanya satu rumah sakit, tapi dua rumah sakit, memperlakukan sama.

Apa yang terjadi dalam kejadian ini membuat saya berpikir, seandainya memang benar sebuah RS tidak bisa membantu sampai membiarkan pasien menunggu karena ketidaksiapan alat kesehatan, brati ada masalah dengan sapapun yang bertanggung jawab untuk menyediakan alat itu, apa karena letak RS yang berada di daerah pinggiran, jadi alatnya pun seadanya? Atau bagaimana?

Atau jangan-jangan karena pasien dari golongan menengah bawah? Jadi RS menolak untuk memberikan pertolongan? Kejadian ini rasanya sudah sering didengar, bahkan pemerintah bilang akan menindak tegas RS yang berlaku seperti itu.

Selama ada alasan, ntah itu masuk akal ataupun tidak, rasanya kita sulit untuk atas tindakan yang seperti itu. Lalu jika fasilitas penjamin kesehatan saja bisa berlaku seperti itu, dengan sapa lagi kita bisa percaya kalau kesehatan kita dijamin, walaupun keadaan ekonomi kita termasuk golongan menengah ke bawah? Apa perlu kita kembali ke jaman perdukunan untuk menyembuhkan penyakit karena, dibawa ke RSpun belum tentu ditolong?

Mungkin nanti ada yang mau jawab pertanyaan ini. Yang sudah selesai jawab, kumpulkan di meja guru, dan silahkan pulang.

Advertisements

Komenin Atuh

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s