Menikah Dengan Sendirinya

Menikah, tiga suku kata, ribuan makna.. Haseek udah kayak penulis belum sih aku? :p. Ok serius. Menikah bisa jadi adalah level tertinggi dalam tahapan hidup manusia. Sebagai manusia, kita akan mengalami beberapa tahapan dalam hidup ini, mulai dari lahir, bisa merangkat, bisa berjalan, bisa berbicara, masuk sekolah, naik kelas, lulus sekolah, dapat kerja, dan terakhir menikah, di antara tahapan-tahapan itu, ada tahapan itu ada tahapan bonus yaitu pacaran, dan tunangan… Dan mungkin untuk sebagian orang ada yang melalui tahapan susah move on, dan jomblo bertahun-tahun… Ok kembali ke soal pernikahan.
Menikah bagi saya dibagi beberapa jenis. Jenis yang pertama adalah pernikahan idaman, pernikahan ini adalah pernikahan yang paling normal, karena dalam pernikahan ini tidak ada campur tangan orang lain dalam pemilihan pasangan.
Jenis yang kedua adalah pernikahan yang diatur, dalam jenis ini ada campur tangan orang lain – biasanya orang tua – dalam menentukan pasangan, tetapi tidak bersifat memaksa. Biasanya pernikahan jenis ini dilakukan ketika orang tua melihat anaknya susah dapat pasangan, bisa jadi karena susah move on atau…. Karena gada yang mau. Dan jika si anak menerima itu bisa jadi karena memang merasa cocok atau tunduk kedalam kepasrahan level “ya udahalah, daripada gada”.
Jenis yang yang terakhir adalahnya jenis yang dipaksakan, jenis ini adalah jenis pernikahan yang paling jahat, dalam jenis ini seseorang dipaksa untuk menikahi seseorang yang tidak diinginkannya, dan rasanya saya ingin memasukan jenis ini kedalam kategori kejahatan, selevel dengan memasukan orang ke penjara, tanpa diadili. Kenapa saya beranggapan seperti itu? Nanti saya jelaskan.
Setelah saya meng-upgrade hubungan level bonus, dan untuk pertama kali saya diajak keacara keluarga besarnya dia. Saya sadar, menikah bukan hanya hubungan antar dua orang, tapi juga dua keluarga. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya berada dalam keluarga yang tidak saya inginkan, dan duduk di samping orang yang tidak saya suka, apalagi jika harus hidup bersama bertahun-tahun. Itu kenapa pernikahan yang dipaksakan termasuk kejahatan. Ada kalanya, orang tua melarang anaknya menikah dengan seseorang, itupun karena alasan tertentu, misalnya si calon mantu terlihat tidak begitu baik, atau terlihat tidak telihat begitu kaya, atau mungkin si calon mantu terlihat begitu kuleuheu karena jarang mandi. Tapi jika memaksa untuk menikahi seseorang apapun alasannya itu jahat, menempatkan seseorang kedalam lingkungan yang tidak disukainya adalah tidak lebih baik daripada membuang para tapol ke pulau Boru.
Hidup itu susah sulit, maka dari itu kita perlu seseorang yang membuat kita nyaman.
Btw.. Itu kenapa ya judulnya menikah dengan sendirinya? Emang ada menikah dengan berduanya? Atau bertiganya? Atau beramai-ramai? Hah.. Aneh.. Menikah dengan sendirinya… Judul macam apa itu?

Advertisements

3 thoughts on “Menikah Dengan Sendirinya”

Komenin Atuh

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s