Berdongeng

Jauh sebelum stasiun tipi nasional Indonesia menyiarkan acara animasi tentang anak kembar dan teman-temannya dari negeri seberang, Indonesia lebih dulu punya cerita anak seperti itu. Si Unyil nama ceritanya. Karakter yang ada dalam cerita Si Unyil, mereferentasikan keadaan Indonesia yang terdiri dari berbagai suka bangsa, dan agama. Drs. Suyadi, orang dibalik cerita Si Unyil dikabarkan meninggal tanggal 30 Oktober 2015. Saya memang tidak terlalu mengenal Si Unyil, yang saya tau si Unyil adalah anak SD, seperti anak-anak pada jamannya, suka bermain, dan kadang mencuri jambu dari pekarangan Pak Raden. Jaman sekarang Si Unyil bukan lagi cerita dongeng, melainnya pembawa acara yang lebih suka duduk depan laptopnya dan kadang jadi turis lokal.

Nasib cerita si Unyil memang sudah “kalah” sejak lama dari cerita-cerita import Jepang, sama buruknya dengan cerita seangkatannya si Komo, ciptaan Kak Seto yang ntah bagaimana, masih terlihat awet muda. Cerita Si Unyil dihentikan penayangannya tahun 1993, sedangkan Si Komo, saya bahkan gatau kapan terakhir ditayangkan. Setelah itu, rasanya tidak ada lagi dongeng untuk anak-anak yang asli dari orang Indonesia. Tampaknya kita lebih suka barang import, kalaupun ada, biasanya ceritanya terlalu dibuat-buat, dan terasa berlebihan.

Sudah sejak lama saya menjadi penggemar dongeng. Banyak sekali dongeng yang saya dengar atau baca. Beberapa malah masih nempel di kepala – mungkin kalau ada yang mau dengar, nanti saya ceritakan. Bahkan Alm Drs Suyadi atau Pak Raden, lebih saya kenal sebagai pendongeng, dengan dandan khas ningrat jawa, kumis tebal, dan suara seraknya itu. Dongeng pak Raden biasanya saya temukan kalau saya bolos mengaji. Dongeng adalah masalah imajinasi. Membiarkan hal-hal diluar logika terjadi. Saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada dongeng di dunia ini. Mungkin semua akan terlihat lurus, dan teratur, bisa jadi membosankan.

Saya tidak tahu apakah 5 atau 10 tahun lagi, kata dongeng masih bisa dengar, atau malah hilang karena tidak lagi masuk logika berpikir dan jauh berbeda dengan keadaan jaman.

Advertisements

3 thoughts on “Berdongeng”

Komenin Atuh

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s